Meski Cenderung Stabil, CSIS Ingatkan 4 Ancaman Bagi Ekonomi RI di Tahun 2026

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan

Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, memaparkan sejumlah trigger yang dapat menjadi ancaman dan risiko bagi stabilitas perekonomian nasional di tahun 2026 ini.

Dalam Media Briefing 'Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik' secara virtual, dia mengatakan bahwa secara makro perekonomian Indonesia hingga akhir 2025 menunjukkan indikator-indikator yang cukup baik, jika dilihat berdasarkan data agregatnya.

"GDP kita walaupun jauh dari target diperkirakan masih akan tumbuh mendekati 5 persen, dan inflasi walaupun di akhir-akhir bulan kemarin meningkat, tapi dia masih di bawah batas toleran 3 persen yang ditetapkan oleh Bank Indonesia," kata Deni, Rabu, 7 Januari 2026.

Media Briefing CSIS, Outlook 2026

Dia menambahkan, catatan positif juga terjadi pada neraca perdagangan Indonesia, yang meskipun surplusnya makin mengecil namun masih berada di level positif. Sementara sektor finansial dan perbankan pun menurutnya juga masih baik, dengan non-performance loan atau NPL yang masih terkendali di bawah 3 persen atau masih dalam batas aman.

Meski demikian, Deni menegaskan bahwa walaupun data-data agregat ekonomi Indonesia masih memperlihatkan kondisi ekonomi nasional yang masih cukup baik dan stabil, tapi sebenarnya di balik itu Indonesia tengah menghadapi tantangan atau tekanan yang sunyi dan risiko-risiko yang bisa mengarah pada instabilitas. 

"Yaitu di mana sektor eksternal kita itu vulnerable. Ada banyak tekanan dari sisi eksternal dan di sisi lain, sebenarnya walaupun data agregatnya baik, secara domestik situasi kita juga tidak begitu mengembirakan," ujar Deni.

Karenanya, Dia pun menyampaikan bahwa ada 4 tantangan atau risiko yang mungkin akan dihadapi dan harus diwaspadai oleh Indonesia di tahun 2026 ini. Yang pertama yakni soal adanya risiko global dan tekanan dari sisi eksternal.

Yang kedua adalah permasalahan fiskal dan moneter yang menurutnya laten di Indonesia, sehingga membuat sulit untuk bergerak. Yang ketiga adalah terkait dengan layoff atau PHK dan pengangguran usia muda, khususnya pengangguran muda dan terdidik yang bisa membahayakan sewaktu-waktu seperti menjadi kerusuhan.

"Dan yang terakhir terkait dengan permasalahan volitalitas dari harga energi dan pangan secara nasional," ujarnya.