Gelar Sarjana Tak Lagi Penting? 86 Persen Perusahaan Kini Lebih Melirik Sertifikat dan Skill

Ilustrasi wisuda/lulus kuliah.
Ilustrasi wisuda/lulus kuliah.

 Jika dulu gelar akademik menjadi syarat utama untuk memasuki dunia profesional, kini banyak perusahaan beralih ke pendekatan yang jauh lebih praktis dengan menilai skill nyata, sertifikat profesional, serta pengalaman langsung di lapangan. Perubahan ini tak terlepas dari cepatnya perkembangan teknologi dan kebutuhan perusahaan terhadap talenta yang siap beradaptasi.

Kondisi tersebut membuat persaingan kerja semakin ketat. Kandidat kini dituntut untuk mampu menunjukkan kompetensi terkini dan relevan, bukan hanya sekadar menyodorkan ijazah. 

Keterampilan tertentu juga memiliki “masa pakai” yang semakin pendek, sehingga pembelajaran berkelanjutan menjadi penting bagi siapa pun yang ingin bertahan di dunia kerja yang terus berubah.

Laporan terbaru dari Western Governors University (WGU) menggambarkan pergeseran ini dengan sangat jelas. Dalam laporan tersebut, 86 persen perusahaan menilai sertifikat non-gelar sebagai indikator penting kesiapan kerja. Presiden WGU, Scott Pulsipher, menjelaskan bahwa kecepatan perubahan teknologi membuat keterampilan cepat usang. 

“Kecepatan perubahan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk tetap produktif di dunia kerja terus meningkat. Hal ini membuat masa berlaku keterampilan yang kita miliki menjadi semakin pendek,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Fortune, Rabu, 10 Desember 2025.

Ilustrasi melamar kerja.

Namun, relevansi gelar tidak sepenuhnya hilang. Laporan yang sama menemukan bahwa 68 persen perusahaan masih menganggap gelar sebagai bagian penting dalam proses rekrutmen. Pulsipher menambahkan bahwa perusahaan kini melihat kandidat secara lebih menyeluruh. 

“Gelar masih sangat penting, dan kami melihat bahwa keputusan rekrutmen kini semakin bergantung pada portofolio,” paparnya. 

Ia juga menekankan bahwa kombinasi antara gelar atau sertifikasi yang relevan dengan pengalaman kerja dapat dua kali lebih meningkatkan peluang kandidat diterima. Meski demikian, tidak semua sertifikat memiliki nilai yang sama di setiap sektor. 

Sertifikat cenderung paling dihargai di bidang teknologi, konstruksi, dan kesehatan. Sementara itu, di sektor hukum, perhotelan, atau pemasaran, sertifikat tidak selalu menjadi faktor penentu utama. 

Pulsipher juga mengingatkan bahwa dari jutaan sertifikat yang beredar, hanya sebagian kecil yang benar-benar diakui dunia industri. “Dari jutaan kredensial yang beredar, kemungkinan kurang dari satu persen yang benar-benar diakui industri dan layak dikejar,” ungkapnya. 

“Mulailah dari pekerjaan yang Anda incar, bukan dari sertifikat yang terlihat menarik. Cari tahu keterampilan apa yang dibutuhkan, lalu pilih jalur pembelajaran yang berakhir pada sertifikat yang diakui industri,” saran Pulsipher. 

Selain itu, laporan WGU juga mencatat bahwa 78 persen perusahaan menganggap pengalaman kerja sama pentingnya, bahkan lebih penting daripada gelar. Pulsipher menilai banyak anak muda sering menganggap enteng pengalaman langsung, padahal hal itu justru menjadi nilai tambah yang besar. 

Pandangan ini juga tercermin dari cara perusahaan besar menilai talenta. CEO Palantir, Alex Karp, misalnya. Ia mengatakan, latar belakang pendidikan tidak lagi menjadi patokan ketika seseorang memiliki pengalaman kerja. ,

“Apakah Anda tidak sekolah, sekolah biasa saja, atau lulusan kampus ternama, begitu Anda masuk Palantir, Anda adalah bagian dari Palantir. Tidak ada yang peduli dengan latar belakang lainnya,” ungkapnya. 

Pendekatan serupa juga disampaikan CEO Great Place to Work, Michael Bush. Ia menuturkan bahwa banyak perusahaan terkemuka kini tidak lagi fokus pada gelar. “Yang mereka cari adalah keterampilan,” ujarnya.