Raksasa Otomotif Pangkas 50.000 Pekerja hingga 2030, Ada Apa?
Industri otomotif global sedang memasuki fase transformasi besar. Peralihan menuju kendaraan listrik, digitalisasi produksi, hingga meningkatnya kompetisi global membuat banyak produsen mobil melakukan restrukturisasi bisnis secara besar-besaran.
Salah satu dampaknya adalah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mulai terjadi di berbagai perusahaan otomotif dunia. Raksasa otomotif asal Jerman, Volkswagen, menjadi salah satu perusahaan yang kini mengambil langkah efisiensi besar.
Perusahaan tersebut mengumumkan rencana pengurangan puluhan ribu pekerja di Jerman dalam beberapa tahun ke depan, sebagai bagian dari strategi menekan biaya operasional dan beradaptasi dengan perubahan pasar otomotif global.
Volkswagen, berencana memangkas sekitar 50.000 pekerjaan di Jerman hingga tahun 2030. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan rencana sebelumnya yang hanya menargetkan pengurangan sekitar 35.000 pekerja yang telah disepakati dengan serikat pekerja pada akhir 2024.
Langkah drastis ini diambil setelah kinerja keuangan perusahaan melemah. Pada 2025, laba bersih Volkswagen tercatat 6,9 miliar euro, atau sekitar Rp116,61 triliun dengan asumsi kurs Rp16.900 per euro. Angka tersebut turun 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi hasil terburuk perusahaan sejak skandal mesin diesel pada 2015.
CEO Volkswagen Oliver Blume mengatakan, perusahaan memperluas program penghematan biaya untuk menjaga daya saing bisnis di masa depan. “Secara total, sekitar 50.000 pekerjaan akan dipangkas dalam Volkswagen Group di Jerman hingga 2030,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Vreme, Jumat, 13 Maret 2026.
"Sebagai hasil dari perjanjian kolektif dan langkah-langkah untuk mengurangi jumlah karyawan, kami berhasil mencapai penghematan sekitar satu miliar euro pada tahun fiskal 2025, sesuai rencana. Kami berada di jalur yang tepat untuk mencapai target kami, yaitu penghematan biaya bersih tahunan lebih dari enam miliar euro di tingkat grup pada 2030,” katanya.
Sepanjang tahun fiskal 2025, perusahaan berhasil menghemat sekitar 1 miliar euro atau setara Rp16,9 triliun dari berbagai langkah efisiensi. Volkswagen menargetkan penghematan biaya bersih tahunan lebih dari 6 miliar euro, atau sekitar Rp101,4 triliun, di tingkat grup pada tahun 2030.
Program efisiensi ini juga akan diterapkan di beberapa anak perusahaan utama Volkswagen. Produsen mobil premium Audi dan Porsche, serta unit pengembangan perangkat lunak CARIAD, disebut akan menjalankan langkah pengurangan biaya sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan industri otomotif global.
Direktur keuangan Volkswagen Arno Antlitz menilai kondisi industri saat ini semakin menantang. Menurutnya, perusahaan menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal.
Ia menyebut perusahaan berada dalam lingkungan bisnis yang sangat menuntut, yang ditandai oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, munculnya hambatan perdagangan baru, serta persaingan yang semakin ketat, terutama dari produsen mobil asal China.
Dari sisi kinerja, pendapatan Volkswagen pada 2025 tercatat sekitar 322 miliar euro, atau setara Rp5.441,8 triliun. Namun laba operasional perusahaan hampir terpangkas setengahnya menjadi sekitar 8,9 miliar euro, atau sekitar Rp150,41 triliun.
Langkah Volkswagen sebenarnya mencerminkan tren global di sektor otomotif. Dalam beberapa tahun terakhir, industri ini mengalami salah satu perubahan terbesar dalam beberapa dekade terakhir, terutama akibat transisi menuju kendaraan listrik dan digitalisasi produksi.
Data dari asosiasi pemasok otomotif Eropa CLEPA menunjukkan bahwa lebih dari 100.000 pekerjaan di sektor otomotif telah diumumkan akan dipangkas dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah produsen mobil besar lainnya juga menjalankan program restrukturisasi, termasuk Ford Motor Company, General Motors, Nissan Motor, dan Stellantis.