Bertahan dengan Becak Tersisa, Kisah Delvita Usai Rumah Hilang Tertimbun Longsor Sibolga

Sudah dua minggu lamanya Delvita Siregar (49) dan ketiga anaknya bertahan hidup di pengungsian Masjid Budi Sehati, Jalan Sisingamangaraja, Kota Sibolga, Sumatera Utara, setelah rumah mereka rata dengan tanah akibat longsor berulang di Sibolga yang terjadi sejak Selasa (25/11/2025).
Longsor yang melanda kawasan permukiman di belakang Masjid Budi Sehati tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga merenggut dua nyawa serta memutus mata pencaharian sejumlah keluarga, termasuk Delvita.
“Rumah ibu hancur, semua barang-barangnya enggak bisa diselamatkan. Makanya kami mengungsi di masjid sampai hari ini,” ujar Delvita dengan suara bergetar saat ditemui, Selasa (9/12/2025).
Rumah Sekaligus Sumber Penghidupan Hilang Ditelan Longsor
Bagi Delvita, rumah yang kini hilang bukan sekadar tempat tinggal. Rumah itu menjadi pusat mata pencahariannya sebagai penjual kue basah keliling sekaligus lokasi usaha kecil yang menopang kebutuhan tiga anaknya, yang masing-masing tengah menempuh pendidikan di Medan, pesantren, dan SMK Tata Boga di Sibolga.
“Peralatan dapur semua habis. Kalau adalah nanti rumah, tapi uang gak ada mau beli peralatan untuk jualan,” katanya sambil menahan tangis.
Kehilangan rumah serta peralatan kerja membuat ia tak lagi memiliki modal untuk kembali berjualan.
Kronologi Longsor Berulang, Dua Tewas, Warga Mengungsi
Delvita mengisahkan bahwa longsor pertama terjadi dua minggu lalu dan menewaskan dua warga sekitar.
“Kejadian longsor dua minggu lalu, itu ada longsor. Itulah korbannya dua orang,” ungkapnya.
Pada pagi hari saat kejadian, suami Delvita bahkan sempat menolong salah satu korban yang masih mampu berteriak meminta pertolongan. Korban itu kemudian dilarikan ke rumah sakit.
Pasca kejadian pertama, keluarga Delvita langsung mengungsi ke masjid. Namun beberapa jam berselang, longsor kedua yang lebih besar kembali terjadi dan menghancurkan rumah mereka.
“Waktu mau ambil barang, disitulah rumah kami tertimbun longsor. Akhirnya kami putuskan untuk ngungsi di sini,” jelasnya.
Bertahan dengan Becak, Suami Sakit
satunya harta yang tersisa bagi keluarga ini hanyalah becak yang masih selamat dari longsor. Namun harapan untuk bekerja kembali tertahan karena suami Delvita sedang sakit.
“Alhamdulillah becak selamat. Cuman bapak juga lagi kurang sehat. Saat ini tak ada lagi yang bisa kami kerjakan selain pasrah,” tuturnya.
Di pengungsian, beban psikologis makin terasa. Salah satu anaknya mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan setelah bencana.
Meski demikian, Delvita tetap bersyukur keluarganya selamat dari bencana yang menghabiskan seluruh harta mereka.
Harapan Delvita, Bantuan Rumah dari Pemerintah
Tanpa tabungan, modal, maupun tempat tinggal, Delvita mengaku tidak sanggup menyewa rumah.
“Uang kami gak ada lagi untuk sewa rumah. Saya berharap bantuan rumah dari pemerintah,” pintanya penuh harap.
Delvita mengakui bahwa hidup di pengungsian tidak mudah. Selain kekhawatiran soal masa depan, ia kerap tidak berselera makan karena terus memikirkan biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.
“Dukanya itulah, kadang gak selera makan mikirin rumah dan biaya sekolah anak-anak. Dan anakku mulai mengalami penyakit pasca bencana. Cuman disyukuri karena semua dalam keadaan selamat,” ujarnya.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul NASIB Delvita Siregar 2 Pekan di Pengungsian, Rumah Rata Dengan Tanah, Tak Tahu Tinggal Dimana Lagi
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang