Kabar Buruk! 2026 Diprediksi Jadi Tahun yang Sulit untuk Pencari Kerja

Ilustrasi pencari kerja
Ilustrasi pencari kerja

Sebuah analisis baru dari platform pencarian kerja Indeed memberi gambaran tentang tren pasar kerja di tahun depan. “2026 akan berbeda, tetapi tidak akan sulit dikenali,” demikian ungkap laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari Inc, Senin, 1 Desember 2025. 

Artinya, pasar kerja tahun depan masih akan menyerupai 2025, dan bagaimana orang menilainya akan sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing. Ringkasnya, jika seseorang tidak menyukai kondisi pasar kerja 2025, kemungkinan besar mereka juga tidak akan menyukainya di 2026.

Berdasarkan laporan tahunan '2026 Jobs & Hiring Trends Report' dari Indeed, tingkat pengangguran di tahun depan kemungkinan naik, tetapi tidak mengkhawatirkan. Kemudian angka lowongan kerja cenderung stabil, tetapi mungkin tidak banyak bertumbuh, dan pertumbuhan PDB tetap positif, tetapi agak lesu.

Meskipun pemerintah Amerika Serikat akhirnya menyelesaikan shutdown terpanjang dalam sejarah, faktor-faktor yang memicu ketidakpastian sepanjang tahun masih bertahan. “Kebijakan tarif tetap belum jelas, imigrasi terus menurun, kebijakan moneter berubah-ubah, dan pasar tenaga kerja terasa sangat menjebak,” sambung laporan itu. 

Kondisi itu pula yang membuat Economic Policy Uncertainty Index berada pada level rekor tahun ini, dan diperkirakan tidak akan turun banyak pada 2026.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Indeed menetapkan baseline pasar kerja 2026: pertumbuhan PDB sebesar 1,8 persen, penciptaan 7,1 juta lapangan kerja baru, dan tingkat pengangguran 4,4 persen yang diperkirakan tetap bertahan sepanjang tahun.

Tren Low-Hire, Low-Fire Diprediksi Berlanjut

Ilustrasi melamar kerja.

Laporan Indeed menekankan bahwa tren ‘low-hire, low-fire’, di mana pengusaha ragu terhadap prospek ekonomi sehingga menunda keputusan perekrutan, tetapi tidak cukup khawatir untuk melakukan PHK skala kecil, kemungkinan besar akan berlanjut.

Dengan kondisi seperti itu, perusahaan cenderung mempertahankan posisi dominan dalam negosiasi gaji, tunjangan, hingga penawaran untuk kandidat baru. Kekuasaan serupa juga berlaku dalam mempertahankan karyawan lama, di mana mereka tetap memiliki ruang untuk mengatur kenaikan gaji atau bonus sesuai kebutuhan bisnis, bukan permintaan pasar.

Keadaan ini terbentuk karena pekerja juga menyadari kerasnya pasar tenaga kerja saat ini. Mencari pekerjaan baru semakin sulit, dan ketidakpastian itu mendorong banyak orang memilih bertahan di posisi yang sudah mereka miliki. Jika peluang kerja semakin menipis, kecenderungan pekerja untuk “diam di tempat” akan makin kuat.

Meski begitu, laporan Indeed bertumpu pada beberapa asumsi yang belum tentu stabil. Salah satunya, pekerja berpendapatan menengah dan rendah diharapkan tidak lagi mengurangi konsumsi akibat tekanan inflasi, sementara rumah tangga berpenghasilan tinggi tetap menjadi motor utama pertumbuhan PDB. 

Jika konsumsi kedua kelompok ini melemah, perusahaan tidak akan punya pilihan selain meningkatkan perekrutan dan menaikkan gaji untuk menghidupkan kembali ekonomi, sesuatu yang cenderung tidak mereka lakukan jika bayangan resesi muncul.

Asumsi lain adalah beberapa sektor tenaga kerja harus tetap kuat. Sepanjang 2025, sektor kesehatan, konstruksi, dan hospitality menciptakan jutaan lapangan kerja baru yang menjadi penyeimbang ketika sektor lain stagnan. Bila sektor-sektor ini ikut memperlambat perekrutan, dampaknya bisa meluas ke penurunan konsumsi, pertumbuhan ekonomi, hingga kenaikan pengangguran.