Mirip Kasus SMAN 72, Pelaku Ledakan SMPN 3 Sungai Raya Tulis Nama Pelaku Teror di Tas Sekolah

Mirip Kasus SMAN 72, Pelaku Ledakan SMPN 3 Sungai Raya Tulis Nama Pelaku Teror di Tas Sekolah

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap temuan di balik aksi pelemparan molotov oleh seorang siswa di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat pada Selasa (3/2/2026).

Aparat menemukan deretan nama dalang kekerasan massal dari berbagai negara yang tertulis di tas sekolah milik pelaku.

Temuan tersebut mengingatkan pada pola serupa yang sebelumnya muncul dalam kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat (7/11/2025) ketika pelaku juga terinspirasi figur-figur kekerasan ekstrem global.

“Nama-nama yang tertera adalah pelaku penembakan massal dan sering dijadikan referensi di komunitas ekstrem online,” kata Juru Bicara Densus 88, Kombes Polisi Mayndra Eka Wardhana, di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu.

Daftar Nama Pelaku Kekerasan yang Tertulis di Tas Sekolah

Mayndra menyebutkan, nama pertama yang ditemukan adalah Stephen Paddock, pelaku penembakan massal Las Vegas pada 2017.

“Insiden ini termasuk penembakan paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat modern,” katanya.

Nama berikutnya adalah Adam Peter Lanza, pelaku penembakan di Sandy Hook Elementary School pada 2012 yang menewaskan anak-anak usia sekolah dasar beserta guru.

“(Adam Peter Lanza) sering dijadikan simbol ekstrem kekerasan nihilistik,” ujarnya.

Selain itu, tercatat pula nama Seung-Hui Cho, pelaku penembakan Virginia Tech 2007 yang kerap dijadikan rujukan dalam kajian mengenai pelaku tunggal dan keterasingan sosial.

Nama lain yang ditemukan adalah Salvador Ramos, pelaku penembakan di sekolah dasar Uvalde, Texas, pada 2022, serta Luca Traini yang melakukan penembakan bermotif rasial di Macerata, Italia, pada 2018.

“(Luca Traini) berafiliasi dengan ideologi ekstrem kanan,” ucapnya.

Nama terakhir yang tertulis adalah Brenton Tarrant, pelaku serangan teror di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019.

Tak hanya nama, pada tas siswa tersebut juga ditemukan tulisan #ZERO DAY dan TCC. 

Menurut Mayndra, istilah #ZERO DAY kerap digunakan dalam subkultur kekerasan ekstrem untuk menandai hari pelaksanaan serangan.

“Ini juga terkait dengan narasi film Zero Day tentang penembakan sekolah,” imbuhnya.

Sementara itu, TCC merujuk pada True Crime Community, komunitas daring yang dinilai sering memaparkan narasi ekstremisme dan kekerasan.

Densus 88 menilai pelaku merupakan korban perundungan yang menyimpan keinginan balas dendam terhadap lingkungan sekolahnya. 

Selain itu, anak tersebut juga diduga menghadapi persoalan keluarga.

Dorongan balas dendam itulah yang kemudian bermuara pada aksi kekerasan di lingkungan sekolah.

Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Juga Tulis Nama Dalang Kekerasan

Pola serupa sebelumnya juga ditemukan dalam kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara. 

Densus 88 mengungkap bahwa anak berkonflik hukum dalam peristiwa tersebut menuliskan nama-nama tokoh teror global pada senjata mainan yang ditemukan di lokasi.

Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menyebut terdapat enam figur yang menjadi inspirasi pelaku, meski insiden SMAN 72 dipastikan bukan aksi terorisme.

“Nah di sini ada suatu hal yang memprihatinkan, ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur kita sebutkan ada kurang lebih 6 yang tercatat," ujar AKBP Mayndra, dikutip dari Tribratanews, Rabu (12/11/25).

Enam nama tersebut meliputi Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan Columbine High School 1999; Dylann Storm Roof, pelaku penyerangan gereja di Charleston 2015; Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan masjid Quebec 2017; Vladislav Roslyakov, pelaku penembakan Politeknik Kerch 2018; Brenton Tarrant, pelaku serangan Christchurch 2019; serta Natalie Lynn ‘Samantha’ Rupnow, pelaku penembakan sekolah di Madison pada 2024.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang