Apa Itu Tradisi Buk-buk Teng? Ritual Pencarian Orang Hilang di Ponorogo yang Viral di Media Sosial

Pencarian seorang remaja berinisial AS (14), warga Dukuh Gupit, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, berakhir duka. Korban yang dilaporkan hilang sejak Jumat (6/2/2026) ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di dalam sebuah sumur tua pada Minggu (8/2/2026).
Penemuan jasad pelajar SMP tersebut bermula ketika warga setempat menggelar tradisi buk-buk teng, sebuah metode pencarian orang hilang dengan menciptakan suara gaduh menggunakan peralatan dapur dan benda logam.
Mengenal Tradisi Buk-buk Teng
Tradisi buk-buk teng merupakan warisan turun-temurun di wilayah Ponorogo. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk gotong royong saat ada warga yang hilang, terutama jika kejadian tersebut diduga berkaitan dengan hal supranatural.
Warga akan berkeliling sambil memukul kentongan atau alat dapur secara terus-menerus untuk menciptakan keriuhan. Hal ini dipercaya dapat mengganggu "penunggu" kawasan tersebut agar melepaskan orang yang disembunyikan.
Sekretaris Desa (Sekdes) Bulu Lor, Siti Maryam, menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah pencarian mandiri tidak membuahkan hasil.
"Berdasarkan adat desa sini, dilakukan buk-buk teng. Harapannya, kalau memang (anak tersebut) dibawa oleh makhluk halus, penunggunya akan merasa terganggu atau 'berjoget' karena suara gaduh itu, sehingga anaknya segera dilepaskan," ujar Siti, Minggu (8/2/2026).
Kronologi Hilangnya Korban
Berdasarkan informasi yang dihimpun, AS terakhir kali terlihat meninggalkan rumah pada Jumat sekitar pukul 11.00 WIB selepas pulang sekolah. Saat itu, ia sempat berganti pakaian mengenakan kaus olahraga SMP Negeri 1 Jambon dan celana panjang biru dongker.
Korban pergi dari rumah tanpa pamit dan tanpa mengenakan alas kaki. Karena tak kunjung kembali hingga Sabtu, pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
"Kami laporan karena pencarian mandiri tak membuahkan hasil," ungkap Kepala Desa Bulu Lor, Agus Siswanto.
Penemuan Jasad di Sumur Tua
Titik terang pencarian muncul saat warga melakukan tradisi buk-buk teng di sekitar Kawasan Midodareni yang berdekatan dengan hutan dan pegunungan.
Saat menyisir area di sebelah utara rumah korban yang berjarak sekitar 100 meter, warga mencium aroma menyengat dari sebuah sumur tua.
Pamapta I Polres Ponorogo, Ipda John Anderson Batara Aryasena, mengonfirmasi penemuan tersebut.
“Kami mendapatkan laporan awal bahwa ada mayat ditemukan di dalam sumur di Dukuh Gupit. Salah satu warga mencoba melihat di dalam sumur menggunakan senter dan melihat korban posisi sudah dalam keadaan mengapung," jelas Ipda John, Senin (9/2/2026).
Evakuasi Dramatis Sedalam 40 Meter
Proses evakuasi jasad korban berlangsung dramatis dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Mengingat kedalaman sumur yang mencapai 40 meter, BPBD Ponorogo harus berkoordinasi dengan Tim Basarnas Trenggalek untuk mengerahkan alat khusus.
Petugas juga harus melakukan pengurasan udara di dalam sumur karena aroma busuk yang menyengat serta kendala teknis saat mengangkat jenazah.
“Memerlukan waktu sekitar 30 menit lebih. Kendalanya karena sumur dalam, sehingga membutuhkan alat khusus. Petugas terkadang tidak kuat dan harus mengulang dari awal,” ungkap Ndaru Tim Basarnas Trenggalek, Fitra A Chasanda.
Setelah berhasil dievakuasi, jenazah AS langsung dibawa ke RSUD dr Harjono Ponorogo untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh Satreskrim Polres Ponorogo.
Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Pelajar Ponorogo Ditemukan Tewas di Sumur Tua Sedalam 40 Meter, Alat Khusus Dikerahkan
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang