Tren Microretirement Makin Populer di Kalangan Gen Z, Apa Dampaknya untuk Masa Depan Karier?

Ilustrasi Gen Z.
Ilustrasi Gen Z.

 Dunia kerja mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan pekerjaan, tuntutan digital, dan meningkatnya kasus burnout membuat banyak pekerja mulai mempertanyakan pola hidup yang hanya fokus pada karier nonstop. 

Sebagian orang kini memilih strategi baru. Bukan hanya cuti pendek, tetapi mengambil jeda panjang secara berkala untuk memulihkan kondisi fisik dan mental. Fenomena ini semakin dikenal sebagai microretirement.

Meningkatnya harapan hidup dan masa bekerja yang semakin panjang membuat microretirement terasa lebih masuk akal. Banyak orang menilai bahwa menunggu pensiun di usia tua untuk menikmati hidup bukan lagi pilihan realistis. 

Mengambil “mini pensiun” di tengah karier dianggap sebagai cara untuk menjaga keseimbangan hidup, kesehatan mental, hingga menemukan kembali motivasi kerja. Meski begitu, seperti semua keputusan besar, microretirement juga memiliki konsekuensi finansial dan profesional yang tidak bisa diabaikan.

Apa Itu Microretirement?

Ilustrasi liburan.

Sebagaimana dilansir dari The Week, Senin, 17 November 2025, microretirement merupakan praktik mengambil jeda panjang dari pekerjaan, biasanya beberapa minggu sampai beberapa bulan, dengan rencana kembali bekerja setelah masa istirahat berakhir. 

Waktu ini digunakan untuk berlibur, mengejar hobi, mengerjakan proyek pribadi, atau sekadar rehat dari rutinitas yang melelahkan. Berbeda dengan cuti tahunan, microretirement sepenuhnya tidak dibayar dan dilakukan secara sengaja sebagai bentuk pemulihan.

Bentuknya bisa bermacam-macam. Ada yang resign lebih dulu dan baru melamar pekerjaan kembali setelah siap. Ada juga yang membuat kesepakatan dengan perusahaan untuk mengambil unpaid break secara berkala. 

Pemilik usaha pun bisa menghentikan operasi bisnis sementara waktu demi menjalani microretirement. Fenomena ini berkembang karena tingkat keterikatan pekerja terhadap pekerjaan semakin rendah.

Laporan Gallup menunjukkan hanya 21 persen pekerja global yang merasa engaged pada 2024. Generasi Z menjadi kelompok yang paling cepat mengadopsinya karena mereka menempatkan work-life balance sebagai prioritas utama. 

Selain itu, banyak yang menilai bahwa melakukan perjalanan dan kegiatan petualangan lebih ideal dilakukan selagi masih muda dan sehat.

Haruskah Anda Mencobanya?

Sejatinya, jeda panjang dari pekerjaan bukan hal baru. Akademisi dan pekerja teknologi sudah lama mengenal sabbatical. Namun, para ahli melihat meningkatnya usia bekerja membuat microretirement semakin penting. 

Ada pandangan bahwa usia hidup yang lebih panjang membuat jeda panjang bukan lagi kemewahan, tetapi kebutuhan. Pakar perjalanan, Michael Edwards, juga menekankan urgensi mengambil jeda lebih awal. 

“Saat kita hidup dan bekerja lebih lama, masa pensiun terasa semakin jauh,” ujarnya. "Ada rasa ‘mengapa harus menunggu?’ Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan dan bagi banyak orang, masa pensiun mungkin terasa terlambat untuk melakukan perjalanan yang selama ini diimpikan,” ungkapnya. 

Meski begitu, microretirement tetap memiliki risiko yang harus dipertimbangkan. Jeda panjang dapat memengaruhi pendapatan, hasil investasi, hingga dana pensiun yang berkurang.

Dari sisi karier, persepsi perusahaan juga menjadi tantangan. Beberapa pimpinan HR memperingatkan bahwa seseorang bisa dianggap kurang stabil secara profesional. Di industri yang kompetitif, pandangan ini bisa menjadi hambatan besar bagi mereka yang ingin naik jabatan atau berpindah perusahaan.