Pilih Ucapkan Selamat dan Fokus ke Keluarga, Ello Enggan Berkomentar Lebih soal Buku Aurelie Moeremans
Marcello Tahitoe atau Ello ikut menjadi sorotan publik seiring ramainya perbincangan tentang buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Sebagai salah satu mantan kekasih Aurelie, kehadiran Ello di ruang publik pun memicu rasa penasaran banyak pihak yang menantikan tanggapannya atas buku memoar tersebut.
Namun, alih-alih menanggapi dengan panjang lebar atau terlibat dalam spekulasi yang berkembang, Ello yang kini telah menjalani kehidupan sebagai suami dan ayah itu menegaskan bahwa dirinya tidak ingin ikut larut dalam polemik masa lalu. Sehingga dirinya hanya memberikan ucapan selamat kepada Aurelie tanpa menanggapi soal buku tersebut. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
Marcello Tahitoe alias Ello.
“Saya cuma mau bilang selamat atas rilis karya literasinya, luar biasa diterima apresiasinya. Sekarang saya mau pulang ketemu sama istri dan anak saya,” ujar Ello yang dikutip dari tayangan YouTube pada Selasa, 20 Januari 2026.
Pernyataan singkat tersebut langsung menjadi perhatian publik. Banyak pihak menilai respons Ello mencerminkan sikap dewasa dan profesional dalam menyikapi masa lalu. Ia tidak membuka ruang interpretasi baru, tidak pula menanggapi isu sensitif yang berpotensi berkembang menjadi polemik berkepanjangan.
Sikap Ello itu justru menuai pujian dari warganet. Sejumlah komentar positif bermunculan di media sosial, menilai keputusan Ello untuk menjaga jarak dari isu tersebut sebagai langkah yang bijak.
“Gentle.... good answer.”
“Keren lo Ello ,,????????gak penting yg penting anak istri.”
“Gentleman..”
“Sikap nya bgus banget sihh, dia profesional. Itu masa lalu juga. Gak kayak si ono, malah ngajakin kumon.”
Di sisi lain, buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans masih terus menjadi bahan diskusi publik. Buku tersebut bukan hanya sekadar memoar, melainkan ruang refleksi personal Aurelie untuk berdamai dengan pengalaman hidupnya. Ia menegaskan bahwa proses penulisan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kejujuran.
“Ceritanya sudah aku simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku lakukan secara intens dalam beberapa bulan. Aku nulis pelan-pelan, satu per satu, karena aku ingin setiap bagian ditulis dengan jujur dan hati-hati, bukan sekadar cepat selesai,” ungkap Aurelie saat dihubungi oleh awak media.
Aurelie juga mengungkap bahwa awalnya tulisan tersebut bersifat sangat pribadi dan tidak direncanakan untuk dipublikasikan.
“Awalnya bukan untuk konsumsi publik. Aku menulis sebagai bentuk kejujuran ke diri sendiri. Tapi seiring waktu, aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka,” jelas Aurelie.
Ia kembali menegaskan bahwa buku tersebut bukan ditulis untuk membalas luka masa lalu.
“Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku,” jelasnya lagi.