Cerita Wildan Tetap Produktif Selama Jalani WFH sebagai ASN Gen Z
Setiap hari Rabu, Wildan tak lagi harus berangkat pagi menembus kemacetan di KotaSurabaya menuju kantor.
ASN Gen Z di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu menjalani work from home (WFH) dari kamar rumahnya, ditemani laptop, ponsel, serta jadwal rapat daring yang tetap padat sejak pagi hingga sore.
Di satu sisi, sistem kerja ini membuat aktivitas terasa lebih fleksibel dan hemat energi. Namun di sisi lain, batas antara pekerjaan dan waktu pribadi justru semakin tipis.
“Tentunya ini jadi angin segar ya, karena tujuan utamanya juga untuk menghemat energi di tengah perang dan harga BBM yang naik, sehingga bisa efisiensi bahan bakar,” jelas Wildan saat diwawancarai Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Koordinasi tetap jalan meski dari rumah
Ilustrasi bekerja.
Wildan mengatakan, sistem kerja jarak jauh ternyata tetap membuat pekerjaan berjalan produktif. Menurut dia, perkembangan teknologi membuat koordinasi kini lebih mudah dilakukan tanpa harus bertemu langsung.
“Ternyata WFH juga sama-sama produktifnya, karena sekarang koordinasi dan komunikasi tetap bisa lewat media sosial dan channel lainnya,” ujarnya.
Rutinitas selama WFH pun tetap terpantau ketat. ASN di lingkungan kerjanya diwajibkan melakukan absensi sebanyak tiga kali dalam sehari.
Sistem itu juga dilengkapi titik koordinat lokasi untuk memastikan pegawai benar-benar bekerja dari rumah.
“Di Pemprov Jatim, kami absennya 3 kali yaitu pas pagi, siang setelah istirahat, dan kepulangan atau ketika selesai kerja. Itupun ada koordinat lokasi yang memastikan bahwa kami bekerja dari rumah,” katanya.
Bagi Wildan, rapat daring menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari hari kerja. Panggilan Zoom bisa berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Karena itu, meski tidak datang ke kantor, aktivitasnya tetap padat.
“Kebetulan pekerjaan aku ini juga sering zoom pagi, siang atau sore. Jadi kinerjanya masih tetap bisa terpantau walaupun sedang WFH,” lanjut dia.
Suasana rumah jadi tempat kerja baru
Di tengah aktivitas daring yang padat, Wildan bersyukur keluarganya memahami ritme kerjanya selama WFH.
Saat jam kerja berlangsung, anggota keluarga berusaha tidak mengganggu agar konsentrasinya tetap terjaga.
“Alhamdulillah-nya dari keluarga dukungannya sangat baik. Kalau memang jam kerja, keluarga aku paham dan tidak mengganggu jam kerja. Tapi di jam-jam istirahat ada momen kami ngobrol dan makan,” tuturnya.
Momen istirahat itu menjadi jeda singkat sebelum Wildan kembali fokus ke depan layar laptop di kamarnya.
Ruang pribadi yang biasanya digunakan untuk beristirahat kini berubah menjadi kantor kecil dengan jadwal rapat dan tumpukan pekerjaan digital.
Namun, fleksibilitas bekerja dari rumah ternyata juga membawa tantangan tersendiri.
Tantangan jam kerja yang bisa melebihi batas
Wildan mengaku ada kalanya pekerjaan justru terasa lebih panjang saat WFH. Karena semua komunikasi dilakukan secara daring, pekerjaan bisa terus berjalan bahkan melewati jam kerja normal.
“Terkadang ada kalanya melebihi batas jam kerja biasanya karena ada banyak yang harus dikerjakan. Kalau ada diklat di hari WFH pun kami harus tetap masuk ke kantor,” katanya.
Tak hanya itu, intensitas menatap layar juga meningkat dibanding saat bekerja langsung di kantor.
“WFH ini mengharuskan kami untuk lebih lama natap layar, karena koordinasi harus lewat handphone atau laptop. Praktik ini biasanya bisa langsung komunikasi pas di kantor,” ujar Wildan.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pekerja harus lebih memperhatikan kesehatan mata. Ia pun berusaha mengambil jeda di sela pekerjaan agar tubuh tidak terlalu lelah.
“Jadi kesehatan matanya harus lebih aware, ambil jeda sedikit demi kesehatan mata juga,” tambahnya.
Tidak semua ASN bisa ikut sistem WFH
Meski begitu, Wildan menyadari kebijakan WFH tidak bisa diterapkan merata di semua bidang pekerjaan ASN.
Beberapa layanan publik tetap harus berjalan secara langsung dan membutuhkan kehadiran petugas di lokasi kerja.
“Tapi memang tidak semua bisa WFH, ada beberapa staff di bidangku seperti pelayanan rumah sakit hewan itu nggak bisa WFH, jadi diatur porsinya,” jelasnya.
Pengalaman Wildan memperlihatkan bahwa WFH bagi ASN Gen Z bukan sekadar bekerja santai dari rumah.
Di balik fleksibilitas dan efisiensi waktu perjalanan, ada tuntutan koordinasi digital yang intens serta jam kerja yang kadang terasa semakin panjang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang