Dentuman dan Kilatan Cahaya Merah di Cianjur, Dosen IPB Ungkap Dugaan Bolide
Suara dentuman disertai kilatan cahaya yang muncul di langit kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Senin (5/1/2026) malam, memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran di tengah masyarakat.
Sejumlah warga melaporkan adanya cahaya kemerahan di langit yang diikuti bunyi dentuman keras sekitar pukul 22.15 WIB.
Fenomena ini terjadi hampir bersamaan di beberapa kecamatan di wilayah utara Cianjur, seperti Pacet, Cipanas, dan Sukaresmi.
Warga yang mendengar dentuman tersebut sempat berhamburan keluar rumah karena mengira terjadi gempa atau peristiwa berbahaya lainnya.
Hingga menjelang tengah malam, sebagian warga memilih bertahan di luar rumah demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Apa yang sebenarnya terjadi di langit Cianjur malam itu?
Fenomena tak biasa ini langsung menarik perhatian para ahli dan lembaga terkait. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis awal, kejadian tersebut tidak berkaitan dengan cuaca ekstrem.
“Kondisi atmosfer saat kejadian terpantau normal dan tidak menunjukkan adanya cuaca ekstrem,” ujarnya dikutip dari keterangan resminya, Minggu (11/1/2026).
Menurut Sonni, data cuaca menunjukkan tidak adanya aktivitas thunderstorm atau badai petir di wilayah Cianjur pada waktu kejadian.
Selain itu, hasil pemantauan seismograf juga tidak mencatat adanya aktivitas seismik maupun vulkanik.
“Tidak ada peningkatan aktivitas Gunung Gede maupun pergerakan sesar di kawasan Gunung Gede–Pangrango yang dapat dikaitkan dengan kejadian tersebut,” katanya.
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa fenomena dentuman dan kilatan cahaya tersebut tidak berhubungan dengan aktivitas vulkanik, gempa bumi, maupun badai petir. Namun secara ilmiah, masih terdapat kemungkinan lain yang dapat menjelaskan peristiwa itu.
Apakah ini fenomena bolide?
Sonni menyebut salah satu kemungkinan yang paling masuk akal adalah fenomena bolide atau bola api. Bolide merupakan peristiwa masuknya meteoroid berukuran relatif besar ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi.
“Meteoroid yang masuk ke atmosfer akan mengalami gesekan hebat sehingga terbakar cepat dan menghasilkan kilatan cahaya terang seperti meteor,” jelasnya.
Jika ukuran meteoroid cukup besar, lanjut Sonni, benda tersebut dapat meledak di atmosfer dan menimbulkan gelombang kejut sonik yang terdengar sebagai dentuman keras di permukaan Bumi.
Kilatan cahaya yang terlihat oleh warga juga dapat dipicu oleh proses ablasi dan ionisasi atmosfer.
Proses ini melepaskan energi elektromagnetik yang menimbulkan cahaya terang, sebagaimana dijelaskan pula oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Fenomena serupa pernah terjadi di wilayah Cirebon beberapa bulan lalu. Saat itu, sebuah meteor dilaporkan mencapai permukaan Bumi dan menyebabkan kerusakan pada sebagian atap rumah warga.
Meski demikian, Sonni menegaskan bahwa dugaan bolide dalam peristiwa Cianjur masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
“Untuk memastikan penyebab pastinya, diperlukan pengamatan langsung serta temuan lapangan di lokasi kejadian, termasuk kemungkinan adanya jejak material meteorit,” pungkasnya.
Apa kata PVMBG dan BMKG?
Sebelumnya, PVMBG mencatat adanya dentuman keras dan kilatan cahaya kemerahan di wilayah utara Cianjur yang berkaitan dengan fenomena atmosfer dan geofisika, meskipun pemicu pastinya belum ditemukan.
Penyelidik Bumi Utama PVMBG, Supartoyo, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terkait dugaan fenomena energi elektromagnetik.
“Kami masih mendalami penyebab terjadinya fenomena energi tersebut termasuk pemicunya karena tidak ada aktivitas kegempaan yang biasanya menjadi pemicu terjadinya fenomena alam tersebut,” katanya saat dihubungi pada Selasa (6/1/2026) dikutip dari Antara.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki dugaan berbeda. Kepala BMKG Jawa Barat, Teguh Rahayu, menyebut fenomena tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas alam yang terpantau oleh alat BMKG.
“Petugas dan alat yang terpasang di BMKG Bandung tidak menunjukkan adanya aktivitas kegempaan dan badai petir di wilayah Cianjur, sehingga kami menduga aktivitas tersebut buatan manusia,” ujarnya.
Kesaksian warga menguatkan bahwa peristiwa tersebut memang cukup mengagetkan. Salah seorang warga Kecamatan Cipanas, Dede Sandi, menuturkan dentuman terdengar sangat jelas disertai cahaya kemerahan.
“Suaranya bergemuruh disertai dentuman cukup kencang, sehingga kami berlarian keluar rumah. Dalam hitungan detik diikuti kilatan cahaya kemerahan di langit. Selang setengah jam kami baru masuk ke dalam,” katanya.
Hingga kini, penyebab pasti dentuman dan kilatan cahaya di langit Cianjur masih dalam proses penelusuran.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang