Pekerja Kantoran Ramai-Ramai Tinggalkan Karier Bergengsi Gara-gara AI

Ilustrasi kantor kosong.
Ilustrasi kantor kosong.

Kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi sebagai alat bantu kerja, tetapi sudah menjadi faktor yang mengubah arah hidup banyak pekerja profesional. Di berbagai negara, pekerja kantoran mulai meninggalkan bidang lama mereka. 

Mereka lalu beralih ke pekerjaan manual atau vokasional yang dianggap lebih sulit digantikan teknologi, meski harus menerima gaji lebih rendah, jarak kerja lebih jauh, dan pekerjaan yang jauh lebih melelahkan secara fisik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena ini mulai terjadi di Amerika. Salah satunya contohnya, Jacqueline Bowman. Ia adalah penulis lepas asal California yang sejak kecil bercita-cita menjadi penulis. Ia magang di koran lokal sejak usia 14 tahun dan mengambil jurusan jurnalistik di universitas. 

Setelah lulus, ia memang belum bisa hidup sepenuhnya dari menulis fiksi, tetapi tetap mendapat banyak pekerjaan menulis, terutama content marketing dan jurnalisme, hingga akhirnya menjadi freelancer penuh waktu di usia 26 tahun.

Namun situasi berubah drastis di 2024. Gelombang PHK dan penutupan media membuat pekerjaannya seperti mengering. Klien mulai membicarakan AI, bahkan ada yang menyebut jika sudah tidak membutuhkan penulis lagi. 

Ia kemudian ditawari pekerjaan sebagai editor konten buatan AI. Tarifnya dipotong sekitar setengah. Jika sebelumnya ia menerima misalnya US$2.000 atau setara Rp33.600.000, kini ia hanya mendapat sekitar US$1.000 atau setara Rp16.800.000. Masalahnya, waktu kerja justru berlipat.

“Sekarang saya harus memeriksa fakta setiap hal secara sangat teliti di dalam artikel. Dan setidaknya 60 persen isinya benar-benar dibuat-buat,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis, 12 Februari 2026. “Saya akhirnya menulis ulang sebagian besar artikel. Jadi sesuatu yang dulu butuh dua jam saat saya menulis sendiri sekarang butuh empat jam, dengan bayaran setengahnya,” katanya. 

Ia juga kerap dituduh menggunakan AI oleh klien, padahal ia menolak memakainya untuk menulis. Pada Januari 2025, ia bahkan tak lagi mampu membayar asuransi kesehatan sendiri. 

“Menulis tidak akan berhasil lagi untuk saya,” ujarnya. Ia pun memutuskan kembali kuliah untuk menjadi terapis pernikahan dan keluarga. Meski mengakui profesi itu tidak kebal AI, ia percaya masih banyak orang ingin ditangani manusia. 

“AI mengambil pekerjaan saya, AI merusak hidup saya,” katanya. 

Perubahan serupa dialami Janet Feenstra, mantan editor akademik di Malmö, Swedia, yang kini bekerja di toko roti. Ia dulu mengedit tulisan akademik tingkat tinggi. Namun ia mulai mendengar wacana penggunaan AI di kampus.

“Itu menakutkan. Saya merasa seperti sudah ada tanda-tanda yang jelas,” katanya. Kini ia bekerja di toko roti yang hangat. “Kami memipihkan adonan dengan tangan dan rasanya luar biasa. Kami mendengarkan musik dan menari serta bernyanyi kapan pun kami mau,” ujarnya. “Saya sekarang jauh lebih bersenang-senang, tetapi saya tidak ingin berterima kasih pada AI untuk ini," ungkapnya. 

Laporan Departemen Pendidikan Inggris pada 2023 menyimpulkan, pekerjaan profesional lebih terekspos terhadap AI, khususnya yang terkait pekerjaan administratif serta peran di bidang keuangan, hukum, dan manajemen bisnis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Carl Benedikt Frey dari Oxford Internet Institute menilai dampak AI memang akan meluas, tetapi belum sepenuhnya terlihat. “Kita mulai melihat beberapa studi yang menunjukkan dampak lebih besar pada pekerjaan tingkat pemula,” katanya. Ia menyarankan pekerja muda mulai bersiap. 

“Mungkin ide yang baik jika Anda berada di tahap awal karier profesional untuk memanfaatkan waktu yang masih ada untuk berinvestasi dalam pelatihan dan mencari jalur karier lain yang lebih layak.”