Jangan Kalap Makan All You Can Eat Saat Lebaran, Waspadai Bahaya Serius pada Lambung

Budaya makan sepuasnya atau all you can eat (AYCE) telah menjadi tren gaya hidup yang sangat populer di Indonesia, biasanya dilakukan untuk menutup akhir Ramadhan atau saat Lebaran.
Namun hati-hati, di balik kenikmatan menyantap beragam hidangan tanpa batas, terdapat risiko medis serius yang mengintai, jika seseorang tidak memahami kapasitas biologis organ pencernaannya.
Batas Fisiologis Lambung Manusia
Spesialis Gastroenterologi dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, KGEH, MMB, FINASIM mengingatkan, lambung manusia bukanlah kantong tanpa batas. Secara fisiologis, lambung memiliki kapasitas yang cukup ketat untuk dapat bekerja secara optimal.
“Idealnya kapasitas lambung manusia berada pada kisaran 600 hingga 800 cc. Meskipun organ ini bersifat elastis dan dapat meregang hingga dua kali lipat, memaksanya bekerja pada batas maksimal secara mendadak dapat memicu malapetaka medis,” jelasnya saat ditemui di acara Media Gathering Primaya Hospital di The Club at XXI Djakarta, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Risiko Dilatasi dan Gangguan Katup Lambung
Menurut Prof. Ari, masalah utama dari sistem makan All You Can Eat, terutama dengan banyaknya sajian daging merah dan makanan berlemak, bisa membuat beban kerja pencernaan menjadi sangat berat.
Penumpukan makanan yang berlebihan dalam waktu singkat dapat menyebabkan dilatasi atau pelebaran lambung secara tiba-tiba.
Kondisi ini diperparah dengan mekanisme katup lambung atau Lower Esophageal Sphincter (LES).
"Klepnya itu kan kecil, jadi pasti turunnya kan enggak mungkin cepat. Akhirnya yang terjadi adalah (makanan) naik lagi ke atas yang lebih gampang," paparnya.
Ketika makanan tidak bisa turun dengan cepat ke usus, tekanan di dalam lambung akan meningkat secara drastis.
Hal inilah yang menjadi pemicu utama penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), di mana asam lambung berbalik naik ke kerongkongan.
Jangan Abaikan Rasa Begah
Masalah lain, banyak orang menganggap rasa begah setelah makan besar adalah hal wajar. Padahal, jika rasa begah tersebut disertai dengan ketidakmampuan untuk muntah, kondisi tersebut dapat berubah menjadi situasi darurat medis.
Penderita akan merasakan sesak napas yang hebat dan jantung berdebar-debar, karena lambung yang terlalu penuh menekan organ di sekitarnya.
"Kalau mengalami kondisi itu, makan all you can eat tiba-tiba perutnya begah, mau muntah tapi enggak bisa muntah, segera ke rumah sakit. Nanti akan dipasang selang oleh dokter rumah untuk mengeluarkan cairan atau gasnya dari lambung," jelas Prof. Ari.
Menikmati Makanan dengan Bijak
Namun demikian, menurut Prof. Ari sah-sah saja menikmati makanan all you can eat, asalkan menikmatinya dengan cara tepat tanpa mengorbannkankesehatan.
“Diperlukan strategi makan yang cerdas. Salah satu kuncinya adalah kecepatan makan dan teknik mengunyah. Dengan kita mengunyah lebih lama, itu sebenarnya mengurangi nafsu makan juga, karena dengan begitu akan memberikan pesan kepada otak agar kita mengurangi makan," pungkasnya.
Selain mengunyah lebih lama, ia juga menyarankan untuk mengambil porsi kecil secara bertahap dan tidak terjebak dalam mentalitas "balas dendam" makan sepuasnya, agar tidak melampaui batas kemampuan lambung.
Terpenting, menjaga kesehatan pencernaan jauh lebih berharga daripada kepuasan sesaat di meja makan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang