Kota Ini Punya Bulan Puasa yang Unik, Setiap Hari Tanpa Malam

fenomena unik, Kota Ini Punya Bulan Puasa yang Unik, Setiap Hari Tanpa Malam

 Umat Muslim yang berada di sekitar Midnight Sun Mosque di kawasan Arktik Kanada menjalani ibadah puasa Ramadan mengalami fenomena unik.

Mereka berpuasa di bawah matahari tengah malam, fenomena tersebut merupakan fenomena matahari tetap bersinar hampir sepanjang hari tanpa adanya jeda gelap yang jelas.

Laporan ini dilansir dari Daily Sabah, Kota Inuvik menerima sinar matahari selama 24 jam penuh lebih dari 50 hari dalam setahun.

Sebaliknya, wilayah ini juga mengalami malam kutub—periode tanpa sinar matahari langsung—sekitar 30 hari setiap tahunnya.

Siklus ekstrem ini membuat pergantian terang dan gelap tidak berlangsung secara normal.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pelaksanaan ibadah Ramadan, yang secara tradisional dimulai dari waktu fajar hingga maghrib.

Tanpa matahari terbit dan terbenam yang jelas, penentuan waktu puasa menjadi tantangan tersendiri bagi umat muslim di Inuvik.

Imam setempat, Saleh Hasabelnabi, mengaku bahwa ini merupakan pengalaman pertamanya menghadapi musim panas di Inuvik.

“Pertama kali itu seperti kejutan. Aku tidak percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku berdoa lima kali, matahari masih bersinar,” ujarnya.

Untuk mengatasi situasi tersebut, komunitas Muslim setempat mengikuti waktu Mekkah sebagai acuan jadwal puasa dan salat.

Langkah tersebut diambil agar ibadah tetap dapat dijalankan secara teratur meski kondisi alam tidak memungkinkan. 

Masjid yang dikenal sebagai “Little Mosque on the Tundra” itu menjadi pusat kegiatan umat muslim di Inuvik, terdapat sekitar 100–120 Muslim di kawasan tersebut.

Di sana, mereka berkumpul untuk berbuka puasa (iftar) bersama, menyantap hidangan rumahan seperti masakan khas Sudan, sekaligus mempererat kebersamaan di tengah lanskap Tundra yang luas dan suhu yang bisa sangat rendah.

Mohamed Asad Behrawar, salah satu jemaat, mengatakan penyesuaian terhadap fenomena unik ini bukanlah hal yang mudah. 

“Ini pengalaman yang berbeda,” ujarnya. Meski sebelumnya pernah tinggal di Edmonton, Alberta—yang juga memiliki durasi siang panjang saat musim panas—kondisi di Inuvik ini tetap terasa lebih menantang.

Sementara itu, Abadallah el-Bekai, warga berusia 75 tahun asal Palestina yang telah menetap di Inuvik selama 25 tahun, menilai bahwa Ramadan di wilayah Arktik memberi dimensi spiritual tersendiri.

Menurutnya, lingkungan yang terpencil dan kondisi alam yang ekstrem justru memperkuat rasa syukur serta solidaritas di antara anggota komunitas kecil tersebut.

Pengalaman Ramadan di bawah matahari tengah malam ini memperlihatkan bagaimana umat Muslim di berbagai penjuru dunia menyesuaikan praktik keagamaan dengan realitas geografis masing-masing.

Di Inuvik, adaptasi bukan hanya soal teknis penentuan waktu, tetapi juga tentang menjaga makna spiritual di tengah terang yang nyaris tak pernah padam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang