Riset Ungkap Tren Mengejutkan, Ukuran Organ Intim Pria Ternyata Bertambah Panjang
Ada kabar mengejutkan tentang ukuran organ intim pria. Dalam seuah studi yang diterbitkan pada Februari 2025 lalu, disebutkan bahwa panjang organ intim pria saat ereksi meningkat hampir 25 persen secara global dalam 30 tahun terakhir. Namun dibalik kabar bahagia itu, ternyata panjang penis bisa berdampak pada masalah penurunan jumlah sperma dan kadar testosteron.
Melansir laman ZME science, Kamis 11 Desember 2025 dalam penelitian yang dipimpin Profesor Hagai Levine dari Hebrew University of Jerusalem menemukan bahwa dalam 50 tahun terakhir saja, jumlah sperma pria di seluruh dunia sudah turun hingga setengahnya. Dari 1963 sampai 2018, jumlah sperma menurun rata-rata 1,2 persen setiap tahun. Namun antara 2000 dan 2018, penurunannya melonjak menjadi 2,6 persen per tahun tanda bahwa masalah ini makin cepat memburuk.
Meski secara teori hanya dibutuhkan satu sperma untuk membuahi sel telur, tubuh sebenarnya memproduksi jumlah sperma yang sangat banyak karena sebagian besar tidak mampu bertahan dalam perjalanan menuju rahim. Untuk kesuburan optimal, dibutuhkan sekitar 40 juta sperma per mililiter.
Jika jumlah ini tidak terpenuhi, pembuahan jadi sulit. Oleh krena itu, seiring krisis sperma berlangsung, semakin banyak pria kemungkinan besar harus bergantung pada teknologi reproduksi berbantu. Para peneliti di Israel mencatat bahwa rata-rata jumlah sperma turun dari 104 juta menjadi 49 juta per mililiter, angka yang sudah mendekati batas berbahaya bagi kesuburan global.
Di saat yang sama, kadar testosteron juga ikut turun. Sebuah studi pada 2007 menemukan bahwa kadar testosteron pria Amerika menurun sekitar 1 persen per tahun sejak tahun 1980-an. Artinya, pria berusia 60 tahun pada 2004 memiliki kadar testosteron 17 persen lebih rendah dibanding pria usia sama pada 1987.
Dokter sudah lama memperhatikan tren ini dengan penuh kekhawatiran. Salah satunya adalah Michael Eisenberg, profesor urologi di Stanford Medicine, yang bertanya-tanya apakah penyebab turunnya jumlah sperma dan testosteron juga berdampak pada perubahan anatomi tubuh pria.
Melihat tren tersebut, Eisenberg menduga bahwa penis pria mungkin justru makin pendek. Untuk memastikan, ia dan tim melakukan apa yang bisa disebut sebagai kontes ukur penis paling ilmiah di dunia.
Mereka tidak melakukan pengukuran langsung, tetapi menganalisis 75 studi ilmiah bereputasi yang dilakukan antara 1942 hingga 2021, mencakup lebih dari 55.000 pria. Ketika data diolah, hasilnya mengejutkan panjang penis justru meningkat, bukan menurun.
“Kami melihat ukuran penis saat lemas, diregangkan, dan saat ereksi, lalu menggabungkannya dalam satu database besar. Hasilnya sangat berbeda dengan tren kesehatan reproduksi pria lainnya. Panjang penis saat ereksi meningkat dari rata-rata 4,8 inci menjadi 6 inci dalam 29 tahun terakhir,” kata Eisenberg dalam wawancaranya dengan Stanford’s Scope.
Penis makin besar, masalah makin besar
Lonjakan ukuran penis dalam waktu singkat ini dianggap tidak alami dan bisa menjadi tanda adanya masalah besar pada kesehatan reproduksi pria.
Belum jelas apa penyebabnya, tetapi para ilmuwan menduga bahwa paparan pestisida dan bahan kimia dalam produk perawatan pribadi yang mengganggu hormon tubuh mungkin menjadi salah satu pemicu.
Faktor yang sama juga diduga menyebabkan penurunan jumlah sperma dan testosteron.
“Bahan kimia pengganggu hormon jumlahnya banyak ada di lingkungan dan makanan kita. Perubahan pada kondisi tubuh juga memengaruhi keseimbangan hormon. Paparan bahan kimia ini juga diduga membuat anak laki-laki dan perempuan mengalami pubertas lebih awal, yang berpengaruh pada perkembangan organ reproduksi,” jelas Eisenberg.
Untuk saat ini, para peneliti menyarankan agar temuan ini ditanggapi dengan hati-hati. Mereka sedang mencari populasi lain untuk melihat apakah hasilnya bisa direplikasi. Mereka juga mempertanyakan dampaknya pada organ reproduksi perempuan. Jika penis saja berubah signifikan karena lingkungan, bagaimana dengan vagina? Ini menjadi pertanyaan serius yang juga sedang diteliti.
“Seperti halnya kita mengukur tinggi dan berat badan setiap tahun, hal ini juga bisa diukur secara sistematis karena mungkin menjadi indikator awal perubahan perkembangan manusia. Jika ada data detail tentang gaya hidup atau paparan lingkungan, kita bisa mencari tahu penyebabnya. Dan tentu, penting juga untuk menanyakan apakah perubahan serupa terjadi pada organ reproduksi perempuan,” kata para peneliti.