Fakta Mencengangkan Pelaku Peledakan SMAN 72, Sejak Awal 2025 Pendam Dendam!
Misteri di balik ledakan bom rakitan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara mulai terkuak. Polisi mengungkap kalau F, pelaku yang masih berstatus pelajar dan kini ditetapkan sebagai Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH), ternyata sudah lama menyimpan dendam dan rasa tertekan.
Dendam itu bukan muncul tiba-tiba. Ia sudah memupuk perasaan kesepian dan kemarahan sejak awal tahun 2025, hingga akhirnya meledak. Bukan hanya secara harfiah, tapi juga secara emosional. Hal itu diungkap Juru Bicara Densus 88, Ajun Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana.
"Dari awal tahun yang bersangkutan sudah mulai melakukan pencarian-pencarian, perasaan merasa tertindas, kesepian, tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa. Lalu yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam terhadap beberapa perlakuan terhadap yang bersangkutan," kata dia, dikutip, Rabu, 12 November 2025.
Jubir Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana
Dari penelusuran tim Densus 88, pelaku mulai mengakses situs-situs berisi kekerasan ekstrem dan kematian tragis. Disanalah ia menemukan dunia baru, yaitu komunitas gelap di media sosial yang justru memuja kekerasan.
“Disitu menginspirasi bersangkutan, katena yang bersangkutan mengikuti komunitas di media sosial di mana di situ mereka mengagumi kekerasan. Motivasi yang lain ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu mengupload ke media tersebut, komunitas itu akan mengapresiasi sesuatu hal yang heroik. Disitu hal yang memprihatinkan," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, perawatan terduga pelaku insiden ledakan di SMAN 72, Kelapa Gading, Jakarta Utara, dipindahkan dari Rumah Sakit Islam Cempaka Putih ke Rumah Sakit Polri Kramatjati.
Langkah ini dilakukan untuk memudahkan proses pemeriksaan sekaligus memastikan pemulihan fisik dan psikis pelaku yang masih di bawah umur. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto mengatakan, tim penyidik akan lebih leluasa melakukan pemeriksaan terhadap terduga pelaku setelah kondisinya berangsur membaik.
“Memudahkan juga penyidik untuk bisa mendalami informasi. karena yang bersangkutan sudah dalam kondisi sadar. Apabila dalam perkembangan kondisi kesehatan semakin baik, itu akan lebih memudahkan penyidik untuk meminta keterangan,” kata Budi kepada wartawan, Senin, 10 November 2025.
Selain alasan teknis penyidikan, pemindahan juga dilakukan agar proses perawatan lebih aman dan terpantau langsung oleh tim gabungan yang telah dibentuk Polri.
Sebagai informasi, kejadian ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta saat melaksanakan shalat Jumat. Akibat kejadian ini, puluhan siswa harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Berdasarkan informasi dari Direktur Utama Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, dr. Pradono Handojo pada Sabtu kemarin, sebagian besar korban mengalami gangguan pendengaran akibat tekanan ledakan yang cukup kuat.
Meski kondisi fisik para korban mulai membaik, ia menilai pemulihan mental justru menjadi tantangan terbesar pascakejadian.
"Seperti yang dikatakan representative KPAI, kami merasa pemulihan secara jasmani akan terjadi dengan cepat karena karakter anak-anak masih muda, kecuali pada bagian pendengaran yang sekitar dua pertiga mengalami gangguan pendengaran," ucapnya.