Fenomena Unik: Puasa Murmansk Hanya 1 Jam? Begini Faktanya

durasi puasa, Fenomena Unik: Puasa Murmansk Hanya 1 Jam? Begini Faktanya

 Murmansk, sebuah kota di Rusia ini hanya puasa 1 jam! Narasi tersebut viral di media sosial dan langsung memicu rasa penasaran warganet.

Banyak yang tak percaya, sebagian lainnya mempertanyakan bagaimana mungkin umat Muslim hanya menahan lapar dan haus selama satu jam saat Ramadan.

Viral di media sosial Murmansk kota di Rusia hanya 1 jam.

Dikutip dari Kompas.com (14/04/2025), fenomena ini berkaitan dengan letak geografis Murmansk yang berada di atas Lingkar Arktik.

Posisi tersebut membuat kota ini mengalami perbedaan durasi siang dan malam yang ekstrem, sehingga waktu terbit dan terbenam matahari—penentu awal dan akhir puasa—bisa sangat singkat pada periode tertentu.

Kota di Lingkar Arktik

Murmansk merupakan kota di Rusia yang terletak di atas Lingkar Arktik.

Secara geografis, wilayah ini mengalami fenomena alam ekstrem seperti midnight sun (matahari tengah malam) pada musim panas dan polar night (malam kutub) pada musim dingin.

Akibat posisi tersebut, durasi siang dan malam di Murmansk bisa sangat panjang atau sangat pendek, tergantung musimnya.

Hal inilah yang kemudian memengaruhi waktu terbit dan terbenamnya matahari—dua penanda utama dalam menentukan waktu puasa Ramadan.

Kenapa bisa hanya satu jam?

Dalam kondisi tertentu, terutama mendekati pergantian musim, selisih antara terbit fajar dan terbenam matahari bisa sangat singkat.

Inilah yang memunculkan klaim bahwa durasi puasa di Murmansk hanya sekitar satu jam.

Namun, praktik ibadah di wilayah dengan kondisi ekstrem seperti ini biasanya mengikuti ketentuan khusus.

Umat Muslim di daerah kutub dapat mengikuti waktu negara terdekat dengan durasi siang-malam normal atau merujuk pada jadwal Mekkah.

Artinya, durasi puasa satu jam bukanlah kondisi yang berlangsung sepanjang Ramadan, melainkan fenomena astronomis yang terjadi pada periode tertentu.

Mengapa durasi puasa berbeda di tiap negara?

Perbedaan durasi puasa antarnegara terjadi karena posisi geografis terhadap garis khatulistiwa dan kutub.

Negara yang berada dekat ekuator umumnya memiliki durasi siang dan malam yang relatif stabil sepanjang tahun, sekitar 12 jam.

Sebaliknya, semakin jauh dari ekuator menuju kutub, perbedaan panjang siang dan malam akan semakin ekstrem.

Saat Ramadan jatuh pada musim panas di belahan bumi utara, negara-negara di Eropa dan wilayah Arktik bisa mengalami puasa sangat panjang.

Sebaliknya, ketika Ramadan terjadi di musim dingin, durasinya bisa jauh lebih singkat.

Fenomena di Murmansk menjadi contoh bagaimana letak geografis memengaruhi waktu ibadah.

Meski terdengar tak masuk akal, secara ilmiah hal tersebut berkaitan erat dengan rotasi dan kemiringan sumbu bumi terhadap matahari.

Viralnya kabar puasa satu jam di Murmansk menunjukkan betapa uniknya praktik Ramadan di berbagai belahan dunia.

Namun, di balik keunikannya, ada penjelasan ilmiah dan ketentuan fikih yang menjadi pedoman bagi umat Muslim di wilayah ekstrem.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang