Pasar Energi Waspada Konflik Iran vs Israel-AS, Harga Minyak dan Gas Diprediksi Naik dalam Waktu Dekat

Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran
Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran

Konflik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Salah satu titik yang paling disorot adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pengiriman minyak dunia, yang ditutup oleh Iran. 

Sejak serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran dimulai, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut dilaporkan melambat drastis. Jika jalur ini tertutup lebih lama, para analis memperingatkan dampaknya bisa sangat besar bagi ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak dan bahan bakar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran minyak raksasa dengan panjang sekitar 100 mil dan lebar hanya sekitar 21 mil. Jalur sempit ini berada di antara Iran dan Uni Emirat Arab dan menjadi salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi dunia. 

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur pengiriman minyak paling kritis di dunia. Banyak kapal tanker yang membawa minyak dari kawasan Timur Tengah menuju berbagai negara melewati jalur ini setiap hari.

Gangguan di wilayah tersebut berpotensi langsung memengaruhi pasokan energi global. Jika pengiriman minyak dari Timur Tengah terganggu dalam waktu lama, harga minyak dunia bisa melonjak drastis.

Profesor Seth Blumsack dari Penn State Center for Energy and Law mengatakan situasi tersebut bisa memicu kenaikan harga minyak dalam waktu relatif singkat. “Jika pengiriman dari Timur Tengah ini terganggu dalam waktu lama, kita bisa melihat minyak seharga seratus dolar, seperti seratus dolar per barel, dalam waktu yang tidak terlalu lama,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Fox KTVU, Kamis, 5 Maret 2026.

Saat ini, harga minyak mentah sudah mulai menunjukkan kenaikan. Pada Rabu, harga minyak tercatat sekitar US$76 per barel atau setara Rp1.276.800 per barel, naik sekitar US$15 per barel atau setara Rp252.000 dibandingkan pertengahan Februari. 

Meskipun sebagian besar minyak yang digunakan AS tidak berasal dari kapal yang melewati Selat Hormuz, penutupan jalur ini tetap bisa berdampak luas. Hal ini karena sekitar 20 perse pasokan minyak dunia melewati selat tersebut. Jika jalur itu tertutup, banyak negara akan kesulitan mendapatkan pasokan energi, sehingga harga minyak global berpotensi melonjak.

Karena minyak diperdagangkan di pasar internasional, kenaikan harga minyak mentah akan ikut mendorong naik harga bensin dan bahan bakar lainnya di berbagai negara. Gubernur California Gavin Newsom menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak mentah memiliki dampak langsung terhadap harga bahan bakar.

“Harga energi naik di seluruh dunia, harga minyak naik, harga bensin juga naik. Setiap kenaikan US$10 per barel kira-kira berarti Anda akan membayar sekitar 24 sen lebih mahal per galon,” katanya.

Beberapa analis bahkan memprediksi harga minyak bisa mencapai US$130 per barel atau sekitar Rp2.184.000 per barel jika konflik semakin meluas. Jika skenario ini terjadi, harga bensin bisa kembali melonjak sekitar 60 sen atau Rp10 ribu per galon.

Di wilayah Bay Area, California, harga bensin reguler yang saat ini rata-rata US$4,83 per galon atau sekitar Rp81.144 berpotensi naik menjadi sekitar US$6,03 per galon atau sekitar Rp101.304.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terkait ini, Presiden Donald Trump menilai kenaikan harga energi hanya bersifat sementara dan akan turun setelah konflik berakhir. “Begitu ini berakhir, harga-harga itu akan turun,” kata Trump percaya diri. 

Para ekonom juga mengingatkan bahwa kenaikan harga bahan bakar tidak hanya memengaruhi sektor transportasi. Harga energi yang lebih tinggi biasanya ikut mendorong inflasi karena meningkatkan biaya produksi dan distribusi barang di berbagai sektor ekonomi. Jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara pengimpor minyak, tetapi juga oleh ekonomi global secara keseluruhan.