Purbaya: Defisit APBN 2025 Tembus Rp 695,1 Triliun
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan, APBN 2025 mencatat defisit sebesar Rp 695,1 triliun, atau sekitar 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dia mengakui bahwa defisit sebesar Rp 695,1 triliun itu melebihi jumlah yang dicanangkan di dalam APBN 2025, yang hanya sebesar Rp 616,2 triliun.
"Kita tetap menjaga dan memastikan bahwa defisitnya tidak di atas 3 persen" kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, APBN KiTA Oktober 2025
Dia mengakui, defisit APBN 2,92 persen itu telah melonjak dari target awal, yang hanya dipatok 2,53 persen. Dimana, realisasi belanja negara mencapai sebesar Rp 3.451,4 triliun, atau 95,3 persen dari APBN. Padahal, realisasi pendapatan negara di sepanjang 2025 hanya mencapai Rp 2.756,3 triliun, atau 91,7 persen dari APBN.
Purbaya merinci, pendapatan negara sebesar Rp 2.756,3 triliun itu antara lain berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp 1.917,6 triliun, kepabeanan dan cukai sebesar Rp 300,3 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 534,1 triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp 4,3 triliun.
Sementara di sisi lain, realisasi belanja negara sebesar Rp 3.451,4 triliun itu telah direalisasikan untuk belanja pemerintah pusat sebesar Rp 2.602,3 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp 849 triliun.
Purbaya menjelaskan, realisasi belanja sebesar itu dilakukan pemerintah untuk menggelontorkan sejumlah stimulus, guna menggerakkan roda perekonomian saat kondisi ekonomi sedang mengalami pelemahan.
"Jadi ini adalah wujud komitmen pemerintah, supaya ekonomi tetap tumbuh dan berkesinambungan tanpa membahayakan APBN," ujar Purbaya.
Meski mengaku bahwa bisa saja pihaknya menekan belanja pemerintah agar defisit tidak semakin melebar, namun Purbaya mengaku enggan melakukan hal tersebut karena justru akan berdampak terhadap perekonomian nasional.
"Kalau saya potong anggarannya, ekonominya morat-marit. Jadi ini adalah kepiawaian dari teman-teman di Kementerian Keuangan untuk memastikan ekonomi bisa tumbuh terus, tanpa mengorbankan sisi kehati-hatian dari fiskal," ujarnya.