Efek AI Makin Ngeri, Gelombang PHK Diprediksi Masih Berlanjut Sampai 2030

Ilustrasi AI masuk kantor.
Ilustrasi AI masuk kantor.

 Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah wajah dunia kerja global. Teknologi yang awalnya dipandang sebagai alat bantu produktivitas kini bertransformasi menjadi sistem yang mampu menggantikan berbagai tugas manusia. 

Otomatisasi yang masif membuat perusahaan di berbagai sektor meninjau ulang struktur organisasi dan kebutuhan tenaga kerja mereka.

Di tengah janji efisiensi dan inovasi, muncul kekhawatiran besar di kalangan pekerja. Sejumlah pekerjaan diperkirakan akan menyusut tajam, sementara hanya sebagian kecil yang justru mengalami lonjakan permintaan. 

Kondisi ini membuka peluang terjadinya gelombang pengurangan karyawan secara global dalam beberapa tahun mendatang. Laporan terbaru World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa dampak AI terhadap lapangan kerja semakin signifikan. 

"Berdasarkan survei terhadap ratusan perusahaan besar di berbagai negara, sebanyak 41 persen perusahaan menyatakan berencana mengurangi jumlah tenaga kerja mereka hingga tahun 2030 seiring meningkatnya penggunaan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas tertentu," demikian isi laporan tersebut sebagaimana dikutip dari CNN, Jumat, 9 Januari 2026.

WEF menyimpulkan bahwa kecerdasan buatan mulai mengambil alih sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, sehingga perusahaan merasa perlu menyesuaikan jumlah karyawan. Meski demikian, laporan yang dimuat dalam Future of Jobs Report juga mencatat bahwa 77 persen perusahaan berencana melakukan peningkatan keterampilan (reskilling dan upskilling) terhadap karyawan yang ada pada periode 2025–2030. 

Tujuannya agar pekerja dapat beradaptasi dan bekerja berdampingan dengan AI. Namun, berbeda dengan laporan edisi 2023, WEF tidak lagi menyatakan bahwa sebagian besar teknologi, termasuk AI, akan memberikan dampak positif bersih terhadap jumlah lapangan kerja secara keseluruhan.

WEF menegaskan bahwa kemajuan AI dan energi terbarukan kini membentuk ulang pasar tenaga kerja global. Perubahan ini mendorong peningkatan permintaan pada berbagai peran teknologi dan spesialis, namun secara bersamaan menyebabkan penurunan pada sejumlah profesi lain.

Laporan juga menyebut bahwa kemajuan AI dan energi terbarukan sedang mengubah pasar tenaga kerja dengan meningkatkan permintaan untuk pekerjaan teknologi atau spesialis, sekaligus menekan profesi tertentu seperti desainer grafis.

Dalam laporan tersebut, Managing Director WEF Saadia Zahidi menyoroti peran generative AI dalam mengubah industri dan jenis tugas di hampir semua sektor. Teknologi ini mampu menciptakan teks, gambar, dan berbagai konten orisinal berdasarkan perintah pengguna.

Sejumlah pekerjaan diperkirakan akan mengalami penurunan tercepat, termasuk petugas layanan pos, sekretaris eksekutif, dan staf penggajian. Penurunan ini terjadi baik akibat adopsi AI maupun tren struktural lainnya di dunia kerja.

WEF juga mencatat fenomena baru yang belum pernah muncul dalam edisi laporan sebelumnya. Kehadiran profesi desainer grafis dan sekretaris hukum yang berada tepat di luar daftar 10 pekerjaan dengan penurunan tercepat menunjukkan bahwa generative AI semakin mampu melakukan pekerjaan berbasis pengetahuan.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap keterampilan AI justru melonjak tajam. Hampir 70 persen perusahaan menyatakan berencana merekrut pekerja baru yang memiliki kemampuan untuk merancang dan mengembangkan alat berbasis AI. Selain itu, 62 persen perusahaan juga berniat menambah tenaga kerja yang memiliki keterampilan untuk bekerja secara efektif bersama teknologi AI.

WEF menilai bahwa dampak utama teknologi seperti generative AI terhadap dunia kerja tidak selalu berupa penggantian total tenaga manusia. Dampak terbesarnya justru terletak pada potensi peningkatan kemampuan manusia melalui kolaborasi antara manusia dan mesin.

Dalam laporan tersebut, WEF menyebut bahwa pengaruh utama AI kemungkinan besar terletak pada kemampuannya memperkuat keterampilan manusia melalui kerja sama manusia-mesin, bukan semata-mata menggantikan peran manusia, terutama karena keterampilan yang berpusat pada manusia tetap sangat penting.

Meski pendekatan kolaboratif sering digaungkan, kenyataannya sejumlah perusahaan sudah menggunakan AI sebagai alasan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi seperti Dropbox dan Duolingo secara terbuka menyebut pemanfaatan AI sebagai salah satu faktor di balik keputusan mereka melakukan PHK.

Temuan ini menegaskan bahwa dampak AI terhadap dunia kerja bukan lagi sekadar prediksi. Perubahan sudah berlangsung, dan konsekuensinya semakin nyata.