Tiga Bulan Mencari Keadilan, Ibu di Brebes Ungkap Dugaan Bullying yang Tewaskan Anaknya

Sembari memegang foto anaknya yang telah meninggal dunia, Siti Royanah (42), warga Dukuh Kedawon, Desa Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tak kuasa menahan air mata.
Di rumahnya yang sederhana, ia mengenang sang buah hati, Azka Rizki Fadholi, yang menurutnya dikenal sebagai anak penurut dan jarang membuat masalah.
Tiga bulan telah berlalu sejak Azka meninggal dunia pada Selasa (12/8/2025).
Namun, duka dan tanda tanya masih menyelimuti keluarga. Siti baru menyadari bahwa keluhan sakit yang dialami anaknya sepulang sekolah diduga berkaitan dengan peristiwa bullying di sekolah, tepatnya di salah satu Mts di Kecamatan Larangan, Brebes.
Mengeluh Sakit Sepulang Sekolah
Siti menuturkan, pada Jumat (8/8/2025), Azka pulang sekolah dalam kondisi tidak ceria seperti biasanya. Setibanya di rumah, Azka langsung masuk kamar dan terlihat murung.
Saat waktu Salat Jumat tiba, Azka sempat diajak pamannya untuk berangkat bersama. Namun, Azka menolak dengan alasan tidak enak badan.
“Kepala saya sakit, Bu, enggak kuat buat bangun,” ujar Siti menirukan ucapan anaknya saat itu.
Keesokan harinya, Sabtu (9/8/2025), Azka tetap memaksakan diri berangkat sekolah. Namun, Siti mulai merasa curiga ketika melihat kaus kaki anaknya kotor seperti habis terperosok lumpur.
“Saya suruh ganti kaus kakinya yang kotor, tapi almarhum tidak mau ganti,” ungkapnya.
Pada malam hari, Siti kembali menanyakan kondisi kesehatan Azka. Saat itu, Azka mengaku merasakan sakit di beberapa bagian tubuh.
“Almarhum mengaku sakit di bagian dada dan tangan,” kata Siti.
Karena tangan Azka sulit digerakkan, Siti sempat membawanya ke tukang urut. Namun, sejak saat itu, kondisi Azka semakin memburuk dan lebih banyak mengurung diri di kamar.
“Sejak Sabtu sampai Minggu hanya di kamar, tidak ceria seperti biasanya. Makan pun saya yang mengantarkan ke kamar,” ujarnya.
Mengaku Dipukuli dan Diancam Teman Sekolah
Puncaknya terjadi pada Senin (11/8/2025) dini hari, Azka keluar kamar dengan dipapah kakaknya untuk pergi ke toilet. Saat itu, Siti tengah memasak mi instan di dapur.
“Waktu sampai di samping saya, almarhum hampir jatuh. Saya rangkul lalu saya antar ke toilet,” tuturnya.
Usai dari toilet, Azka sempat duduk di ruang tamu. Dalam kondisi emosional, Siti kembali menanyakan penyebab perubahan sikap dan kondisi anaknya.
“Saya tanya sambil nangis, kamu kenapa,” kata Siti.
Saat itulah Azka akhirnya mengaku menjadi korban kekerasan di sekolah.
“Almarhum bilang, ‘Saya mau ngomong, tapi ibu jangan marah. Saya dipukulin sama teman di sekolah. Saya diancam jangan ngomong sama siapa-siapa,’” ungkapnya.
Azka bahkan sempat menyebutkan empat nama teman sekolah yang diduga melakukan bullying dan kekerasan terhadap dirinya.
Dirawat Sehari, Azka Meninggal Dunia
Pada Senin pagi, Azka sempat mengalami kejang. Siti kemudian membawanya ke puskesmas. Namun, setibanya di lokasi, pihak puskesmas meminta agar Azka langsung dirujuk ke rumah sakit.
“Baru sampai depan puskesmas, kami diminta langsung membawa ke rumah sakit,” ujarnya.
Azka kemudian dirawat di RS Harapan Sehat Jatibarang. Namun, kondisi kesehatannya terus menurun.
“Korban dirawat satu hari. Setelah trombositnya menurun, pada Selasa, 12 Agustus 2025 petang, korban dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit,” kata Siti.
Tolak Uang Damai, Keluarga Tempuh Jalur Hukum
Beberapa hari setelah Azka meninggal dunia, keluarga terduga pelaku bersama pihak sekolah datang ke rumah duka. Mediasi pun dilakukan dengan difasilitasi oleh pihak sekolah.
Dalam pertemuan tersebut, keluarga terduga pelaku sempat menawarkan uang damai kepada keluarga korban.
“Awalnya ditawarkan Rp 5 juta, lalu Rp 10 juta, tapi saya menolak. Saya ingin lanjut ke jalur hukum,” tegas Siti.
Siti kemudian melaporkan kasus dugaan bullying anak hingga meninggal dunia tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Brebes.
Laporan dibuat dengan didampingi kuasa hukumnya, Fery Junaidi, SH.
Laporan tersebut secara resmi diterima pada 21 Agustus 2025 oleh piket Reskrim Polres Brebes, Brigadir Polisi R Putri S, SH.
Sebulan kemudian, pada 24 September 2025, Siti kembali dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan tambahan. Surat panggilan tersebut ditandatangani oleh Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Resandro Handrianjati.
Namun hingga kini, Siti mengaku belum melihat perkembangan berarti dari proses hukum yang berjalan.
“Saya sudah lapor ke kepolisian. Sudah tiga bulan, tapi belum ada perkembangan,” ujarnya.
“Saya ingin kasus saya diperlakukan sama seperti yang lain, jangan dibedakan dengan yang punya uang,” tandas Siti.
Kuasa hukum korban, Fery Junaidi, SH, mengatakan bahwa hingga saat ini proses hukum masih ditangani oleh pihak kepolisian.
“Untuk perkembangan kasusnya, secepatnya kami akan mendatangi Polres Brebes,” katanya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Resandro Handrianjati belum memberikan keterangan. Hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan belum merespons upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Pilu Wanita Brebes Anaknya Meninggal Diduga Jadi Korban Bullying, Lapor Polisi Tak Ada Perkembangan
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang