Sulit Hindari Makanan Olahan? Ini Tips Memilih dan Atur Porsinya

makanan olahan, mencegah obesitas, pangan olahan, Sulit Hindari Makanan Olahan? Ini Tips Memilih dan Atur Porsinya, Perhatikan Label Gizi dan Komposisi, Atur Porsi dan Frekuensi Konsumsi, Pilih Produk dengan Komposisi Seimbang, BTP pada Makanan Olahan Aman Dikonsumsi, Edukasi Konsumen Jadi Kunci

Konsumsi pangan olahan atau makanan olahan kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas. 

Padahal, di tengah gaya hidup modern, makanan olahan sulit dihindari sehingga masyarakat perlu mengetahui cara memilih produk yang tepat agar tidak memicu kenaikan berat badan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan bahwa salah satu langkah penting untuk mencegah obesitas adalah dengan memperhatikan pola konsumsi, termasuk saat memilih makanan olahan.

“Sebagian besar asupan kalori harian masyarakat sebenarnya masih berasal dari pangan olahan dan siap saji. Karena itu, yang terpenting adalah menerapkan pola makan seimbang, memperhatikan porsi, serta menghindari konsumsi berlebihan,” ujarnya saat Media Briefing “Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas” di Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).

Ia menambahkan, masyarakat juga perlu memahami informasi nilai gizi serta komposisi yang tercantum pada kemasan agar dapat memilih makanan olahan dengan lebih bijak.

Dengan begitu, makanan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu menekan risiko obesitas, bukan sebaliknya.

Perhatikan Label Gizi dan Komposisi

Salah satu cara paling penting dalam memilih makanan olahan adalah membaca label nilai gizi dan komposisi pada kemasan.

Informasi tersebut memuat kandungan gula, garam, dan lemak yang dapat membantu konsumen memperkirakan jumlah kalori yang dikonsumsi.

Dengan memahami label gizi, masyarakat dapat memilih produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh sekaligus menghindari asupan kalori berlebih yang berisiko memicu obesitas.

Atur Porsi dan Frekuensi Konsumsi

Selain memperhatikan kandungan gizi, porsi dan frekuensi konsumsi juga perlu dijaga.

Mengonsumsi makanan olahan secara berlebihan tetap dapat meningkatkan risiko obesitas, meskipun produk tersebut aman dikonsumsi.

Oleh sebab itu, penting untuk mengatur jumlah konsumsi serta tidak menjadikan makanan olahan sebagai satu-satunya sumber makanan sehari-hari.

Pilih Produk dengan Komposisi Seimbang

Perkembangan teknologi pangan juga mendorong industri untuk melakukan reformulasi produk, misalnya dengan mengurangi kandungan gula, garam, dan lemak.

Produk dengan komposisi yang lebih seimbang dapat menjadi pilihan yang lebih baik bagi konsumen yang ingin menjaga berat badan.

Dengan memperhatikan komposisi produk, masyarakat dapat tetap mengonsumsi makanan olahan tanpa meningkatkan risiko obesitas secara berlebihan.

BTP pada Makanan Olahan Aman Dikonsumsi

Di sisi lain, Direktur SEAFAST Center IPB, dr. Puspo Edi Giriwono, STP., M.Agr., menjelaskan bahwa bahan tambahan pangan (BTP) yang tercantum pada kemasan sebenarnya telah melalui berbagai kajian keamanan.

“Bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan digunakan untuk menghasilkan produk yang baik dan telah melalui kajian keamanan serta batas aman konsumsi sehingga aman dikonsumsi sesuai ketentuan,” jelasnya.

Menurutnya, makanan olahan pada dasarnya diproduksi melalui proses berbasis sains dan teknologi untuk menjaga keamanan, mutu, serta masa simpan produk.

Edukasi Konsumen Jadi Kunci

Dr. Puspo menekankan bahwa edukasi masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya menekan risiko obesitas.

Dengan memahami proses pengolahan makanan serta informasi yang tercantum pada kemasan, masyarakat dapat memilih makanan secara lebih bijak.

“Edukasi publik menjadi kunci penting untuk menurunkan risiko obesitas tanpa harus membatasi akses pangan,” ujarnya.

Dengan pemahaman yang tepat, makanan olahan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari tanpa meningkatkan risiko obesitas secara berlebihan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang