Densus 88 Ungkap Peran Grup True Crime Community di Balik Aksi Molotov Siswa SMPN 3 Sungai Raya

True Crime Community, Densus 88, Densus 88 Ungkap Peran Grup True Crime Community di Balik Aksi Molotov Siswa SMPN 3 Sungai Raya, Apa yang diungkap Densus 88 terkait pelaku?, Bagaimana kronologi kejadian di SMPN 3 Sungai Raya?, Mengapa True Crime Community dinilai berbahaya?, Apa peran orang tua dan masyarakat dalam pencegahan?

 Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap fakta baru terkait kasus pelemparan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Pelaku yang merupakan seorang siswa diketahui tergabung dalam komunitas daring bernama True Crime Community yang menyebarkan ideologi kekerasan dan paparan ekstremisme.

Kasus ini kembali menyoroti bahaya konten kekerasan di ruang digital, terutama bagi anak-anak dan remaja yang rentan secara psikologis dan sosial.

Aparat kepolisian menilai kejadian tersebut bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, pengalaman personal, serta paparan ideologi berbahaya.

Apa yang diungkap Densus 88 terkait pelaku?

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana menjelaskan bahwa pelaku memiliki ketertarikan terhadap konten kekerasan dan aktif dalam komunitas True Crime Community.

“Yang bersangkutan tertarik dengan konten-konten kekerasan dan juga tergabung dalam komunitas True Crime Community,” kata Mayndra di Jakarta, Rabu (4/2/2026) dikutip dari Antara.

Menurutnya, anak tersebut juga merupakan korban perundungan di lingkungan sekolah. Perasaan tertekan akibat perlakuan teman-temannya memicu keinginan untuk melakukan balas dendam.

Kondisi tersebut diperparah dengan dugaan adanya masalah keluarga yang turut memengaruhi kondisi psikologis pelaku.

“Balas dendam kemudian dilampiaskan dengan melakukan aksi kekerasan di sekolahnya,” ujarnya.

Mayndra memastikan Densus 88 mendampingi Polda Kalimantan Barat dalam penanganan kasus ini, mulai dari proses pemetaan jaringan hingga pemenuhan alat bukti yang diperlukan.

Bagaimana kronologi kejadian di SMPN 3 Sungai Raya?

True Crime Community, Densus 88, Densus 88 Ungkap Peran Grup True Crime Community di Balik Aksi Molotov Siswa SMPN 3 Sungai Raya, Apa yang diungkap Densus 88 terkait pelaku?, Bagaimana kronologi kejadian di SMPN 3 Sungai Raya?, Mengapa True Crime Community dinilai berbahaya?, Apa peran orang tua dan masyarakat dalam pencegahan?

Sejumlah barang bukti yang disita polisi terkait kasus peledakan Molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Sebelumnya, Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade menjelaskan bahwa pelaku datang ke lingkungan sekolah pada Selasa (3/2) dan melemparkan botol berisi bahan bakar yang memicu percikan api serta kepulan asap.

Beruntung, pihak sekolah bersama warga sekitar bertindak cepat melakukan penanganan awal. Api berhasil dipadamkan sebelum merambat ke bangunan utama maupun ruang kelas.

“Tidak ada korban jiwa. Situasi berhasil dikendalikan dengan cepat,” kata Ade.

Personel Polsek Sungai Raya segera mengamankan lokasi kejadian, sementara tim Inafis Satreskrim Polres Kubu Raya mengumpulkan barang bukti untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Polisi memastikan kondisi keamanan di sekolah telah terkendali dan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan pengawasan aparat.

Mengapa True Crime Community dinilai berbahaya?

Densus 88 sebelumnya telah mengungkap keberadaan puluhan grup yang terafiliasi dengan jaringan True Crime Community.

Pengungkapan tersebut disampaikan pada 7 Januari 2026 dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta.

“Adapun beberapa nama grup yang terafiliasi dengan true crime community ini, ada puluhan grup,” kata Mayndra.

Ia merinci sejumlah grup tersebut, antara lain TCC Community, True Crime Community, TCCLand Under Akmal, WAG TCC Reborn, TCC Universe, Indonesia Headhunter, Meinchat, Medenist Brigade, Legion Devision, hingga Have Sex With Your Gun. Grup-grup ini tersebar di berbagai platform digital dan masih terpantau aktif.

Menurut Mayndra, kelompok-kelompok tersebut berbahaya karena mengajak anak-anak dan remaja untuk mengagungkan kekerasan serta menjadikannya sebagai bentuk ekspresi diri.

Apa peran orang tua dan masyarakat dalam pencegahan?

Densus 88 mengimbau orang tua untuk lebih waspada terhadap aktivitas digital anak. Jika menemukan nama-nama grup tersebut di gawai anak, orang tua diminta segera memberikan pendampingan dan bimbingan.

“Bagi orang tua, apabila menemukan grup-grup ini di gawai anaknya, segera untuk diberikan bimbingan,” ujar Mayndra.

Selain itu, aparat juga mengungkap sejumlah simbol yang kerap digunakan dalam paham ekstremisme, seperti Black Sun, Ku Klux Klan, Nazi, White Power, hingga gestur hormat Nazi. Simbol-simbol ini ditemukan dalam catatan pribadi, atribut pakaian, serta komunitas digital.

Mayndra menegaskan bahwa sebagian besar anak yang terpapar tidak menganut ideologi tersebut secara penuh.

“Untuk anak-anak kita ini, mereka tidak menganut paham ini secara penuh atau total. Mereka hanya menjadikan ini sebagai inspirasi dan rumah kedua bagi mereka,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang