Jejak Lumpur Masih Ada, Desa Suka Damai Aceh Tamiang Menggeliat Bangun Huntara

Aceh Tamiang, Desa Suka Damai, IRBox, Jejak Lumpur Masih Ada, Desa Suka Damai Aceh Tamiang Menggeliat Bangun Huntara

Banyak infrakstruktur, akses jalan, dan hunian rusak saat banjir menerjang Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh pada akhir November tahun lalu.

Bahkan, Aceh Tamiang termasuk salah satu daerah yang mengalami kerusakan terparah di antara wilayah Sumatera yang diterjang bencana banjir dan tanah longsor.

Diberitakan , Jumat (16/1/2026), tercatat sebanyak 12 puskesmas di Kabupaten Aceh Tamiang mengalami kerusakan berat akibat banjir.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada bangunan, tetapi juga meliputi ambulans, puskesmas keliling (pusling), serta peralatan dan mebel penunjang pelayanan kesehatan.

Meski begitu, menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, Mustakim, pelayanan kesehatan tetap berjalan. 

Sementara itu, banyak desa di Aceh Tamiang yang diterjang dan terendam banjir, dengan ratusan hunian rusak dan sebagian hanyut. 

Salah satu desa yang terdampak cukup parah adalah Desa Suka Damai di Kecamatan Banda Mulia, Aceh Tamiang.

Kondisi desa pascabencana

Ada puluhan rumah di Desa Suka Damai yang sudah rusak berat atau hanyut dibawa banjir, dan tak bisa dihuni lagi.

Meski begitu, tak ada korban jiwa yang jatuh ketika banjir besar menerjang di akhir tahun lalu.

Sugiarto, relawan dari IRBox mengatakan, menurut warga desa, banjir di wilayah tersebut bukan bersifat banjir bandang.

"Letak desa ini cukup jauh dari sungai. Jadi banjirnya datang dan ketinggian naik pelan-pelan, sehingga warga punya waktu buat mengungsi ke tempat yang aman," katanya kepada Kompas.com, Jumat (15/1/2026) via sambungan telepon.

Tercatat, ketinggian air di Suka Damai mencapai 3-4 meter, membuat rumah terendam sampai ke atap.

Banjir surut dua hari kemudian, namun menyisakan duka dan kesusahan berlarat-larat hingga hari ini. 

"Beberapa lumpur sudah dibersihkan. Akses jalan juga sudah bisa dilalui. Namun kalau hujan, sisa lumpur akan membuat jalanan becek. Sedangkan kalau tidak hujan beberapa hari saja, sisa lumpur akan menjadi debu yang beterbangan," papar Sugi.

Menurut Sugi, meski rumah-rumah warga banyak yang rusak, namun fasilitas umum seperti masjid dan sekolah masih berdiri tegak.

Lumpur masjid dibersihkan oleh warga secara gotong royong. Sedangkan pembersihan jalan dan sekolahan dilakukan oleh warga, TNI, dan juga relawan.

Aliran listrik sudah kembali normal, dengan sambungan internet di beberapa daerah juga sudah kembali menyala.

"Beberapa relawan membantu pakai Starlink," kata Sugi. 

Sedangkan untuk stok air bersih, ada kiriman tangki air yang datang tiap sore. Di samping itu, juga sudah ada relawan yang membantu membuatkan sumur-sumur bor.

Membangun hunian sementara

Aceh Tamiang, Desa Suka Damai, IRBox, Jejak Lumpur Masih Ada, Desa Suka Damai Aceh Tamiang Menggeliat Bangun Huntara

Rumah huntara di Desa Suka Damai yang dibangun oleh IRBox dan warga.

Meski beberapa warga berhasil membersihkan dan membenahi huniannya, namun masih ada puluhan kepala keluarga (KK) yang tak bisa lagi mendapatkan rumahnya layak huni sehingga mereka masih bertahan di tenda-tenda pengungsian BNPB hingga hari ini.

Menurut Sugi, tenda-tenda pengungsian masih berdiri dan dilengkapi dengan beberapa dapur umum, meski jumlahnya makin surut tiap hari.

Sugi sendiri bersama tim IRBox, yang fokus pada respons cepat bencana, mencoba membantu proses transisi, sebelum warga terdampak mendapatkan rumah bantuan dari pemerintah.

"Kami fokus membantu sekitar 43 kepala keluarga yang huniannya rusak atau hanyut. Fokus kami adalah membantu membuatkan hunian sementara (huntara) yang bisa didiami sehingga mereka bisa pindah dari tenda-tenda pengungsian," papar Sugi.

Sugi sendiri yang sudah bermukim di Suka Damai sejak awal Januari mengatakan, IRBox sengaja "mengincar" desa-desa pelosok, wilayah yang biasanya terdampak paling parah saat bencana dan paling sulit dijangkau bantuan, baik karena akses terbatas maupun minimnya sorotan publik.

IRBox bertugas merancang desain rumah, memastikan pengadaan material bangunan lengkap, dan mendampingi proses pembuatan secara langsung.

"Kami merancang desainnya, kemudian proses pembangunannya sendiri bekerja sama dengan warga, khususnya mereka yang punya keahlian di kayu dan bangunan," papar Sugi.

Kayu-kayu gelondongan yang terbawa banjir adalah material utama yang dipakai membuat rumah hunian sementara ini.

Menurut Sugi, sudah ada surat edaran resmi dari pemerintah yang menyatakan bahwa kayu-kayu sisa banjir itu bisa dimanfaatkan warga untuk membuat huntara.

Huntara yang dibuat berbentuk rumah panggung semi permanen dengan ukuran 4,5 x 6 meter.

Hal ini dengan tujuan untuk menghindari banjir di masa depan, juga untuk penghematan dana. Karena rumah panggung tak membutuhkan fondasi permanen dan pengunaan ubin untuk lantai yang menguras biaya. 

"Rumah sementara ini diletakkan di pinggir, di lokasi rumah lama mereka. Sehingga jika nantinya ada bantuan pembangunan rumah dari pemerintah, rumah sementara ini tak perlu dibongkar, bisa dimanfaatkan untuk dapur atau lainnya," papar Sugi.

Per hari Jumat kemarin, sudah ada 1 rumah prototipe yang jadi. Warga antusias membangun selepas melihat rumah tersebut, yang dinilai layak dan menjadi solusi hunian sementara. 

Menurut perkiraaan relawan yang hingga hari ini masih bertahan di sekitar Suka Damai, potensi banjir di masa depan masih tinggi.

"Karena di daerah atas baru pembukaan lahan sawit besar-besaran, ini baru masuk proses potong, belum proses tanam. Sawit butuh waktu 5-6 tahun untuk bisa besar dan mencengkeram tanah. Nah, sebelum waktu itu tiba, kalau ada hujan masif seperti kemarin, 3 hari atau lebih tak reda, banjir besar bisa menerjang lagi," pungkas Sugi.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang