Tanah Bergerak Meluas di Tasikmalaya, Puluhan Rumah Berisiko Terdampak
Gerakan tanah yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menimbulkan kekhawatiran bagi warga setempat.
Puluhan rumah dilaporkan berada dalam kondisi terancam rusak akibat pergeseran struktur tanah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan pemantauan dan pendampingan terus dilakukan guna mengantisipasi dampak lanjutan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi di Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya. Fenomena ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.
Peristiwa pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (16/2/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Hujan deras menyebabkan struktur tanah bergerak sehingga berdampak langsung pada permukiman warga.
Apa dampak langsung gerakan tanah terhadap rumah warga?
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, setidaknya lima rumah mengalami kerusakan dengan rincian:
- Dua unit rumah rusak berat
- Tiga unit rumah rusak ringan
Selain kerusakan tersebut, hasil peninjauan lapangan menunjukkan terdapat 47 unit rumah lain berada dalam kondisi rawan jika terjadi pergerakan tanah susulan. Pendataan dan evakuasi warga masih terus dilakukan hingga beberapa hari setelah kejadian.
Mengapa wilayah tersebut berisiko tinggi?
Curah hujan tinggi menjadi faktor utama terjadinya gerakan tanah. Kondisi tanah yang jenuh air menyebabkan stabilitas lereng menurun dan memicu pergeseran lapisan tanah.
Situasi ini berpotensi berulang, terutama apabila hujan deras kembali terjadi dalam waktu dekat.
BNPB menilai kawasan tersebut memiliki kerentanan tinggi sehingga perlu pengawasan ketat. Pemerintah daerah bersama tim kebencanaan juga terus memantau perubahan kondisi tanah di sekitar permukiman warga.
Untuk memastikan keselamatan masyarakat, tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya melakukan pendampingan langsung di lapangan.
Abdul Muhari mengimbau warga yang berada di zona rawan untuk meningkatkan kewaspadaan.
"47 kepala keluarga yang berada dalam zona rawan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gerakan tanah susulan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi," katanya dikutip dari Antara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang