Ancaman Krisis Energi Global di Depan Mata, Harga Minyak Bisa Tembus Rp2,5 Juta per Barel

Ilustrasi krisis minyak
Ilustrasi krisis minyak

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut membuat pelaku pasar khawatir terhadap kelangsungan pasokan minyak dan gas dunia.

Wilayah Timur Tengah selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia. Gangguan kecil saja pada rantai pasok energi di kawasan ini dapat memicu lonjakan harga minyak global. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri energi, tetapi juga oleh masyarakat luas melalui kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga harga pangan dan barang impor.

Kekhawatiran tersebut meningkat setelah Menteri Energi Qatar memperingatkan potensi penghentian produksi energi di kawasan Teluk dalam waktu dekat jika konflik terus berlanjut.

Harga minyak mentah Brent pun langsung melonjak lebih dari 9 persen pada Jumat kemarin. Harga tersebut menembus US$93 per barel atau setara sekitar Rp1.562.400 (asumsi kurs Rp16.800). Angka ini menjadi level tertinggi sejak musim gugur 2023 atau lebih dari dua tahun terakhir.

Peringatan keras datang dari Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi yang menilai konflik di Timur Tengah berpotensi mengguncang perekonomian global.

Ia mengatakan jika perang terus berlangsung selama beberapa minggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. "Jika perang ini berlanjut selama beberapa minggu, pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terdampak," ujarnya, seperti dikutip dari BBC, Minggu, 8 Maret 2026.

"Harga energi semua orang akan meningkat. Akan ada kekurangan beberapa produk dan akan terjadi reaksi berantai dari pabrik-pabrik yang tidak dapat memasok," sambungnya. 

Menurutnya, jika konflik dengan Iran terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan, harga minyak dunia bahkan berpotensi melonjak hingga US$150 per barel atau setara sekitar Rp2.520.000.

Kenaikan harga minyak biasanya memiliki efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi. Selain meningkatkan biaya bahan bakar kendaraan, harga energi yang tinggi juga dapat memicu kenaikan biaya produksi, transportasi, dan distribusi barang.

Beberapa negara bahkan mulai merasakan dampaknya. Di Inggris misalnya, harga bensin dan solar dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir dan mencapai level tertinggi dalam 16 bulan.

Para analis menilai situasi saat ini berpotensi menimbulkan tekanan serius terhadap ekonomi global, terutama jika konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Analis dari Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan dunia saat ini berada dalam fase ketidakpastian yang menentukan arah krisis energi global. "Saya pikir kita berada di ambang mencoba memahami apakah ini hanya krisis energi yang sangat singkat dengan implikasi terbatas, atau apakah kita berada di awal dari krisis ekonomi dan energi yang besar," katanya.

"Jika ini berlangsung lebih dari dua minggu, maka kemungkinan melihat dampak yang sangat signifikan terhadap sistem energi dan prospek makroekonomi global akan jauh lebih tinggi," jelasnya. Pl l

Qatar sendiri merupakan salah satu produsen utama minyak dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) di dunia. Perusahaan energi milik negara, QatarEnergy, bahkan dilaporkan telah menghentikan produksi LNG setelah fasilitasnya terkena serangan militer.

Perusahaan tersebut juga menyatakan kondisi force majeure, yakni situasi yang membebaskan perusahaan dari kewajiban pengiriman karena peristiwa di luar kendali mereka.

Saad al-Kaabi yang juga menjabat sebagai CEO QatarEnergy memperkirakan negara-negara pengekspor energi lainnya di kawasan Teluk mungkin akan menghadapi kondisi serupa dalam beberapa hari ke depan jika konflik tidak mereda.

Bahkan jika perang berhenti saat ini, ia memperingatkan bahwa produksi energi tidak akan langsung pulih.

Di sisi lain, jalur pelayaran energi global juga ikut terdampak. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya dikirim melalui Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi rute vital perdagangan minyak internasional.

Namun sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, lalu lintas kapal di jalur tersebut hampir berhenti sepenuhnya. Jika jalur ini benar-benar terganggu dalam waktu lama, dampaknya bisa sangat luas. 

Negara-negara pengimpor minyak terbesar seperti China, India, dan Jepang akan menghadapi tekanan pasokan energi yang signifikan. Para analis juga memperingatkan bahwa semakin lama ancaman terhadap kapal di Selat Hormuz berlangsung, semakin tinggi pula harga minyak dan biaya pengiriman energi.

Jika ekspor minyak dari negara-negara Teluk terhenti, mereka harus menyimpan produksi minyak dalam tangki penyimpanan. Namun kapasitas penyimpanan terbatas membuat produksi akhirnya harus dihentikan jika tangki sudah penuh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam kondisi tersebut, harga minyak dunia berpotensi menembus US$100 per barel atau setara sekitar Rp1.680.000. Jika situasi ini benar-benar terjadi, pemerintah di berbagai negara kemungkinan akan kembali mengeluarkan cadangan minyak strategis mereka, seperti yang pernah dilakukan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Meski skenario penghentian total produksi energi di kawasan Teluk masih dianggap ekstrem, para analis menilai risiko krisis energi global tetap meningkat seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah.