Riset Ungkap 3,3 Juta Orang Masih Berburu Jam Kerja, Tanda Ekonomi Masih Seret?

Ilustrasi kantor kosong.
Ilustrasi kantor kosong.

Kondisi pasar tenaga kerja belakangan ini menjadi sorotan karena semakin banyak pekerja yang tidak mendapatkan jam kerja memadai. Meski tingkat pengangguran resmi tampak stabil, data terbaru menunjukkan situasi sebenarnya jauh lebih kompleks. 

Banyak pekerja yang tercatat bekerja, namun masih merasakan kekurangan jam kerja dan kesulitan meningkatkan pendapatan.

Fenomena ini menandakan bahwa pasar tenaga kerja menghadapi tantangan besar dalam menciptakan lapangan kerja baru dan menyerap tenaga kerja secara optimal. Ketidakseimbangan antara kebutuhan pekerja dan peluang yang tersedia, memicu kekhawatiran bahwa produktivitas ekonomi belum bergerak ke arah yang diharapkan.

Menurut studi terbaru Roy Morgan, jumlah warga di Australia yang menganggur maupun masih kekurangan jam kerja telah konsisten berada di angka lebih dari 3 juta orang selama 12 bulan berturut-turut. Perusahaan riset pasar tersebut menemukan bahwa perekonomian selama setahun terakhir gagal menciptakan cukup banyak pekerjaan baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ilustrasi pekerja

Bulan lalu, tingkat pengangguran “riil” tercatat 1.628.000 orang, atau setara 10 persen dari total angkatan kerja. Ini menunjukkan bahwa meskipun beberapa indikator resmi tampak stabil, jumlah pencari kerja tetap tinggi. 

Studi itu juga menunjukkan total gabungan penganggur dan pekerja yang kekurangan jam kerja telah meningkat 54.000 orang menjadi 3.337.000 orang, atau sekitar 21 persen dari angkatan kerja. 

Jika memasukkan kategori “pekerja bayangan” seperti freelancer dan pekerja paruh waktu yang menginginkan jam kerja lebih banyak, terdapat tambahan 1,7 juta orang yang masih mencari jam kerja tambahan.

Chief Executive Roy Morgan, Michele Levine, menjelaskan situasi ini belum banyak berubah sepanjang tahun. “Jika kita melihat pasar tenaga kerja selama setahun terakhir, gambarnya tidak banyak berubah dengan angka pekerjaan yang turun dari tahun lalu sebanyak 91.000 menjadi 14.339.000,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari 9News, Kamis, 11 Desember 2025.

”Pekerjaan penuh waktu turun 64.000 menjadi 9.203.000, dan pekerjaan paruh waktu turun 27.000 menjadi 5.136.000 dari tahun lalu. Ini menunjukkan ekonomi kesulitan menciptakan pekerjaan baru selama periode tersebut,” tambahnya. 

Levine menegaskan bahwa rendahnya produktivitas turut menghambat pertumbuhan ekonomi, yang kemudian membuat pasar tenaga kerja mengalami stagnasi. Hal ini berdampak langsung pada pekerja yang semakin sulit mencari pekerjaan layak atau menambah jam kerja demi memenuhi kebutuhan hidup.

Sementara itu, data terbaru dari Biro Statistik Nasional Australia menunjukkan tingkat pengangguran musiman tetap stabil di 4,3 persen pada November, sesuai ekspektasi pasar. Namun baik jumlah penganggur maupun jumlah pekerja justru turun masing-masing 2.000 orang dan 21.000 orang pada bulan tersebut.

Tingkat pekerja yang kekurangan jam kerja juga mengalami peningkatan 0,4 poin persentase menjadi 6,2 persen pada November. Angka ini lebih tinggi 0,1 poin persentase dibandingkan November 2024, namun 2,6 poin persentase lebih rendah dibandingkan Maret 2020.

Kombinasi penurunan lapangan kerja, peningkatan pekerja yang kekurangan jam kerja, dan produktivitas rendah menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih menghadapi tekanan berat. Meski beberapa indikator resmi terlihat stabil, kondisi riil pekerja belum menunjukkan pemulihan yang solid.