Mengenal Mersinan, Tradisi Unik Masyarakat Sasak Mataram Menjelang Bulan Puasa

Mersinan, Mataram, Mengenal Mersinan, Tradisi Unik Masyarakat Sasak Mataram Menjelang Bulan Puasa

Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat di Lingkungan Bertais, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai memadati surau dan musala untuk melaksanakan tradisi "Mersinan".

Tradisi turun-temurun ini merupakan rangkaian persiapan spiritual dan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pengurus RT, tokoh agama, hingga pemuda setempat.

Rangkaian Kegiatan Spiritual

Lurah Bertais, Hafizuddin, menjelaskan bahwa Mersinan bukan sekadar berkumpul biasa, melainkan momentum bagi warga untuk membersihkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan puasa.

Kegiatan ini biasanya mulai digelar satu minggu sebelum Ramadan dan mencapai puncaknya pada H-1 sebelum pelaksanaan ibadah puasa dimulai.

"Satu minggu sebelum bulan Ramadan itu kita bersama RT, masyarakat di masing-masing lingkungan melaksanakan pengajian bersama tokoh agama dan pemuda. Di tradisi Mersinan ini kita gelar zikir bersama, doa bersama, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif," ujar Hafizuddin saat dikonfirmasi, Selasa (17/2/2026).

Melibatkan Tuan Guru dan Tokoh Agama

Dalam pelaksanaannya, warga mengundang tokoh agama atau yang akrab disapa Tuan Guru dalam bahasa Sasak. Para Tuan Guru ini hadir untuk memberikan ceramah serta pidato keagamaan guna mempertebal keimanan warga.

Berbeda dengan acara besar yang biasanya terpusat di satu titik, Hafizuddin menekankan bahwa keunikan Mersinan terletak pada sifatnya yang mandiri dan tersebar di tiap lingkungan kecil.

"Dia tidak kolektif. Masing-masing surau, masing-masing musala dilaksanakan," jelasnya.

Antusiasme Merata di Tingkat RT

Hal ini mencerminkan antusiasme yang tinggi dari warga Bertais. Setiap pengurus RT secara mandiri mengorganisir kegiatan, baik yang bertempat di rumah warga maupun di tempat ibadah setempat.

Kekhusyukan dalam menjalankan tradisi ini terlihat dari partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat secara bergiliran.

"Semua RT di Bertais itu secara bergiliran mereka menjalankan tradisi Mersinan ini," pungkas Hafizuddin.

Tradisi Mersinan diharapkan terus terjaga sebagai simbol kearifan lokal masyarakat Mataram dalam memuliakan bulan suci Ramadan sekaligus memperkuat ikatan silaturahmi antarwarga.

Artikel ini telah tayang di TribunLombok.com dengan judul Mengenal Mersinan, Tradisi Sambut Ramadan Masyarakat Bertais Kota Mataram

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang