Survei Sebut 65 Persen Pekerja Menolak Penggunaan AI, Masalah Lingkungan hingga Moral Jadi Alasan
Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin meluas di dunia kerja. Namun di balik tren tersebut, banyak pekerja ternyata masih merasa ragu bahkan sengaja menghindari teknologi AI karena berbagai alasan.
Survei terbaru CNBC bersama SurveyMonkey mengungkap hampir dua pertiga pekerja pernah menghindari penggunaan AI karena kekhawatiran soal moral, privasi, lingkungan, hingga akurasi teknologi tersebut.
Survei yang dilakukan pada 17-21 April 2026 itu melibatkan 3.597 responden di Amerika Serikat, terdiri dari 3.365 pekerja dan 232 mahasiswa. Hasilnya, sebanyak 65 persen pekerja mengaku pernah menghindari penggunaan AI setidaknya sekali karena berbagai kekhawatiran terkait teknologi tersebut.
Alasan lingkungan menjadi salah satu perhatian utama, terutama di kalangan mahasiswa. Sebanyak 36 persen mahasiswa mengatakan mereka menghindari AI karena dampak lingkungan, dibandingkan 19 persen pekerja.
"Pusat data AI memiliki dampak besar terhadap penggunaan air, lahan, konsumsi energi, hingga menghasilkan limbah panas dalam jumlah besar," demikian sebagaimana dikutip dari CNBC, Jumat, 15 Mei 2026.
Selain itu, 36 persen mahasiswa juga mengaku menghindari AI karena alasan moral dan etika. Angka itu lebih tinggi dibanding pekerja yang mencapai 28 persen.
Pendiri organisasi kebijakan AI Encode AI, Sneha Revanur, mengatakan sebagian generasi muda khawatir AI dapat mencuri karya manusia dan mengurangi kreativitas. “Ada banyak penolakan yang sepenuhnya masuk akal terhadap penggunaan AI,” kata Revanur.
Ia menilai sebagian anak muda juga khawatir AI akan mengganggu kemampuan berpikir kritis manusia. “Mereka khawatir tentang apa artinya bagi kemampuan berpikir kritis dan kreativitas, atau memandangnya sebagai serangan terhadap sisi kemanusiaan,” ujarnya.
Dalam praktik sehari-hari, banyak responden juga menilai AI belum cukup akurat atau belum benar-benar membantu pekerjaan. Sebanyak 37 persen mahasiswa dan 26 persen pekerja mengaku menghindari AI karena alasan tersebut.
Sejumlah pakar sebelumnya juga menilai penggunaan AI terkadang justru menambah pekerjaan dan memicu kelelahan mental atau brain fry.
Sementara itu, kekhawatiran soal privasi muncul hampir merata. Sebanyak 37 persen mahasiswa dan pekerja sama-sama menyebut isu privasi sebagai alasan mereka menghindari AI.
Ada pula responden yang merasa AI terlalu sulit dipelajari. Sebanyak 6 persen mahasiswa dan 8 persen pekerja mengaku enggan menggunakan AI karena faktor tersebut.
Survei ini juga menunjukkan meningkatnya kecemasan terhadap pasar kerja akibat perkembangan AI. Sekitar dua pertiga mahasiswa merasa pesimistis terhadap kondisi pasar kerja saat ini.
Bahkan, 56 persen mahasiswa mengatakan AI membuat mereka semakin pesimistis terhadap peluang kerja di masa depan. Sebanyak 53 persen pekerja dan 65 persen mahasiswa percaya AI mulai mengurangi peluang kerja bagi pekerja level pemula atau entry-level.
Meski begitu, penggunaan AI di dunia kerja tetap terus meningkat. Banyak perusahaan kini mulai mencari kandidat dengan kemampuan AI dalam proses rekrutmen.
Kepala riset global perusahaan analisis pasar tenaga kerja Lightcast, Elena Magrini, sebelumnya mengatakan lowongan kerja kini semakin menekankan kemampuan AI dan perusahaan bersedia membayar gaji lebih tinggi untuk keterampilan tersebut.
Laporan terbaru dari situs pencarian kerja Handshake juga menunjukkan jumlah lowongan kerja entry-level yang mensyaratkan kemampuan AI hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu. Di sisi lain, pekerja yang rutin menggunakan AI justru merasakan manfaat cukup besar.
Berdasarkan survei CNBC dan SurveyMonkey, sebanyak 73 persen pengguna AI harian atau mingguan merasa teknologi tersebut membuat mereka lebih produktif. Selain itu, 68 persen responden mengatakan AI membantu menghemat waktu kerja mereka.
Lebih dari separuh pekerja atau sekitar 55 persen bahkan percaya AI nantinya dapat menjalankan sebagian tugas pekerjaan mereka sama baiknya seperti manusia.
Meski mengkritisi perkembangan AI, Revanur mengaku dirinya sendiri menggunakan AI setiap hari dan merasa teknologi itu tetap memberi manfaat. “Saya percaya bisa menggunakan AI dan mendapatkan banyak manfaat secara pribadi, sambil tetap kritis terhadap gambaran besarnya atau tetap memiliki banyak kekhawatiran terhadap dampaknya secara luas,” katanya.