Viral! Warga Ramai-ramai Tolak Bansos Gegara Ditempeli Stiker 'Keluarga Miskin'

Viral! Warga Tolak Bansos Gegara Ditempeli Stiker 'Keluarga Miskin'
Viral! Warga Tolak Bansos Gegara Ditempeli Stiker 'Keluarga Miskin'

 Sebuah program pemasangan stiker bertuliskan “Keluarga Miskin” di rumah penerima bantuan sosial (Bansos) di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, mendadak viral di media sosial. Pasalnya, ratusan warga penerima manfaat justru memilih mundur dari daftar penerima Bansos setelah rumah mereka ditempeli stiker tersebut.

Diketahui, program ini dimulai sejak Senin (20/10/2025) ini merupakan inisiatif Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang di bawah pimpinan Helmi Johan. Pemasangan dilakukan di berbagai wilayah, seperti Kelurahan Pasar Ujung, Padang Lekat, dan sejumlah titik lainnya di kabupaten tersebut.

Ilustrasi Rumah Sederhana Layak Huni

Kepala Dinas Sosial Kepahiang, Helmi Johan, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang transparansi penerima bantuan.

Dengan adanya stiker, warga sekitar dapat mengetahui siapa saja yang masih terdaftar sebagai penerima Bansos, sehingga tidak ada lagi kecurigaan atau kesalahpahaman dalam penyaluran bantuan pemerintah.

“Sebenarnya pemasangan stiker itu edukasi dan sosialisasi bagi warga yang masih mau menerima Bansos akan tetap dipasang. Apabila mengundurkan diri maka akan kita copot stikernya,” ujar Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang, Helmi Johan, dikutip VIVA dari Instagram @fakta.indo Selasa, 28 Oktober 2025.

Helmi juga menambahkan, melalui program ini pihaknya menemukan sejumlah penerima Bansos yang sebenarnya sudah memiliki kondisi ekonomi lebih baik dibanding saat pertama kali terdaftar.

Dengan demikian, program ini diharapkan bisa menyaring ulang siapa saja yang memang benar-benar membutuhkan bantuan pemerintah.

Namun, alih-alih mendukung langkah tersebut, justru banyak warga yang merasa keberatan dengan pemasangan stiker bertuliskan “Keluarga Miskin” di rumah mereka. Beberapa di antaranya bahkan menganggap label tersebut dapat menimbulkan rasa malu dan stigma sosial di lingkungan sekitar.

Akibatnya, ratusan keluarga penerima manfaat (KPM) akhirnya memilih mundur secara sukarela dari daftar penerima bantuan sosial. Mereka menyampaikan pengunduran diri ke pihak kelurahan dan dinas sosial setempat agar nama mereka dihapus dari daftar Kementerian Sosial.

Salah satu warga, Anita, mengaku sudah tujuh tahun menikmati bantuan sosial dari pemerintah. Namun setelah rumahnya ditempeli stiker, ia dan keluarganya memutuskan mundur dengan alasan ingin memberi kesempatan kepada warga lain yang lebih membutuhkan.

Rumah penduduk miskin (foto ilustrasi)

Rumah penduduk miskin (foto ilustrasi)

“Kami sudah tujuh tahun menerima Bansos, jadi kami nyatakan mundur. Biar ada warga lain yang lebih layak bisa merasakan juga, gantian,” ujar Anita.

Setelah pengunduran diri tersebut, Dinas Sosial memastikan bahwa nama keluarga Anita dan warga lainnya otomatis dihapus dari daftar penerima bantuan dan akan digantikan oleh warga yang benar-benar membutuhkan.

Kasus di Kepahiang ini membuka kembali diskusi nasional soal efektivitas dan etika dalam pendistribusian bantuan sosial. Di satu sisi, transparansi dianggap penting agar bantuan tepat sasaran. Namun di sisi lain, penerapan metode seperti pemasangan stiker perlu mempertimbangkan aspek psikologis dan sosial masyarakat.