Ekonom Kasih Sinyal Bahaya, Gelombang PHK di 2026 Bisa Lebih Parah?
Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menutup 2025 dengan ketar-ketir. Setelah sempat berada dalam kondisi relatif stabil pada paruh pertama tahun, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran justru muncul di bulan-bulan terakhir, terutama dari perusahaan-perusahaan raksasa.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang arah pasar kerja AS pada 2026. Ketidakpastian ekonomi global, kebijakan perdagangan yang agresif, hingga percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) menjadi kombinasi faktor yang dinilai dapat memperpanjang tren PHK.
Sejumlah ekonom memperingatkan bahwa kondisi pasar tenaga kerja tahun depan bisa sama beratnya, bahkan berpotensi lebih buruk dibandingkan 2025. Sebelumnya, pada paruh pertama 2025, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menggambarkan pasar tenaga kerja AS mengadopsi “low hire, low fire” atau perekrutan rendah dan PHK rendah.
Minimnya pengumuman PHK kala itu menahan dampak perlambatan lowongan kerja agar tidak berkembang menjadi krisis ketenagakerjaan yang lebih luas. Namun situasi berubah drastis di akhir tahun, di mana banyak perusahaan besar yang melakukan PHK skala besar.
Pandangan mengenai 2026 pun terbelah. Sebagian pihak berharap pasar tenaga kerja akan kembali normal setelah periode pascapandemi yang penuh gejolak, dengan sektor kesehatan menopang perekrutan dan menjaga tingkat pengangguran tetap rendah. Namun, pihak lain justru menilai ketidakpastian ekonomi dan ancaman AI berpotensi membuat angka PHK tetap tinggi, bahkan melampaui akhir 2025.
Ilustrasi robot dan manusia bekerja bersama
Hamermesh, profesor emeritus ekonomi di University of Texas di Austin, menilai tarif perdagangan akan terus membayangi lapangan kerja pada 2026. Ia menyamakan dampaknya dengan krisis minyak 1973 yang kala itu mendorong kenaikan biaya sekaligus pengangguran di AS.
“Jika Anda memberi tahu saya sektor mana yang paling terdampak tarif, saya akan memberi tahu sektor mana yang akan terpukul,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Newsweek, Rabu, 24 Desember 2025.
Ia menyebut, sektor ritel dan jasa yang berada di hilir daya beli konsumen, akan terdampak dan berpotensi semakin rapuh. Senada dengan itu, Aaron Sojourner, peneliti senior di W.E. Upjohn Institute for Employment Research, menegaskan bahwa hampir tidak ada sektor yang benar-benar aman.
“Setiap sektor berisiko mengalami PHK pada 2026,” ujarnya. “Pengangguran meningkat dan pertumbuhan lapangan kerja melambat secara luas di berbagai sektor. Pertumbuhan upah juga melambat dibandingkan setahun lalu,” ungkapnya.
Sojourner menambahkan bahwa permintaan tenaga kerja akan terus tertekan oleh tarif, menurunnya investasi publik di sektor kesehatan, serta berkurangnya konsumen imigran akibat pengetatan kebijakan oleh Presiden Donald Trump.
Selain faktor kebijakan, ekonom Desmond Lachman melihat dua alasan utama yang mengkhawatirkan pasar tenaga kerja 2026. “Yang pertama adalah kondisi ekonomi AS secara keseluruhan,” kata Lachman, peneliti senior di American Enterprise Institute. “Yang kedua adalah meningkatnya kecepatan penerapan AI yang kemungkinan akan menggusur pekerja kerah putih.”
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Sepanjang 2025, AI telah dikaitkan dengan banyak pengumuman PHK massal. Amazon, misalnya, menyoroti potensi transformasional AI saat mengumumkan penghapusan sekitar 14.000 posisi di bagian korporat. Salesforce juga memangkas 4.000 karyawan pada 2025 setelah chatbot mengambil alih tugas layanan pelanggan.
Apakah PHK 2026 Lebih Parah dari 2025?
Laporan terbaru Challenger, Gray & Christmas mencatat 71.321 PHK yang diumumkan perusahaan berbasis di AS pada November, sehingga total PHK sepanjang 2025 hampir mencapai 1,2 juta orang. Angka ini naik 54 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi di luar masa pandemi sejak Resesi Besar.
Meski masa depan pasar kerja akan sangat bergantung pada dinamika perdagangan, teknologi, dan kejadian global tak terduga, banyak ekonom menilai 2026 kemungkinan besar akan mencerminkan pola 2025.