Profil Sultan Muhammad Salahuddin: Raja Bima XIV, Kini Jadi Pahlawan Nasional
Sultan Muhammad Salahuddin akhirnya resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Setelah bertahun-tahun diajukan namun belum juga disetujui, gelar tersebut kini diberikan kepada Sultan ke-14 Kerajaan Bima itu.
Lahir di Bima pada 15 Zulhijah 1306 H atau 14 Juli 1889, Salahuddin merupakan satu dari 12 bersaudara. Ia memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah Bima pada awal abad ke-20.
Masuk dalam daftar 10 tokoh penerima gelar Pahlawan Nasional tahun ini, Salahuddin dikenal sebagai seorang pemimpin yang rajin, cerdas, serta memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan dan kebangsaan.
Sejak kecil, ia sudah memperoleh pendidikan agama dan pemerintahan dari para ulama dan pejabat istana. Ia mendalami ilmu tauhid, politik, serta Al-Qur'an dan hadits dari ulama lokal, juga dari tokoh yang didatangkan dari Batavia, yakni H. Hasan, serta Syekh Abdul Wahab dari Mekkah.
Kegemarannya membaca membuatnya memiliki banyak koleksi buku bermutu karya ulama besar, termasuk Imam Syafi’i, di perpustakaan pribadinya. Ia pun aktif menulis, dengan salah satu karyanya berjudul Nurul Mubin.
Salahuddin adalah putra Sultan Ibrahim (Sultan XIII) dan Siti Fatimah binti Lalu Yusuf Ruma Sakuru. Berbekal akhlak yang mulia dan keluasan ilmu, pada 2 November 1899 ia diangkat sebagai “jena teke” atau Putra Mahkota oleh majelis Hadat.
Untuk menimba pengalaman pemerintahan, ia kemudian ditunjuk sebagai jeneli donggo (setingkat camat) pada 23 Maret 1908. Pada 1917, ia resmi dilantik sebagai Sultan Bima XIV dan memimpin dari 1915 hingga 1951 setelah menggantikan kedudukan ayahnya.
Pada 1949, Salahuddin juga dipercaya memimpin Dewan Raja-Raja se-Pulau Sumbawa dengan persetujuan Sultan Dompu dan Sultan Sumbawa.
Sultan Muhammad Salahuddin memberi perhatian besar pada pendidikan. Ia mendirikan sekolah agama dan sekolah umum di seluruh kecamatan dengan sistem pendidikan modern. Meski awalnya sempat dicurigai sebagai sistem pendidikan dari Belanda yang dianggap kafir, ia mencari cara untuk meredam penolakan masyarakat.
Sultan kemudian mendatangkan guru-guru beragama Islam dan berjiwa nasionalis dari berbagai daerah, termasuk Makassar dan Jawa. Guru-guru non-Islam yang tetap memiliki jiwa nasionalis juga ditempatkan mengajar di sekolah umum. Lambat laun, masyarakat menerima kehadiran para pendidik tersebut, dan semangat persatuan lintas suku serta agama mulai tumbuh. “Hal ini mulai pertanda tumbuhnya semangat kebangsaan di Bima,” tulis M. Hilir Ismail (2002).
Salah satu kebijakan pentingnya adalah pemberian beasiswa bagi pelajar berprestasi untuk menempuh pendidikan di Makassar, kota-kota besar di Jawa, hingga ke Timur Tengah (Ibid, 2002).
Di bidang politik, perannya juga signifikan. Sultan Muhammad Salahuddin dikenal teguh dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat nasionalisme Islam yang tumbuh dalam dirinya tercermin dalam Maklumat 22 November 1945. Kecintaannya pada bangsa membuatnya berani menghadapi penjajah Belanda, Jepang, dan NICA.
Tidak hanya itu, ia juga meninggalkan sejumlah bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga kini. Dua istana dibangunnya pada tahun 1927, yaitu Istana Kesultanan Bima dan istana kayu berarsitektur Mbojo bernama Asi Bou. Keduanya kini ditetapkan sebagai Cagar Budaya.
Selain itu, salah satu dari banyak masjid yang ia dirikan adalah Masjid Raya Bima atau Masjid Raya Al Muwahiddin yang dibangun pada 1947 dan terletak di sebelah timur istana.
Demikian rangkaian perjuangan serta kontribusi Sultan Muhammad Salahuddin selama masa pemerintahannya yang berlangsung selama 36 tahun, sebagaimana dikutip dari Sejarah Perjuangan Sultan Muhammad Salahuddin oleh M. Hilir Ismail dan Alan Malingi.
Artikel ini tayang di Sripoku.com dengan judul Sosok Sultan Muhammad Salahuddin, Putera Mahkota Bima Diberi Gelar Pahlawan, Jadi Sultan 36 Tahun
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.