Meski Target Penerimaan Negara 2025 Meleset, Purbaya Jamin Defisit APBN di Bawah 3 Persen
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, meskipun penerimaan negara tahun 2025 bakal berada di bawah target alias shortfall, namun dirinya menjamin bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini akan tetap berada di bawah 3 persen.
"(Defisit) kami kendalikan di bawah 3 persen, jadi kami enggak akan melanggar undang-undang,” kata Purbaya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 15 Desember 2025.
Penerimaan negara mulanya ditargetkan mencapai Rp 3.005,1 triliun, yang kemudian proyeksinya diturunkan menjadi Rp 2.865,5 triliun atau 95,4 persen dari target awal. Proyeksi defisit pun dikoreksi dari semula 2,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 2,78 persen PDB.
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa
Realisasi terakhir per akhir Oktober 2025 menunjukkan, pendapatan negara tercatat sekitar Rp 2.113,3 triliun atau 73,7 persen dari target proyeksi, sementara defisit dilaporkan pada level 2,02 persen PDB.
Purbaya mengaku belum bisa memastikan besaran shortfall penerimaan negara tahun anggaran 2025, karena angkanya masih terus bergerak. Namun, Dia menjamin pihaknya telah menjalankan berbagai strategi untuk mengendalikan kinerja penerimaan negara.
Sehingga, Dia pun meyakini bahwa potensi shortfall tidak akan mengintervensi proyeksi defisit secara signifikan.
“Kan ada usaha-usaha untuk dua bulan terakhir ya. Jadi, (shortfall) melebar, tapi nggak melebar parah. Angkanya masih gerak. Yang jelas, tahun depan akan berubah. Saya akan lihat betul pajak seperti apa, saya akan hands on,” ujar Purbaya.
Di sisi lain, pengembalian anggaran tak terserap dari Kementerian/Lembaga (K/L) juga bisa menjaga agar defisit tetap dalam level terkendali. Namun, Purbaya mengaku belum menghitung potensi pengembalian, meskipun menurutnya tren historis belanja K/L tak pernah mencapai 100 persen.
“Kalau enggak salah masih ada yang mengembalikan anggaran ke kita. Belum kami rekapitulasi. Tapi setiap tahun (belanja K/L) enggak pernah ada yang 100 persen terserap. Kami asumsikan awal 99 persen terserap, itu pun nanti ada yang kembalikan lagi,” ujarnya.