Dokter UI Beri Cara Redakan Gejala GERD yang Kambuh di Perjalanan Mudik

GERD, cara mengatasi GERD, mudik, Dokter UI Beri Cara Redakan Gejala GERD yang Kambuh di Perjalanan Mudik

Masyarakat akan berbondong-bondong melakukan perjalanan mudik menuju kampung halaman jelang Hari Raya.

Ada yang hanya menempuh satu hingga dua jam perjalanan, namun ada pula yang menempuh ratusan kilometer hingga memakan waktu lebih dari lima jam.

Perjalanan jauh saat puasa tentu saja menguras energi. Hal ini terkadang memicu beberapa penyakit kronis untuk kambuh, termasuk Gastroesophageal Reflux Disease atau GERD.

Dikutip dari laman National Hospital Surabaya, GERD adalah penyakit kronis saluran pencernaan yang terjadi akibat asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) secara berulang kali.

Kondisi ini disebabkan melemahnya otot katup bawah kerongkongan (sfingter), menyebabkan iritasi, peradangan, dan gejala khas seperti heartburn (sensasi terbakar di dada). 

GERD yang kambuh akan sejenak "melumpuhkan" penderitanya. Mereka jadi terdera mual hingga muntah, sesak napas, ulu hati sakit, hingga aktivitas pun terganggu.

Lantas, bagaimana cara mengatasi GERD kambuh saat dalam perjalanan mudik?

Cara meredakan gejala GERD di perjalanan

Dilansir dari Antara, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi lulusan Universitas Indonesia Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K) mengatakan, penting untuk mengetahui penanganan yang tepat jika gejala GERD kambuh dalam perjalanan mudik. Apalagi, jika pemudik masih menjalankan ibadah puasa.

“Ketika merasakan gejala GERD tetapi Anda masih berada dalam perjalanan dan kondisi berpuasa, lakukan langkah berikut untuk meredakan gejala,” katanya, Selasa (17/3/2026).

Langkah pertama yang disarankan Hasan adalah melonggarkan pakaian.

"Jika menggunakan ikat pinggang atau pakaian yang ketat, segera longgarkan karena tekanan pada perut dapat memperburuk aliran balik asam lambung," sarannya.

Kedua, atur posisi duduk dengan tegak, jangan membungkuk atau meringkuk. Jika memungkinkan, sandarkan punggung dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut untuk memanfaatkan gaya gravitasi agar asam lambung turun, tidak terus naik.

Ketiga, lakukan pernapasan dalam dengan tarik napas melalui hidung dan buang perlahan melalui mulut. Hal ini membantu merelaksasi otot saluran cerna dan mengurangi rasa panik yang dapat memperburuk produksi asam lambung.

“Jika kondisi tidak mereda dan terjadi gejala berat yang ditandai dengan nyeri ulu hati sangat hebat disertai muntah atau sesak napas, maka sebaiknya jangan memaksakan diri. Segerakan berbuka dengan air hangat (bukan air dingin atau air dengan es batu) dan konsumsi obat jika perlu,” katanya.

Hasan mengingatkan untuk menghindari mengonsumsi makanan maupun minuman yang dapat memperburuk kondisi.

Jika gejala GERD yang dialami tak berangsur pulih, segera kunjungi unit gawat darurat (UGD) rumah sakit terdekat untuk penanganan yang tepat.

Menurut Hasan, ada beberapa gejala awal GERD kambuh.

Biasanya dimulai dengan penderita mengalami rasa asam atau pahit di mulut (regurgitasi asam) dan sensasi perih atau panas terbakar di dada dan ulu hati (heartburn).

"Selain itu, penderitanya juga kerap merasakan mual dan muntah, begah, nyeri dada, bahkan gangguan pernapasan," ujarnya.

Cara mencegah GERD kambuh

GERD, cara mengatasi GERD, mudik, Dokter UI Beri Cara Redakan Gejala GERD yang Kambuh di Perjalanan Mudik

Ilustrasi GERD.

Saat dalam perjalanan, kondisi GERD dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain karena terburu-buru makan dan minum saat sahur atau ketika berbuka di perjalanan, mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein berlebihan.

Selain stres dan kelelahan dalam perjalanan, posisi duduk terlalu lama juga dapat menyebabkan tekanan pada area perut, sehingga mendorong asam lambung naik.

Hasan menyarankan, bagi penderita GERD yang berencana mudik tetapi ingin tetap berpuasa secara aman, ada hal-hal yang perlu diperhatikan.

Antara lain, tetap makan sahur meski sedang berada dalam perjalanan, pilih karbohidrat kompleks dan serat tinggi dengan porsi yang cukup, upayakan untuk tidak terburu-buru saat makan dan minum.

Hindari juga "balas dendam" saat berbuka puasa.

"Makan dalam porsi kecil tetapi sering lebih baik dibandingkan dengan sekali makan besar yang membuat lambung menjadi kaget," ungkapnya.

Disarankan juga untuk jangan langsung tidur setelah makan. Beri jeda minimal 3 jam setelah makan (sahur/buka) sebelum berbaring.

"Penting juga untuk mengelola stres dengan baik selama perjalanan yang berisiko meningkatkan asam lambung. Tetaplah tenang dan beristirahatlah secara berkala di rest area," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang