Polisi Muda di Sulsel Tewas di Barak, Kompolnas Desak Pengusutan Komprehensif dan Evaluasi Relasi Senior-Junior

Kompolnas, Choirul Anam, Bripda DP, Polda Sulsel, Polisi Muda di Sulsel Tewas di Barak, Kompolnas Desak Pengusutan Komprehensif dan Evaluasi Relasi Senior-Junior

 Kasus meninggalnya anggota polisi muda berinisial Bripda DP (19) di Sulawesi Selatan menjadi sorotan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Kompolnas menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dan transparansi dalam mengungkap penyebab kematian tersebut, termasuk melalui hasil autopsi dan pendalaman menyeluruh terhadap relasi internal di lingkungan tempat korban bertugas.

Anggota Kompolnas Choirul Anam menyampaikan bahwa pihaknya menunggu hasil autopsi agar terdapat pendekatan scientific atas peristiwa tersebut.

Ia juga mendorong serta memastikan Propam melakukan pendalaman secara profesional dan transparan, khususnya terhadap keluarga korban.

"Hasil otopsi hanya ngomong soal rekam jejak tubuh secara fisik yang melekat, ada baiknya memang tidak berhenti di situ pendalaman yang dilakukan tapi secara komprehensif dilihat bagaimana hubungan junior-senior di sana karena memang kondisi hubungan bisa melahirkan banyak hal, misalnya suasana kebatinan yang tidak nyaman yang mengarah pada kekerasan. Oleh karenanya harus dilihat relasi itu. Jadi tidak hanya soal fisik tubuh almarhum, juga situasi suasana di sana," kata Anam kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Bagaimana penegasan soal budaya humanis di kepolisian?

Kompolnas, Choirul Anam, Bripda DP, Polda Sulsel, Polisi Muda di Sulsel Tewas di Barak, Kompolnas Desak Pengusutan Komprehensif dan Evaluasi Relasi Senior-Junior

Komisioner Komisi Nasional Indonesia (Kompolnas) Mohammad Choirul Anam mendukung gerakan stop tot tot wuk wuk.

Terlepas dari kasus tersebut, Anam mengingatkan bahwa kepolisian merupakan institusi sipil dengan karakter dasar kehidupan dialogis.

Polisi, kata dia, bekerja menggunakan keterampilan komunikasi, negosiasi, serta pelayanan kepada masyarakat.

"Polisi itu institusi sipil yang karakter dasarnya adalah kehidupan dialogis yang menggunakan berbagai keterampilan termasuk negosiasi, ngomong, pelayanan masyarakat. Jadi tidak boleh menekankan kekerasan dalam situasi apa pun di level mana pun," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa prinsip tersebut sebenarnya telah tertuang dalam skema reformasi atau transformasi internal kepolisian.

Karena itu, langkah konkret perlu diambil untuk meminimalkan tindak kekerasan melalui penguatan pendidikan.

"Penting mengambil langkah untuk meminimalkan tindak kekerasan, memperkuat transformasi tersebut dengan pendidikan, memastikan pendidikan di kepolisian isinya diperbanyak mengenai tata kelola polisi sebagai institusi sipil yang prinsip humanis, toleransi, dialogis, itu jadi penting," jelasnya.

Menurut Anam, penguatan nilai-nilai tersebut harus dimulai sejak pendidikan dasar anggota. Materi tentang perlindungan masyarakat, berpikir terbuka, relasi setara, serta tata kelola organisasi perlu diperkuat agar budaya kekerasan, baik dalam relasi junior-senior maupun terhadap masyarakat, dapat ditekan.

"Kami mengingatkan di kepolisian, khususnya Pak Kapolri juga mengingatkan pendekatan humanis, paradigmanya perlindungan dan pelayanan. Tidak mungkin menggunakan budaya kekerasan. Pak Kapolri mengingatkan itu di berbagai kesempatan dan harus dicamkan oleh setiap anggota kepolisian," tutup Anam.

Bagaimana kronologi meninggalnya Bripda DP?

Bripda DP diketahui berdinas di Direktorat Samapta Polda Sulsel. Ia dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (22/2/2026) setelah menjalani perawatan medis.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, mengatakan bahwa korban sempat dilaporkan sakit usai melaksanakan shalat subuh.

"Iya ada anggota Bripda DP selesai shalat subuh terlihat sakit, kemudian dibawa ke RSUD Daya Makassar," kata Didik dikonfirmasi awak media, Minggu petang.

"Setelah dilakukan perawatan (dinyatakan) meninggal dunia," imbuhnya.

Sebelum dibawa ke rumah sakit, berdasarkan informasi yang diterima, korban mengalami kondisi keluar darah dari mulut. Sejumlah gambar yang beredar juga menunjukkan adanya luka di tubuh korban, meski hal tersebut masih dalam proses pendalaman.

Jenazah kemudian dipindahkan ke RS Bhayangkara Makassar untuk pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan penyebab kematian.

Bagaimana proses penyelidikan berjalan?

Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulsel masih mendalami kasus tersebut. Kabid Propam Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham Effendy, menyampaikan bahwa pihaknya telah memeriksa enam anggota polisi yang terdiri dari teman seangkatan dan senior korban.

"Iya, makanya kita bawa dari Rumah Sakit Daya kita geser ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk memastikan (penyebab kematian)," katanya saat dikonfirmasi awak media, Senin (23/2/2026).

Zulham juga menyebutkan bahwa tim khusus telah dibentuk untuk mengusut tuntas kasus ini.

"Sedang kita usut terus, jadi belum bisa kita simpulkan karena tim lagi bekerja semua," ungkapnya.

Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Polisi Muda di Sulsel Dinyatakan Tewas Diduga akibat Kekerasan di Barak".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang