Top 7+ Fakta Lengkap Kasus Viral MUA Deni alias Dea Lipa yang Dituduh “Sister Hong Lombok”

Dea Lipa, Sister Hong, Sister Hong Lombok, sister hong viral, dea lipa, dea lipa MUA lombok, mua lombok, sister hong Lombok, 7 Fakta Lengkap Kasus Viral MUA Deni alias Dea Lipa yang Dituduh “Sister Hong Lombok”, 1. Deni Membantah Semua Tuduhan: Narasi Itu Tidak Benar dan Penuh Fitnah, 2. Tidak Mengenal Akun Penyebar Tudingan, 3. Mengalami Tekanan Mental Akibat Serangan Warganet, 4. Mengaku Sebagai Difabel: Gangguan Pendengaran Sejak Kecil, 5. Belajar Make-up Secara Otodidak dan Memakai Jilbab sebagai Ekspresi Diri, 6. Bantah Isu HIV, Didampingi Solidaritas Kemanusiaan, 7. Keluarga Sampaikan Permintaan Maaf dan Jelaskan Alasan Memilih Diam

Linimasa Instagram mendadak gaduh setelah seorang make-up artist (MUA) asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dituding sebagai “Sister Hong Lombok”.

Tuduhan tersebut pertama kali disebarkan oleh akun Instagram @nasikra********* pada Minggu (9/11/2025).

Dalam sejumlah unggahannya, akun itu menyebut sosok MUA yang memperkenalkan diri sebagai Dea Lipa ternyata adalah laki-laki bernama asli Deni (23). Ia dituding mengenakan kerudung untuk mengelabui para klien, terutama pengantin perempuan.

“Laki laki menyerupai perempuan muslimah menggunakan hijab, tukang rias pengantin, dia menyembunyikan identitas aslinya dan memegang2 customer yg bukan muhrimnya, membantunya memasang pakaian smentara pengantin sangat menjaga dirinya dr laki2 yg bukan muhrim,” tulis pengunggah.

Pengunggah juga mengklaim banyak klien tidak mengetahui bahwa MUA tersebut adalah pria.

Lalu, bagaimana duduk perkara kasus yang belakangan disebut sebagai isu “Sister Hong Lombok” ini? Berikut rangkuman 7 fakta lengkapnya:

1. Deni Membantah Semua Tuduhan: Narasi Itu Tidak Benar dan Penuh Fitnah

Setelah isu tersebut viral, Deni akhirnya memberikan klarifikasi. Ia membantah seluruh tuduhan negatif yang diarahkan kepadanya, mulai dari sebutan “Sister Hong Lombok”, penistaan agama, hingga tudingan aktivitas yang dianggap menipu klien.

“Sebuah akun media sosial mengunggah foto-foto saya bersama narasi yang tidak benar, penuh fitnah dan sangat melukai perasaan saya, keluarga saya, serta teman-teman yang selama ini mendukung saya,” tegasnya, dikutip dari Kompas.com, Minggu (16/11/2025).

“Banyak narasi yang disebarkan tidak sesuai dengan kenyataan bahkan menuduh saya sebagai penista agama, kaum Sodom, Sister Hong dari Lombok, serta menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak saya lakukan,” sambungnya.

Ia juga membantah tudingan bahwa ia pernah menggunakan mukena untuk beribadah di masjid dan shalat di saf perempuan.

2. Tidak Mengenal Akun Penyebar Tudingan

Deni menegaskan bahwa ia sama sekali tidak mengenal pemilik akun yang menyebarkan narasi negatif tersebut. Ia menyatakan tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengannya.

Ia juga mengatakan tidak pernah memberikan izin untuk penggunaan foto-fotonya.

3. Mengalami Tekanan Mental Akibat Serangan Warganet

Pasca unggahan tersebut viral, Deni dihujani ribuan komentar bernada cacian, hinaan, hingga ancaman. Kondisi itu membuatnya sangat terpukul.

“Saya sangat terpukul secara mental, dan fisik, bahkan beberapa kali saya sempat kehilangan kendali dan mengalami pikiran berbahaya terhadap diri saya,” ujarnya sambil menangis.

Akibat tekanan tersebut, Deni terpaksa membatalkan sejumlah jadwal rias pengantin.

4. Mengaku Sebagai Difabel: Gangguan Pendengaran Sejak Kecil

Deni mengungkapkan bahwa hidupnya tidak mudah sejak kecil. Ia mengalami gangguan pendengaran yang makin parah setelah kecelakaan saat berusia 10 tahun.

Ia dibesarkan oleh neneknya, sementara kedua orang tuanya bekerja sebagai pekerja migran. Namun, di kelas 6 SD, Deni kehilangan nenek yang merawatnya. Kondisi dan keterbatasannya membuat ia hanya menamatkan sekolah sampai jenjang SD saja dan kerap menjadi korban perundungan.

5. Belajar Make-up Secara Otodidak dan Memakai Jilbab sebagai Ekspresi Diri

Minat Deni pada dunia tata rias membuatnya belajar secara otodidak melalui YouTube dan media sosial. Hingga kini, ia tetap bermimpi menjadi MUA profesional, memiliki galeri kecil, melanjutkan pendidikan, dan berbagi keterampilan dengan orang lain.

Selama menjalani profesinya, ia memang kerap memakai jilbab. Menurut Deni, itu merupakan bentuk ekspresi diri serta upaya agar dirinya terhindar dari pelecehan.

“Saya sama sekali tidak berniat menjadikan busana itu sebagai alat untuk menipu atau melecehkan siapa pun,” ujarnya.

6. Bantah Isu HIV, Didampingi Solidaritas Kemanusiaan

Deni juga membantah keras isu bahwa dirinya mengidap HIV. Ia menegaskan telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan hasilnya negatif.

Koordinator Solidaritas Kemanusiaan, Mukhsin, yang mendampingi Deni, membenarkan hal itu.

“Kami ingin menegaskan bahwa informasi tersebut tidaklah benar, pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sesuai prosedur membuktikan bahwa kekhawatiran publik tidak memiliki dasar medis,” kata Mukhsin.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak bertindak gegabah.

“Kegelisahan masyarakat yang kami dengar dengan penuh rasa hormat,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya penyikapan yang tenang dan tidak melakukan perundungan maupun tindakan main hakim sendiri.

7. Keluarga Sampaikan Permintaan Maaf dan Jelaskan Alasan Memilih Diam

Keluarga Deni Apriadi Rahman alias Dea Lipa akhirnya buka suara. Dalam konferensi pers di Mataram, Sabtu (15/11/2025), mereka menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi.

“Sebelumnya kami minta maaf atas kegaduhan yang tidak pernah kami inginkan terjadi melalui media sosial,” ungkap Maya, juru bicara keluarga.

Maya menyebutkan bahwa selama seminggu terakhir keluarga merasa terintimidasi dan terganggu oleh narasi negatif yang beredar. Mereka memilih diam demi menjaga kondisi psikologis Deni yang sempat down.

“Kami (keluarga) merasa terganggu, merasa terintimidasi, terancam, bahkan kenapa kami memilih diam itu juga perlu kami jelaskan. Diam pun adalah bentuk selemah-lemahnya kami bertahan,” kata Maya.

Keluarga tetap berharap Deni bisa berubah secara bertahap.

“Kami tidak pernah menutup pintu hidayah Allah itu kepada hambanya tidak pernah… tidak kemarin mungkin besok, tidak besok mungkin besoknya lagi,” ucapnya.

Maya juga meminta masyarakat untuk tidak melakukan penghakiman dan tidak menyebarkan fitnah di media sosial.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.