Ogah Kerja Kantoran, Kini Gen Z Berbondong-bondong Beralih ke Sektor Ini

Ilustrasi Gen Z.
Ilustrasi Gen Z.

 Sebuah perubahan besar tengah terjadi di dunia kerja Amerika Serikat. Generasi muda alias Gen Z, yang selama ini dikenal sebagai penggemar inovasi digital dan teknologi tinggi, kini justru beralih arah. 

Jika dulu bekerja di perusahaan besar seperti Google, Amazon, atau Apple dianggap impian, kini banyak lulusan muda justru memilih karier di sektor kesehatan.

Menurut studi terbaru yang dilakukan oleh National Society of High School Scholars (NSHSS), tiga dari empat anak muda Amerika kini lebih memilih bekerja di rumah sakit dibanding perusahaan teknologi besar. Pergeseran ini tidak terjadi secara tiba-tiba. 

Melansir dari Evidence Network, Senin, 20 Oktober 2025, dalam beberapa tahun terakhir, sektor teknologi yang dulu menjadi simbol kemajuan dan stabilitas, kini justru menghadapi ketidakpastian. Gelombang pemutusan hubungan kerja massal di perusahaan seperti Meta, Amazon, dan Google telah mengikis citra glamor industri ini di mata para pekerja muda.

Riset NSHSS mengungkap adanya jarak yang semakin lebar antara harapan generasi muda dengan kenyataan dunia kerja di industri teknologi. Banyak yang kini menolak karier di bidang IT atau rekayasa perangkat lunak dan justru beralih ke profesi yang berfokus pada perawatan dan bantuan sosial.

Ilustrasi Perawatan Kesehatan

Salah satu penyebab utama adalah bayangan ancaman AI. Eksekutif dari perusahaan besar seperti NVIDIA dan AWS bahkan secara terbuka mengakui bahwa di masa depan, kebutuhan insinyur untuk bisa menulis kode bisa jadi akan menurun drastis, karena otomatisasi dan AI akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan teknis. 

Prediksi ini menimbulkan rasa cemas di kalangan generasi muda, terutama mereka yang baru saja lulus dan ingin membangun karier jangka panjang. Selain itu, instabilitas tenaga kerja di sektor teknologi juga menjadi faktor penentu. 

Riset konsultan What’s The Big Data mencatat bahwa generasi Z kini lebih mendambakan keamanan ekonomi dibanding sekadar gaji besar. Dengan maraknya PHK, tingginya tingkat turnover, dan tekanan kerja yang tinggi, citra perusahaan teknologi sebagai tempat yang aman dan menjanjikan kini semakin pudar.

Menurut data dari Networks Trends yang melibatkan lebih dari 10.000 mahasiswa, 76 persen responden menempatkan karier yang stabil sebagai prioritas utama, mengalahkan faktor lokasi perusahaan (75 persen), reputasi (72 persen), dan bahkan gaji tinggi (71 persen). 

Selain keamanan finansial, ketakutan akan burnout juga menjadi perhatian besar. Setengah dari mereka yang disurvei mengaku sangat khawatir bekerja di lingkungan toksik yang bisa menghambat pengembangan karier setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi.

Dampaknya terlihat jelas dalam daftar perusahaan paling diincar. Google turun dari peringkat keempat di tahun 2022 menjadi ketujuh pada 2024, sementara Amazon dan Apple juga merosot. Yang paling mengejutkan, SpaceX jatuh dari posisi kesembilan ke peringkat dua puluh dua, menandakan berkurangnya minat generasi muda terhadap perusahaan yang dulu dianggap penuh prestise dan petualangan.

Sektor Kesehatan Jadi Pilihan Aman

Sebaliknya, sektor kesehatan kini tampil sebagai pemenang baru. Bidang ini dianggap menawarkan stabilitas kerja yang lebih tinggi, sekaligus lebih tahan terhadap disrupsi AI. Pekerjaan yang berfokus pada manusia, seperti dokter, perawat, dan tenaga sosial, sulit sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Fenomena ini juga mulai terlihat di negara lain. Di Spanyol, misalnya, jumlah pendaftar di jurusan kedokteran dan layanan sosial meningkat tajam antara 2018 dan 2024, menurut studi Employability of Young People in Spain in 2024 yang dirilis oleh CYD Foundation. 

Meskipun bidang IT dan teknik masih penting, minat terhadap kedokteran dan keperawatan meningkat pesat. Dengan 40 persen tenaga kesehatan di Spanyol kini berusia di atas 45 tahun, kebutuhan akan tenaga muda menjadi sangat mendesak.

“Pencarian makna dan keamanan kini tampaknya lebih diutamakan dibanding sekadar janji inovasi dan penghasilan tinggi,” ungkap Dr. Rosalia Neve, sosiolog dari McGill University dan peneliti kebijakan publik di Montreal. 

Perubahan arah karier ini diprediksi bisa berdampak luas, sehingga perusahaan teknologi perlu mengubah strategi rekrutmen dan retensi talenta. Sementara itu, di lain sisi, sektor kesehatan berpotensi mengalami lonjakan minat dan regenerasi tenaga kerja.