Tengku Zanzabella Ragukan Isi Buku Aurelie Moeremans: Banyak Hal yang Tidak Konsisten
Polemik buku memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans kembali memanas setelah Tengku Zanzabella secara terbuka menyatakan keraguannya terhadap sejumlah narasi di dalam buku tersebut.
Menurutnya, ada banyak bagian cerita yang dinilai tidak konsisten, mulai dari detail peristiwa hingga kedekatan antar tokoh yang diceritakan. Pernyataan ini sontak menjadi sorotan publik. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
Tengku Zanzabella
“Banyak hal-hal yang tidak konsisten di sana (dalam buku). Seperti detail, pertemuan, kedekatan itu nggak konsisten,” ucap Tengku Zanzabella yang dikutipo dari video di akun Instagramnya @tengku.zanzabella pada Senin, 19 Januari 2026.
Keraguan tersebut membuatnya menilai bahwa publik seharusnya tidak terburu-buru menarik kesimpulan atau menunjuk pihak tertentu sebagai pelaku. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian, terutama karena isu yang diangkat dalam buku tersebut tergolong sensitif dan berdampak besar terhadap reputasi seseorang.
Sebagaimana diketahui, Aurelie Moeremans dalam bukunya mengisahkan pengalaman masa lalu dan disebut-sebut mengalami child grooming oleh seorang pria yang disamarkan dengan nama “Bobby”.
Meski Aurelie tidak pernah menyebut identitas asli sosok tersebut, banyak warganet kemudian mengaitkannya dengan Roby Tremonti. Spekulasi inilah yang menurut Zanzabella berpotensi menimbulkan ketidakadilan.
“Jadi ada ketidakadilan yang dilakukan oleh para netizen kita yaitu memvonis dengan langsung menunjuk orangnya seperti Roby gitu. Dengan tidak mengurangi empati kita terhadap korban ya, kita itu nggak boleh juga memvonis langsung kalau dia adalah pelakunya gitu,” kata Zanzabella.
Cover e-book Broken Strings Aurelie Moeremans
Ia juga menyoroti dampak serius yang bisa timbul akibat tuduhan yang belum terbukti secara hukum. Menurutnya, klarifikasi yang dilakukan oleh Roby tidak bisa serta-merta dianggap sebagai pengakuan.
“Kalau misalnya si Roby itu klarifikasi karena dia menyangka itu dia karena mungkin orang menunjuk dia dan memvonis dia adalah orang tersebut yang melakukan abuse atau apapun itu maka reputasi dia jatuh ya,” katanya lagi.
Lebih lanjut, Tengku Zanzabella menegaskan bahwa penentuan bersalah atau tidak bukanlah ranah publik, melainkan kewenangan hukum.
“Kalau gue tipikal orang yang seharusnya ini dibuktikan dulu dengan putusan dari jalur hukum. Baru kita bisa memvonis dia sebagai pelaku. Kalau nggak ya sudah,” terangnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hubungan masa lalu Aurelie tidak hanya melibatkan satu orang, sehingga konteks cerita seharusnya dilihat secara lebih luas.
“Karena apa? Karena dia adalah salah satu mantan dari si Aurelie,” terangnya lagi.
Meski mengungkap keraguan dan analisis pribadinya, Zanzabella menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud membela satu pihak secara mutlak. Ia menilai, kebenaran bisa saja berada di antara kedua versi yang berkembang di publik.
“Ini juga nggak boleh membela satu pihak karena kita nggak tahu juga. Bisa saja Roby tidak seburuk itu dan Aurelie tidak sebaik itu,” tuturnya lagi.
Di akhir pernyataannya, Tengku Zanzabella tetap menegaskan sikap tegas terhadap isu child grooming. Ia mendukung langkah hukum sebagai jalan terbaik agar kebenaran dapat dibuktikan secara adil.
“Gue mendukung Aurelie ini untuk membawanya ke jalur hukum. Sehingga bisa dibuktikan dengan benar ya. Nggak opini mendahului putusan gitu loh,” tandasnya.