Ngeri! 20 persen Pekerja Akui Tugasnya Sudah Diambil Alih AI, Ini Faktanya

Ilustrasi AI masuk kantor.
Ilustrasi AI masuk kantor.

Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin meluas dan mulai berdampak langsung pada dunia kerja. Survei terbaru menunjukkan bahwa 20 persen pekerja penuh waktu di Amerika Serikat mengaku sebagian tugas mereka telah diambil alih oleh AI.

Survei tersebut dilakukan oleh Epoch AI bekerja sama dengan Ipsos terhadap sekitar 2.000 orang dewasa di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar setengah responden menggunakan AI dalam sepekan terakhir, baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain menggantikan tugas, AI juga menciptakan jenis pekerjaan baru. Sebanyak 15 persen pekerja penuh waktu menyatakan mereka mulai mengerjakan tugas baru yang sebelumnya tidak ada tanpa bantuan AI. Temuan ini menunjukkan adanya perubahan pola kerja seiring adopsi teknologi tersebut.

Caroline Falkman Olsson dari Epoch AI menyatakan bahwa data tersebut mencerminkan perubahan yang sedang berlangsung. “Ketika kita benar-benar melihat bagaimana orang melaporkan penggunaan AI mereka, kita memang melihat efek augmentasi dan otomatisasi,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari NBC News, Jumat, 10 April 2026.

“Namun, kita perlu mencari tahu bagaimana tempat kerja dan tugas-tugas sebenarnya berubah,” kata dia. 

Survei yang dilakukan pada 3 hingga 5 Maret itu juga menunjukkan pola penggunaan AI yang relatif ringan. Hampir 50 persen pengguna AI memakainya antara dua hingga lima hari dalam seminggu. Namun, sekitar 62,5 persen hanya menggunakan AI untuk satu hingga dua tugas sederhana pada hari penggunaan tertinggi mereka. 

Sementara itu, hanya sekitar 6 persen yang tergolong pengguna intensif. Nicholas Miailhe dari Global Partnership on Artificial Intelligence menilai temuan ini sebagai peringatan bagi pekerja dan pembuat kebijakan. 

“Ketika 1 dari 5 pekerja mengatakan AI sudah menggantikan sebagian pekerjaan mereka, kita bisa mulai berbicara tentang restrukturisasi pasar tenaga kerja yang terjadi secara real time,” ujarnya.

“Fakta bahwa penggantian tampaknya lebih cepat daripada augmentasi harus menjadi perhatian kita. Jendela kebijakan untuk membentuk bagaimana AI mengubah pekerjaan mungkin menutup lebih cepat daripada yang disadari banyak pemerintah.”

Survei ini juga menemukan bahwa sekitar setengah pengguna AI di tempat kerja menggunakan layanan dari langganan pribadi atau versi gratis, bukan yang disediakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Dari sisi penggunaan, AI paling banyak dimanfaatkan untuk mencari informasi atau rekomendasi, yakni sebesar 80 persen. Selain itu, sebanyak 59 persen responden menggunakannya untuk menulis atau mengedit teks, serta 53 persen untuk mencari ide.

Dalam hal platform, ChatGPT menjadi layanan paling populer dengan tingkat penggunaan sebesar 31 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Google Gemini sebesar 21 persen dan Microsoft Copilot sebesar 10,5 persen.

Survei ini juga menyoroti penggunaan AI agent, yaitu sistem AI yang dapat menjalankan tugas secara mandiri. Sekitar 8 persen pengguna AI mengaku telah menggunakan teknologi ini dalam sepekan terakhir. Angka ini masih tergolong rendah, namun menunjukkan pertumbuhan penggunaan teknologi baru.

“Satu dari 12 orang Amerika telah menggunakan AI agent otonom, perangkat lunak yang tidak hanya menjawab pertanyaan tetapi juga mengambil tindakan atas nama Anda,” ungkap Renan Araujo dari Institute for AI Policy and Strategy. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kemampuan ini belum tersedia dua tahun lalu, dan sangat mencolok melihat penggunaannya tumbuh begitu cepat.”

Laporan lain dari Goldman Sachs juga menunjukkan dampak AI terhadap pasar tenaga kerja. Bank tersebut memperkirakan AI menghilangkan sekitar 16.000 pekerjaan per bulan akibat otomatisasi dan perubahan peran kerja. Selain itu, AI berpotensi mengotomatisasi sekitar 25 persen dari total jam kerja.