Top 10+ Daerah di Sumsel Ini Tetapkan Siaga Darurat Hidrometeorologi, Ancaman Cuaca Ekstrem hingga 2026

BPBD Sumsel, bencana hidrometeorologi, 10 Daerah di Sumsel Ini Tetapkan Siaga Darurat Hidrometeorologi, Ancaman Cuaca Ekstrem hingga 2026

 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di 10 daerah sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2026.

Kebijakan ini diambil menyusul meningkatnya intensitas hujan dan risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, serta angin kencang di sejumlah wilayah.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, di Palembang, Senin (22/12/2025), menjelaskan bahwa penetapan status siaga darurat bertujuan mempercepat penanganan bencana sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat.

“Penetapan status siaga ini agar penanganan bencana bisa lebih cepat, mulai dari pemantauan dan pemetaan wilayah rawan, kesiapan personel serta peralatan, hingga penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait,” kata Sudirman dikutip dari Antara.

Daerah Mana Saja yang Menetapkan Status Siaga Darurat?

BPBD Sumsel mencatat terdapat 10 kabupaten dan kota yang telah resmi menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Wilayah tersebut meliputi:

  1. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU)
  2. Kabupaten OKU Selatan
  3. Kabupaten Musi Banyuasin (Muba)
  4. Kabupaten Ogan Ilir
  5. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)
  6. Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara)
  7. Kabupaten Banyuasin
  8. Kota Pagar Alam
  9. Kota Prabumulih
  10. Kota Lubuklinggau.

Selain kabupaten dan kota tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga menaikkan status kewaspadaan wilayahnya menjadi siaga.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan koordinasi lintas daerah berjalan lebih efektif, terutama dalam menghadapi puncak musim hujan.

Mengapa Status Siaga Darurat Ditetapkan?

Menurut Sudirman, peningkatan status kewaspadaan ini tidak lepas dari kondisi cuaca yang cenderung ekstrem serta catatan kejadian bencana sepanjang 2025.

Puncak musim hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal 2026, sehingga risiko bencana hidrometeorologi dinilai masih tinggi.

“Kami mengingatkan agar semua pihak waspada menghadapi puncak musim hujan 2025–2026,” ujarnya.

BPBD juga mengimbau pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah mitigasi, termasuk memastikan kesiapan logistik, peralatan evakuasi, serta jalur komunikasi darurat agar respons penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.

BPBD Sumsel meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal di bantaran sungai, daerah dataran rendah, dan lereng perbukitan.

Warga juga diminta segera melapor kepada aparat setempat atau petugas kebencanaan apabila menemukan tanda-tanda potensi bencana.

Langkah kewaspadaan ini dinilai penting untuk meminimalkan dampak dan korban, mengingat sebagian besar bencana hidrometeorologi terjadi secara tiba-tiba dengan intensitas yang sulit diprediksi.

Seberapa Besar Dampak Bencana di Sumsel Sepanjang 2025?

Berdasarkan data BPBD Sumsel, hingga 17 Desember 2025 tercatat sebanyak 259 kejadian bencana di wilayah Sumatera Selatan.

Dari jumlah tersebut, bencana didominasi oleh banjir sebanyak 98 kejadian dan angin kencang 81 kejadian.

Selain itu, tercatat 52 kejadian kebakaran permukiman, 24 kejadian tanah longsor, tiga kejadian angin puting beliung, serta satu kejadian banjir bandang. Rangkaian bencana tersebut berdampak signifikan terhadap permukiman warga dan fasilitas umum.

BPBD Sumsel mencatat sebanyak 156 unit rumah mengalami rusak berat, 81 rumah rusak sedang, dan 336 rumah rusak ringan. Sementara itu, sebanyak 62.800 rumah terdampak genangan banjir.

Dampak bencana juga mengenai fasilitas publik, antara lain:

  • 18 fasilitas pendidikan
  • 5 fasilitas kesehatan
  • 8 rumah ibadah
  • 14 bangunan lainnya.

Tidak hanya itu, sektor pertanian dan infrastruktur juga terdampak. Tercatat 2.154 hektare sawah dan 374,5 hektare perkebunan mengalami kerusakan. Selain itu, 17 jembatan dan satu jaringan irigasi dilaporkan rusak akibat bencana.

“Total warga terdampak mencapai 37.655 kepala keluarga, dengan 205 kepala keluarga mengungsi, tujuh orang luka-luka, dan tiga orang meninggal dunia,” kata Sudirman.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang