Restrukturisasi Jalan Terus, Ribuan Karyawan TCS Kehilangan Pekerjaan
Gelombang restrukturisasi di industri teknologi global belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sejumlah perusahaan teknologi besar masih melakukan penyesuaian organisasi untuk menghadapi perubahan bisnis, tekanan biaya, serta adopsi teknologi baru.
Di tengah ketidakpastian ini, kekhawatiran di kalangan pekerja kembali meningkat, terutama terkait keamanan pekerjaan dan prospek karier jangka panjang.
Di India, salah satu raksasa teknologi informasi, Tata Consultancy Services (TCS), menjadi sorotan setelah memastikan bahwa pemangkasan karyawan masih berpotensi berlanjut hingga 2026. Langkah ini melanjutkan restrukturisasi besar yang telah dilakukan perusahaan sepanjang 2025, yang disebut-sebut berkaitan dengan perubahan kebutuhan bisnis dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pada 2025, TCS mengumumkan restrukturisasi besar-besaran di internal perusahaan. Restrukturisasi ini dilaporkan dipicu oleh meningkatnya penggunaan AI dan berdampak pada pengurangan jumlah karyawan.
Kini, TCS menegaskan bahwa pemangkasan tenaga kerja yang terkait dengan rencana restrukturisasi tersebut belum sepenuhnya selesai dan dapat berlanjut pada 2026. Usai mengumumkan laporan kinerja kuartal ketiga, TCS menyatakan bahwa keluarnya karyawan masih akan berlanjut pada kuartal berikutnya, meski perusahaan tidak menetapkan target jumlah tertentu.
"Manajemen menekankan bahwa setiap pemutusan hubungan kerja akan memiliki alasan yang jelas dan dilakukan melalui proses internal yang telah ditetapkan," demikian sebagaimana dirangkum dari India Today, Kamis, 15 Januari 2026.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kecemasan karyawan TCS, seiring menyusutnya jumlah tenaga kerja, pengetatan aturan kehadiran di kantor, serta tertundanya penilaian kinerja atau appraisal di sejumlah unit.
Menurut laporan MoneyControl, Kepala Sumber Daya Manusia TCS, Sudeep Kunnumal, menyampaikan kepada para analis bahwa perusahaan telah melepas sekitar 1.800 karyawan pada periode Oktober hingga Desember. Angka ini terlihat lebih rendah dibandingkan data dalam lembar fakta hasil kuartalan TCS.
Berdasarkan dokumen tersebut, total jumlah karyawan TCS turun lebih dari 11.000 orang dibandingkan dengan jumlah karyawan pada akhir kuartal kedua. Hal ini mengindikasikan bahwa pengurangan tenaga kerja dalam tiga bulan terakhir merupakan kombinasi dari pemutusan hubungan kerja melalui proses resmi dan attrition alami, di mana karyawan keluar secara sukarela dan posisi yang ditinggalkan tidak langsung diisi kembali.
Kunnumal menyatakan bahwa pengurangan karyawan kemungkinan masih berlanjut pada kuartal berikutnya. Namun, ia menegaskan bahwa perusahaan tidak mengejar target jumlah tertentu dan bahwa setiap keputusan dilakukan hanya jika terdapat alasan yang jelas dan sah.
Jumlah Karyawan Terus Menyusut
Pada kuartal Oktober hingga Desember, TCS mengurangi jumlah karyawannya sebanyak 11.151 orang. Dengan demikian, total karyawan TCS turun menjadi 582.163 orang pada akhir Desember, dari sebelumnya 593.314 orang pada kuartal sebelumnya.
Ini merupakan kuartal kedua berturut-turut di mana TCS mencatat penurunan bersih jumlah tenaga kerja, membuat total karyawan perusahaan berada jauh di bawah angka 600.000. Secara keseluruhan, dalam enam bulan terakhir, TCS telah melepas sekitar 30.000 karyawan, termasuk pengurangan 19.755 staf pada kuartal September.
Selama ini, muncul anggapan bahwa TCS, seperti banyak perusahaan teknologi lain, memangkas jumlah karyawan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan dan peluang yang dihadirkan oleh AI. Namun, ada pula sudut pandang lain yang menyebutkan bahwa tidak semua PHK disebabkan oleh AI.
Sebuah laporan dari Oxford Economics menyebutkan bahwa sebagian besar pemangkasan pekerjaan dalam beberapa bulan terakhir sebenarnya bukan semata-mata akibat AI. Menurut laporan tersebut, perusahaan juga berupaya menyaring karyawan dengan kinerja rendah, mengoptimalkan struktur tenaga kerja, serta menekan biaya operasional. Dalam banyak kasus, AI digunakan sebagai narasi untuk mengelola pesan kepada karyawan dan publik.
Meski demikian, tidak terdapat indikasi bahwa TCS secara spesifik melakukan praktik seperti yang digambarkan dalam laporan Oxford Economics tersebut. Selain pengurangan tenaga kerja, perubahan aturan kerja juga menambah kekhawatiran di kalangan karyawan TCS. Seperti perusahaan teknologi lainnya, TCS memperketat kebijakan kehadiran kerja dari kantor atau work from office.
Laporan menyebutkan bahwa sejumlah karyawan mengalami penundaan appraisal tahunan karena tidak memenuhi persyaratan kehadiran minimum di kantor. Dalam beberapa kasus, penilaian kinerja telah diselesaikan di tingkat tim, namun belum mendapatkan persetujuan di tingkat pusat.
Komunikasi internal yang ditinjau media juga memperingatkan bahwa ketidakpatuhan yang berkelanjutan terhadap aturan kehadiran di kantor dapat menyebabkan karyawan kehilangan kesempatan dalam siklus penilaian kinerja 2026. Situasi ini semakin mempertegas tekanan yang dirasakan karyawan di tengah restrukturisasi yang masih berlangsung.