Krisis Energi Global Belum Usai, 10 Persen Pasokan Minyak Dunia Masih Hilang
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Meski gencatan senjata mulai diberlakukan, proses pemulihan pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia diperkirakan tidak akan berjalan cepat.
Dampak serangan terhadap infrastruktur energi membuat distribusi energi dunia tersendat dan berpotensi memicu harga bahan bakar tetap tinggi dalam waktu lama.
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi langkah awal yang krusial untuk menghidupkan kembali arus energi global. Namun, langkah ini hanyalah permulaan dari proses panjang yang kompleks.
Hal ini lantaran serangan yang terjadi selama konflik telah menyasar puluhan kilang, fasilitas penyimpanan, serta ladang minyak dan gas di sedikitnya sembilan negara, mulai dari Iran hingga Uni Emirat Arab. Secara total, lebih dari 10 persen pasokan minyak dunia sempat terhenti.
Seorang eksekutif energi, Martin Houston, menegaskan bahwa pemulihan tidak sesederhana menyalakan kembali sistem. “Ini bukan kasus di mana Anda hanya menekan tombol dan semuanya kembali berjalan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The New York Times, Kamis, 9 April 2026.
Meski Iran telah menyepakati jalur aman bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, aktivitas pelayaran belum sepenuhnya pulih. Ketidakpastian keamanan membuat perusahaan energi masih berhati-hati untuk kembali beroperasi normal.
Di sisi lain, serangan terhadap fasilitas energi masih terjadi menjelang gencatan senjata, memperparah kerusakan yang belum sepenuhnya terdata. Dalam jangka pendek, perusahaan kemungkinan akan memprioritaskan distribusi cadangan minyak yang tersimpan di tangki penyimpanan.
Setelah itu, sebagian sumur minyak mungkin dapat kembali beroperasi dalam hitungan hari atau minggu. Namun, pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk infrastruktur yang mengalami kerusakan berat.
Dampak ini juga dirasakan langsung oleh konsumen. Harga bensin di Amerika Serikat sempat melampaui US$4 per galon atau setara Rp68.000, dan diperkirakan tidak akan kembali ke level sebelum perang dalam waktu dekat.
Meski harga minyak global sempat turun, penggunaan cadangan energi membuat harga tetap cenderung tinggi selama konflik berlangsung. Selain itu, sumur minyak yang ditutup memiliki tantangan teknis tersendiri saat akan diaktifkan kembali. Tekanan bawah tanah bisa berubah, air dapat masuk ke dalam sumur, hingga risiko korosi akibat paparan gas beracun seperti hidrogen sulfida. Kondisi ini membuat proses restart menjadi lebih rumit dan mahal.
Kuwait, salah satu produsen minyak terbesar dunia, sebelumnya optimistis dapat memulihkan sebagian produksi dalam beberapa hari setelah konflik berakhir. Kepala eksekutif Kuwait Petroleum, Sheikh Nawaf Al Sabah, mengatakan, pihaknya dapat mengeluarkan cukup banyak produksi dalam beberapa hari.
“Produksi penuh akan tercapai dalam tiga atau empat bulan,” ungkapnya.
Sementara itu, kerusakan signifikan terjadi di fasilitas gas alam cair di Ras Laffan, Qatar. Sekitar 17 persen kapasitas fasilitas tersebut lumpuh akibat serangan rudal. Untuk bagian yang tidak rusak, proses pemulihan diperkirakan memakan waktu beberapa minggu hingga bulan.
Namun, bagian yang hancur membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki karena peralatan yang digunakan bersifat khusus dan kompleks.
Masalah lain yang memperlambat pemulihan adalah rantai pasok global. Permintaan tinggi terhadap peralatan energi, terutama akibat pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan, membuat komponen penting seperti turbin gas sulit diperoleh dalam waktu cepat. Bahkan, satu komponen kritis bisa memiliki waktu pengiriman hingga dua tahun.
Dalam jangka panjang, analis memperkirakan harga energi global memang akan turun dari level saat perang. Namun, harganya tetap lebih tinggi dibandingkan kondisi normal tanpa konflik.
Bank asal Prancis, Société Générale, memperkirakan harga minyak akan berada di kisaran US$80 per barel atau setara Rp1.360.000 pada akhir 2026, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar US$65 atau sekitar Rp1.105.000.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun konflik mereda, dampak terhadap sistem energi global tidak akan hilang begitu saja. Pasar energi akan terus dibayangi risiko geopolitik, yang membuat pemulihan menjadi lebih lambat dan penuh ketidakpastian.