‘Kami Tak Punya Baju ke Gereja’, Suara Korban Banjir di Sibolga Sambut Natal

Sibolga, ‘Kami Tak Punya Baju ke Gereja’, Suara Korban Banjir di Sibolga Sambut Natal, Rumah Selamat, Isinya Ludes, Pascabencana, Air Bersih Krisis, Harga Sembako Naik, Harga Sembako Melonjak, Sumatera Utara: 11.200 Rumah Rusak, 340 Orang Meninggal

Dua minggu pasca banjir dan longsor di Sibolga dan Tapanuli Tengah, duka dan penderitaan masih menyelimuti warga.

Salah satunya dialami Yustina Jay (45), warga Jalan Perjuangan, Kelurahan Aek Parombunan, Sibolga Selatan, yang rumahnya porak-poranda diterjang material longsor pada Selasa (25/11/2025).

Saat ditemui, perempuan berdaster merah itu perlahan membersihkan lumpur setebal setengah meter yang memenuhi ruang tamu dan kamar. Foto keluarga dan salib yang retak ia luruskan satu per satu, sembari menahan tangis.

“Memang sedih kali sudah dua minggu nggak bisa ke gereja karena kami nggak ada pakaian. Barang dapur udah hancur semua,” ujarnya sambil menangis.

Rumah Selamat, Isinya Ludes

Longsor besar yang terjadi dua kali pada hari yang sama, pukul 08.00 WIB dan 10.00 WIB, menghantam permukiman mereka. Rumah Yustina berdiri tepat di depan titik longsor, namun tidak runtuh karena material menghantam rumah tetangganya.

Meski demikian, seluruh isi rumah hancur. Jendela pecah, dinding jebol, pakaian dan perabotan hilang atau rusak.

“Kami cuma bawa baju di badan. Suami bilang langsung aja pergi karena takut longsor datang lagi,” kata Yustina.

Ia bersama suami sempat mengungsi ke SMP Negeri 5 Sibolga bersama warga lain. Hingga kini, trauma masih membekas.

“Kalau lihat rumah ini rasanya sedih kali. Tetangga hilang, kami nggak bisa apa-apa. Syukur masih ada posko untuk kami tinggal malam hari,” ucapnya.

Ia berharap pemerintah membantu perbaikan rumah warga terdampak.

“Kalau bisa membantu sedikit untuk membetulkan rumah kami ini, kami sangat bersyukur,” ujarnya penuh harap.

Pascabencana, Air Bersih Krisis, Harga Sembako Naik

Sibolga, ‘Kami Tak Punya Baju ke Gereja’, Suara Korban Banjir di Sibolga Sambut Natal, Rumah Selamat, Isinya Ludes, Pascabencana, Air Bersih Krisis, Harga Sembako Naik, Harga Sembako Melonjak, Sumatera Utara: 11.200 Rumah Rusak, 340 Orang Meninggal

Tim Sar gabungan saat mencari korban banjir dan longsor di di Jalan SM. Raja, Kelurahan Pancuran Gerobak, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga, Sumatera Utara pada Kamis (11/12/2025).

Selain kerusakan permukiman, warga Tapanuli Tengah kini menghadapi krisis air bersih, gangguan listrik, keterbatasan gas, dan harga bahan pokok yang melambung.

Pantauan di Pasar Kalangan Pandan, Jalan Lintas Padangsidimpuan–Sibolga, seluruh pedagang sudah kembali berjualan, namun pasar sepi pembeli. Komoditas seperti ikan laut, ikan sungai, dan daging sapi belum tersedia.

Sebaliknya, pedagang bumbu giling justru diserbu warga.

“Banyak yang beli bumbu giling karena listrik masih mati-hidup. Tanpa blender pun mereka bisa masak,” kata Idar (43), pedagang bumbu giling, Rabu (10/11/2025).

Harga Sembako Melonjak

Harga bahan pokok juga belum stabil. Cabai sempat tembus Rp 300.000/kg tiga hari usai bencana, kini turun jadi Rp 65.000/kg.

Bawang merah sulit didapat, harga stabil tinggi di Rp 60.000/kg karena jalan Tarutung–Sibolga masih terputus.

Bawang putih naik dari Rp 30.000 menjadi Rp 40.000/kg.

Sayur mayur langka, pasokan dari Tukka dan Lopian rusak total, kini dipasok dari Sorkam; harga satu ikat kangkung/singkong naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 5.000.

Pedagang ayam menyebut harga ayam naik ke Rp 40.000/kg, namun stok tidak langka.

Di sisi lain, warga terdampak mengurangi pembelian karena pendapatan belum pulih.

“Kami beli secukupnya saja. Suami belum bisa melaut karena ombak tinggi,” kata Rauda Hutagalung, warga Pandan.

Bupati Tapanuli Tengah Masinton memastikan akan melakukan sidak ke pasar dan mempercepat perbaikan infrastruktur agar harga kembali stabil.

“Kami akan meninjau harga dan percepat perbaikan jalan supaya pasokan sembako masuk lebih cepat,” ujarnya.

Sumatera Utara: 11.200 Rumah Rusak, 340 Orang Meninggal

BNPB mencatat kerusakan luas di berbagai wilayah Sumut, termasuk Medan, Tapanuli Tengah, Sibolga, Langkat, Tapanuli Selatan, dan Humbang Hasundutan.

“Tercatat 11.200 rumah rusak, 121 jembatan rusak, 60 fasilitas pendidikan, 80 fasilitas umum, sembilan rumah ibadah, dan satu fasilitas kesehatan terdampak,” ujar Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Rabu (10/12/2025).

Jumlah korban jiwa juga meningkat tajam:

  • 340 orang meninggal
  • 128 orang hilang
  • 651 orang terluka

besaran terjadi di sejumlah daerah:

  • Tapanuli Tengah: 18.300 jiwa
  • Langkat: 15.200 jiwa
  • Tapanuli Selatan: 7.000 jiwa
  • Humbang Hasundutan: 2.200 jiwa
  • Sibolga: 2.100 jiwa

BNPB menyebut koordinasi terus dilakukan untuk percepatan distribusi bantuan dan rehabilitasi infrastruktur.

Secara keseluruhan di Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar), jumlah korban meninggal per Rabu (10/12/2025) mencapai 969 jiwa, berdasarkan data BNPB.

Abdul Muhari menjelaskan tambahan 5 jenazah ditemukan pada hari itu—dua di Kabupaten Langkat, tiga di Padang Pariaman.

“Total korban meninggal hari ini menjadi 969 jiwa,” katanya.

Jumlah korban hilang turun menjadi 252 orang, sedangkan jumlah pengungsi mencapai 894.501 orang, bertambah 500 orang dibanding hari sebelumnya.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Sedih Dua Minggu Tak Bisa ke Gereja, Yustina: Baju Kami Habis karena Longsor

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini