Makin Banyak Pengangguran Gara-gara AI Gantikan Pekerja Manusia? Ini Riset Terbarunya
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kerap dipersepsikan sebagai ancaman besar bagi dunia kerja. Kekhawatiran ini diperkuat oleh peringatan para bos perusahaan teknologi, laporan bank sentral AS, hingga cerita pekerja yang merasa posisinya mulai tergeser oleh otomatisasi.
Tak sedikit yang percaya AI akan menjadi “pengganti manusia” dalam waktu dekat. Namun riset terbaru justru menunjukkan gambaran yang berbeda.
Setidaknya untuk saat ini, AI belum menghantam pasar tenaga kerja seperti yang banyak ditakutkan. Bahkan, pekerjaan yang paling rentan terhadap otomatisasi AI justru mengalami pertumbuhan lebih cepat dibandingkan sebelum pandemi.
Penelitian dari Vanguard menemukan bahwa pekerjaan yang sangat terekspos otomatisasi AI tumbuh lebih cepat dibandingkan periode sebelum Covid-19, bahkan melampaui pertumbuhan pekerjaan lainnya.
Ilustrasi robot.
Pekerjaan yang masuk kategori ini mencakup staf administrasi kantor, juru ketik, asisten HR, staf hukum, hingga data scientist. Posisi tersebut dikenal dengan porsi jam kerja tinggi yang secara teoritis bisa diotomatisasi AI.
Menurut Vanguard, tingkat penyerapan tenaga kerja di kelompok pekerjaan yang paling terpapar AI naik 1,7 persen pada periode pasca-Covid, yakni pertengahan 2023 hingga pertengahan 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1 persen pada periode pra-Covid 2015–2019.
Sebaliknya, pertumbuhan lapangan kerja di sektor lain justru melambat. “Secara garis besar, kami belum melihat bukti bahwa peran yang terekspos AI mengalami penurunan lapangan kerja,” kata Adam Schickling, ekonom senior Vanguard, sebagaimana dikutip dari CNN, Jum'at, 19 Desember 2025.
Ia menegaskan bahwa perbandingan sengaja tidak dilakukan dengan periode 2020–2022 karena kondisi pasar kerja saat itu dianggap tidak normal dan tidak relevan sebagai patokan. Tak hanya dari sisi jumlah pekerjaan, data upah juga memberikan kejutan.
Vanguard mencatat bahwa pekerjaan dengan paparan AI tinggi hanya mengalami pertumbuhan upah riil 0,1 persen sebelum pandemi. Namun pada periode pasca-Covid, angka itu melonjak menjadi 3,8 persen, setelah disesuaikan dengan inflasi.
Sebagai pembanding, pekerjaan lain yang relatif minim paparan AI hanya mencatat kenaikan upah riil dari 0,5 persen menjadi 0,7 persen. Jika AI benar-benar menghancurkan pasar kerja, dampaknya seharusnya terlihat dari gaji yang menyusut. Namun data justru menunjukkan sebaliknya.
“Meski AI mungkin mulai mengubah alur kerja, perannya dalam menjelaskan perlambatan pertumbuhan pekerjaan baru-baru ini terlalu dibesar-besarkan,” tulis Vanguard dalam analisanya.
Meski data saat ini relatif menenangkan, peringatan keras dari para pemimpin industri AI tetap bermunculan. CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan memperingatkan bahwa AI berpotensi menghilangkan setengah pekerjaan entry-level di sektor kerah putih.
“Sangat mengerikan melihat sejauh mana publik dan politisi, saya rasa, belum sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi,” kata Amodei. “Kita harus bertindak sekarang. Kita tidak bisa hanya berjalan sambil tidur menuju situasi ini.”
Laporan Federal Reserve juga mencatat bahwa beberapa perusahaan mulai memangkas posisi entry level atau menahan perekrutan karena AI membuat karyawan yang ada lebih produktif. Salah satu produsen bahkan memangkas staf kantor hingga 15 persen dengan mengandalkan otomatisasi.
“Banyak narasumber mencatat bahwa bahkan penerapan AI dalam skala kecil memungkinkan mereka tidak mengisi kembali posisi kosong atau melewati rekrutmen lulusan baru,” tulis The Philadelphia Fed.
Namun Vanguard menemukan bahwa tekanan AI belum terlihat signifikan pada pekerja muda. Data internal Vanguard atas lima juta peserta program pensiun 401(k) menunjukkan bahwa proporsi pekerja usia 21–25 tahun masih relatif tinggi.
Beberapa pemimpin teknologi juga menolak narasi pesimistis. Presiden Cisco, Jeetu Patel, menyebut menolak merekrut pekerja pemula karena AI sebagai kesalahan fatal. P“Hal paling bodoh yang bisa dilakukan perusahaan dalam jangka panjang adalah menolak merekrut pekerja entry-level karena AI,” kata Patel.
Sementara itu, menurut Schickling, salah satu alasan AI belum mengguncang pasar kerja adalah keterbatasan teknologinya sendiri. “Saya terus-menerus terkejut dan kagum dengan kemampuan AI, tapi juga dengan betapa seringnya model-model ini salah,” ujarnya. “Jelas AI masih memiliki keterbatasan.”
Meski begitu, ia mengakui risiko tetap ada. Vanguard memprediksi profesi seperti layanan pelanggan, data scientist, paralegal, hingga ekonom berpotensi menghadapi penurunan permintaan tenaga manusia jika AI terus berkembang pesat. “Jika model terus berkembang secara eksponensial, itu bisa menjadi ancaman yang lebih besar,” kata Schickling.