Keluarga Iko Juliant Junior Tolak Kedatangan Kompolnas, Trauma Masih Membekas

Keluarga almarhum Iko Juliant Junior, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes), menolak kedatangan rombongan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) RI yang datang bersama aparat kepolisian ke rumah orang tua korban di Semarang pada Selasa (16/9/2025).
Menurut pihak keluarga, kedatangan mendadak rombongan Kompolnas tanpa komunikasi dengan tim hukum korban justru memicu kembali rasa trauma mendalam.
"Ngawur Kompolnas, datang langsung ke rumah Iko dengan rombongan polisi berseragam tanpa komunikasi," kata kuasa hukum keluarga korban, Naufal Sebastian, Rabu (24/9/2025).
Kuasa Hukum Layangkan Protes ke Kompolnas
Naufal menjelaskan, sejak awal, orang tua almarhum menunjuk tim hukum untuk menjadi perwakilan dalam seluruh komunikasi terkait kasus dugaan kejanggalan kematian Iko. Karena itu, ia menilai langkah Kompolnas tidak tepat.
"Bahwa oleh karena itu, kami meminta kepada Kompolnas RI untuk berkomunikasi dan berkorespondensi melalui kami selaku kuasa hukum, serta tidak secara langsung mencoba untuk berkomunikasi dengan klien kami," tegas Naufal.
Atas insiden itu, tim hukum keluarga Iko juga melayangkan surat protes resmi kepada Kompolnas RI.
"Kami berharap Kompolnas RI dapat memahami kondisi dan kedukaan yang dialami oleh klien kami," lanjutnya.
Polda Jateng Sebut Iko Tewas karena Kecelakaan
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto menyampaikan kronologi kematian Iko. Menurut polisi, mahasiswa Unnes itu meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Veteran, Kota Semarang, pada 31 Agustus 2025.
"Kendaraan Vario yang ditumpangi atau dikendarai oleh saudara Fiki dan Aziz ditabrak dengan kecepatan tinggi oleh kendaraan Supra yang dikendarai oleh saudara Iko (almarhum) dan Irham," kata Artanto.
Ia menambahkan, tabrakan antara dua motor berkecepatan tinggi itu membuat empat orang pengendara dan pembonceng terpelanting ke depan.
"Dan berakibat luka berat dan luka ringan," ujar Artanto.
Dugaan Luka Akibat Benda Tumpul
Namun, pendamping hukum keluarga korban lainnya, Ady Putra Cesario, mengungkap adanya dugaan kejanggalan dalam kematian Iko. Fakta itu terungkap dari keterangan pihak rumah sakit yang menangani almarhum.
"Ketika dilakukan operasi, pihak rumah sakit menyampaikan kepada keluarga bahwa organ-organ yang lain sehat, baik itu ginjal, usus besar, maupun jantung. Tapi hanya limpa yang kemudian sangat konsen," ungkap Ady.
Ady menambahkan, berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, luka yang diderita Iko diduga kuat berasal dari benturan benda tumpul.
"Dari keterangan keluarga dari rumah sakit memang ada benda tumpul dari situ," ujarnya.
Saat pertama kali tiba di rumah sakit, lanjut Ady, keluarga melihat adanya luka berbentuk lingkaran di bagian kiri tubuh korban.
"Berbentuk lingkaran seperti benda tumpul warna merah, belum biru," jelasnya.
Ady juga meminta RSUP Kariadi Semarang berperan aktif membantu penyelesaian perkara ini.
"Sebagai ahli tentunya karena kami juga ketahui, rekan-rekan sudah ketahui bahwa ada kode etik profesi keperawatan," ucapnya.
Jaringan Gusdurian Desak Kejelasan Kasus Iko
Kasus kematian mahasiswa Fakultas Hukum Unnes ini juga mendapat perhatian dari Jaringan Gusdurian. Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, menilai keluarga korban hingga kini masih terpukul dan membutuhkan kejelasan.
"Kondisi keluarga mereka memang masih terpukul, foto Iko masih di sana dan mereka masih terus mendoakan," ujarnya.
Menurut Alissa, jika Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih hidup, ia pasti akan melakukan langkah serupa untuk membela korban.
"Kalau almarhum Gus Dur ada, pasti akan mengunjungi dan akan berteriak lebih keras dibanding saya," ucapnya.
Alissa menegaskan, keluarga korban maupun publik berhak mendapatkan penjelasan transparan mengenai penyebab kematian Iko.
"Ini semua harus diperjelas," katanya.
Sebagian Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "dan "Tim Hukum Iko Mahasiswa Unnes Protes Kompolnas, Tiba-tiba Datangi Rumah Korban hingga Trauma"
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.