BPBD Sulawesi Selatan Ingatkan Semua Wilayah Berpotensi Banjir, Ini Alasannya
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Amson Padolo, mengingatkan bahwa saat ini hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan berpotensi mengalami banjir, termasuk daerah-daerah yang sebelumnya tidak masuk dalam peta rawan bencana.
Meski peta bencana mengidentifikasi beberapa daerah rawan banjir seperti Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan Wajo, Amson menekankan bahwa dengan adanya anomali cuaca dan krisis iklim, prediksi bencana alam menjadi semakin sulit.
“Seperti pada peta bencana banjir yang mencatat Kota Makassar, Kabupaten Maros dan Wajo sebagai wilayah rawan banjir, namun saat ini hampir semua daerah rawan banjir. Termasuk daerah dataran tinggi seperti Kabupaten Enrekang dan Toraja, itu juga pernah banjir,” ujar Amson di Makassar, Senin (3/11/2025), dikutip Antara.
Pemetaan dan Mitigasi Bencana di Setiap Daerah
Amson mengimbau pemerintah daerah untuk segera melakukan pemetaan wilayah yang rawan banjir dan mempersiapkan langkah-langkah mitigasi, seperti menyiapkan stok bantuan darurat dan melakukan upaya pencegahan lainnya.
BPBD Sulsel sendiri telah memulai langkah-langkah mitigasi sejak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca untuk musim hujan yang diperkirakan akan berlangsung hingga April 2026.
Apalagi secara geografis, Sulawesi Selatan terdiri dari wilayah pegunungan, lautan pesisir hingga lembah dataran rendah, yang mengakibatkan berisiko terhadap bencana alam.
“Maka dari itu, kita mulai mengantisipasi dengan posko-posko kedaruratan, termasuk kesiapan personil dan memperkuat komunikasi dan edukasi (KIE) terkait kebencanaan,” terang Amson.
Untuk itu, BPBD Sulsel telah mempersiapkan posko-posko kedaruratan dan memperkuat komunikasi serta edukasi kebencanaan di tingkat masyarakat.
Data Bencana di Sulawesi Selatan
BPBD Sulsel mencatatkan sejumlah kejadian bencana alam selama beberapa tahun terakhir.
Pada 2023, total bencana yang tercatat mencapai 988 kejadian, dengan bencana kebakaran mendominasi sebanyak 356 kasus, disusul angin kencang 235 kasus, tanah longsor 90 kasus, dan banjir 70 kejadian.
Namun, angka kejadian bencana menurun pada 2024, dengan total kejadian bencana tercatat 924 kasus.
Meskipun demikian, kejadian banjir mengalami lonjakan signifikan pada 2024, dengan 167 kejadian banjir, dua kali lipat lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.
Hingga Oktober 2025, bencana yang terjadi telah mencapai 706 kejadian, dan banjir telah terjadi 87 kali.
Penyebab Peningkatan Bencana
Amson mengungkapkan bahwa salah satu penyebab meningkatnya jumlah bencana di Sulawesi Selatan adalah perubahan iklim dan tingginya tingkat pembukaan lahan untuk pemukiman.
Ia menyarankan perlunya sinkronisasi antara dokumen kebencanaan dengan Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kajian Risiko Bencana (KRB), sehingga kebijakan mitigasi bisa lebih terencana dan efektif.
“Kita menekankan bencana adalah urusan bersama dari unsur pentahelix dan semua sektor yang terkait. Mitigasi dilakukan baik secara struktural seperti normalisasi sungai, maupun non-struktural yang dilaksanakan oleh BPBD,” lanjut Amson.
Peringatan Dini: Cuaca Ekstrem di Wilayah Indonesia
Dilansir dari laman BMKG, seiring dengan musim hujan yang sudah memasuki puncaknya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa hujan berintensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Aceh, Sumatera bagian selatan, Bengkulu, Lampung, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua termasuk daerah yang harus mewaspadai hujan lebat.
Selain itu, beberapa daerah seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah diperkirakan akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, bahkan mencapai kategori Siaga.
Puncak Musim Hujan dan Potensi Bencana Hidrometeorologi
Menurut BMKG, puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi secara bertahap mulai November 2025 hingga Februari 2026, dengan peningkatan curah hujan yang signifikan pada Desember 2025 hingga Januari 2026.
Selama periode ini, masyarakat diminta untuk selalu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
“Namun demikian, pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 menjadi fase puncak musim hujan utama bagi sebagian besar wilayah Indonesia yang berpotensi meningkatkan curah hujan tinggi dan bencana hidrometeorologi,” terang Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.