Cara Mengecek Denyut Jantung Sendiri, Pastikan Tak Ada Gejala Aritmia
Aritmia masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan kardiovaskular yang sering luput dari perhatian masyarakat. Aritmia atau gangguan irama jantung memang belum sepopuler penyakit jantung koroner atau penyakit jantung bawaan.
Padahal, deteksi dini sederhana bisa menyelamatkan banyak nyawa. Langkah sederhana seperti memeriksa denyut nadi sendiri sebagai deteksi dini sudah dapat mendeteksi aritmia. Scroll lebih lanjut yuk!
“Cara mengecek denyut jantung yaitu dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, hitung denyutnya selama 30 detik dan kalikan 2 untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal biasanya berada di kisaran 60 hingga 100 detak per menit,” jelas Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, Head of Pulse Day Task Force sekaligus Chairperson of Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS).
Deteksi dini aritmia juga dapat membantu mengenali Atrial Fibrillation (AF), salah satu jenis aritmia yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab utama stroke yang sebenarnya bisa dicegah. AF sering kali tidak menimbulkan gejala khas, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya berisiko.
Terkait AF, dr. Dicky menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi ketika irama jantung menjadi tidak teratur dan sering kali sangat cepat.
“Irama jantung yang tidak teratur ini dapat menyebabkan terbentuknya gumpalan darah di jantung, yang berpotensi memicu stroke, gagal jantung, maupun berbagai komplikasi lain yang berkaitan dengan sistem kardiovaskular. Gejala AF dapat berbeda-beda pada setiap orang, namun umumnya meliputi detak jantung yang cepat atau berdebar kuat (palpitasi), nyeri dada, pusing, kelelahan, kelemahan tubuh, sesak napas, hingga menurunnya kemampuan berolahraga," katanya.
Ia menambahkan bahwa pada beberapa kasus, gejala AF dapat muncul dan menghilang secara tiba-tiba, tetapi pada sebagian lainnya bisa berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Tentu saja akan sangat mengurangi kualitas hidup penderitanya, sehingga ini membuat kami semakin giat untuk menyuarakan deteksi dini aritmia, salah satunya AF,” terang dr. Dicky.
Sementara itu, dr. Agung Fabian Chandranegara, Sp.JP(K), FIHA, Sekretaris Jenderal PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) menekankan bahwa pencegahan dan deteksi dini tetap menjadi langkah paling efektif.
“Periksa tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol minimal setahun sekali. Bila ada riwayat keluarga meninggal mendadak di usia muda, jantung berdebar, atau pingsan tanpa sebab jelas, maka orang tersebut harus segera konsultasi ke dokter jantung,” tegasnya.
“Selain itu, mengenali tanda-tanda gangguan irama jantung juga sangat penting seperti nyeri dada, sesak, mudah lelah, atau detak jantung yang tidak teratur. Jika kemudian merasa ada kelainan, maka pemeriksaan lanjutan seperti EKG, ekokardiografi, atau Holter monitoring mungkin perlu juga dilakukan. Gaya hidup sehat tetap menjadi kunci, seperti berhenti merokok, rutin berolahraga, tidur cukup, dan mengelola stres bisa menurunkan risiko secara signifikan," tambahnya.
Tak kalah penting, masyarakat juga perlu memahami Bantuan Hidup Dasar (BHD) seperti resusitasi jantung paru (RJP/CPR) untuk meningkatkan peluang hidup pada kasus henti jantung mendadak.
“Pada kasus henti jantung di luar rumah sakit (OHCA), setiap menit tanpa CPR menurunkan peluang hidup secara signifikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa CPR oleh penolong di sekitar pasien dapat meningkatkan peluang hidup tiga hingga empat kali lipat, sedangkan penggunaan AED (Automated External Defibrillator) oleh masyarakat bisa meningkatkan peluang hidup hingga lima kali lipat,” kata dr. Agung.
Dengan memahami cara sederhana mengecek denyut jantung dan mengenali gejala aritmia, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada terhadap kesehatan jantungnya. Langkah kecil ini dapat menjadi awal penyelamat nyawa yang besar.
Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengenali irama jantung, berbagai lembaga jantung internasional menggelar Pulse Day, sebuah inisiatif global yang didedikasikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang aritmia.
Hari ini menjadi momentum untuk menginspirasi masyarakat di seluruh dunia agar mengambil langkah-langkah sederhana namun berdampak besar dalam melindungi kesehatan jantung, seperti memahami irama jantungnya, memeriksa denyut nadi secara rutin, dan mencari nasihat medis jika ditemukan ketidakteraturan.