Update Pesawat Jatuh di Bulusaraung, Jenazah Deden Maulana Berhasil Diidentifikasi Tim DVI Polda Sulsel

Suasana duka menyelimuti Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Jalan Kumala, Makassar, pada Rabu (21/1/2026) malam.
Tangis pilu Vera, istri dari Deden Maulana, pecah saat prosesi penyerahan jenazah suaminya yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500.
Deden merupakan salah satu korban dari jatuhnya pesawat nahas di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel, pada Sabtu (17/1/2026) lalu.
Deden diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Proses Identifikasi yang Panjang
Berdasarkan pantauan di lokasi pukul 22.05 WITA, jenazah Deden Maulana telah dikemas rapi dalam peti kayu berwarna cokelat. Di atas peti tersebut, tertera label post mortem PM.62.B.02, kode identifikasi yang diberikan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Kasubdit Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, AKBP Elvis J, menyerahkan langsung dokumen hasil identifikasi kepada Vera.
Dokumen dalam map kuning bertuliskan DVI itu diterima Vera dengan tangan gemetar. Sambil memeluk erat berkas tersebut, ia menangis tersedu di hadapan peti jenazah sang suami.
Deden Maulana merupakan korban kedua yang berhasil diidentifikasi secara resmi oleh tim medis, setelah sebelumnya jenazah pramugari Florencia Lolita Wibisono telah lebih dulu teridentifikasi.
Medan Ekstrem Gunung Bulusaraung
Tim SAR Gabungan membawa kantong berisi serpihan pesawat ATR 42-500 milik IAT di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026). Tim SAR gabungan masih berusaha mengevakuasi para korban kecelakaan pesawat meski terkendala cuaca buruk. ANTARA FOTO/Muchtamir/Lmo/tom.
Deden adalah korban pertama yang berhasil dievakuasi dari lokasi jatuh pesawat. Jenazahnya ditemukan pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 14.20 WITA di dasar jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.Proses evakuasi jenazah Deden berlangsung dramatis lantaran kendala medan yang sangat terjal dan cuaca ekstrem.
"Medan di lokasi kejadian hampir tegak lurus dengan dominasi bebatuan. Tim SAR harus menunggu waktu yang tepat demi keselamatan sebelum melakukan pengangkatan jenazah," tulis keterangan dalam laporan kronologi evakuasi.
Jenazah akhirnya tiba di Post Mortem Biddokkes Polda Sulsel pada pagi harinya menggunakan ambulans RSAU dr Dody Sardjoto sebelum menjalani proses identifikasi mendalam.
Kendala Identifikasi: Kondisi Fisik dan Sidik Jari
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, menjelaskan bahwa kecepatan identifikasi sangat bergantung pada kondisi fisik korban saat ditemukan.
"Kalau kendala, memang sangat tergantung kondisi jenazah. Kalau sidik jarinya masih bisa diperiksa, itu bisa cepat. Tapi kalau sidik jari sudah sulit diperiksa, maka kita lakukan pemeriksaan pembanding yang lain," ujar Muhammad Haris kepada wartawan, Rabu (18.37 WITA).
Haris menegaskan bahwa tim DVI tidak mengejar kecepatan, melainkan akurasi. Kondisi jenazah yang jatuh di kedalaman berbeda, ada yang 200 meter hingga 400 meter, mempengaruhi tingkat kerusakan fisik.
"Kami tidak terburu-buru untuk menetapkan identitas. Yang kami perlukan adalah ketelitian dan ketepatan. Identitas korban harus benar-benar pasti," tegasnya.
Untuk menentukan profil korban seperti usia, tim medis menggunakan indikator sekunder.
"Umur bisa ditentukan dari gigi, kemudian juga dari beberapa profil lainnya. Metode primer tetap kami gunakan," tambah Haris.
Jenazah Diterbangkan ke Jakarta
Usai prosesi penyerahan di Makassar selesai sekitar pukul 22.55 WITA, ambulans Polda Sulsel dengan pelat nomor 22116-XIV membawa jenazah Deden Maulana menuju Bandara Sultan Hasanuddin.
Rencananya, jenazah akan diterbangkan menuju rumah duka di Jalan Mesir II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, untuk dimakamkan oleh pihak keluarga.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Istri Deden Maulana Korban Pesawat ATR Jatuh Tak Kuasa Tahan Tangis dan Peluk Erat Jenazah Suami
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang