Zainal Abidin Syah, Gubernur Pertama Irian Barat yang Kini Dianugerahi Pahlawan Nasional
Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Tidore periode 1947-1967, Zainal Abidin Syah, dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Penganugerahan ini diberikan atas kontribusi besar Sultan Zainal Abidin Syah dalam perjuangan diplomasi Indonesia, khususnya terkait integrasi Papua Barat ke dalam wilayah NKRI. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin adat yang memainkan peranan penting dalam upaya Indonesia merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.
Dalam sejarah, nama Zainal Abidin Syah tercatat sebagai Gubernur Irian Barat pertama, wilayah yang kini dikenal sebagai Papua. Irian Barat sendiri merupakan kawasan paling timur Indonesia sebelum berubah menjadi Provinsi Papua pada 2003. Ia memimpin sebagai gubernur sejak 1956 hingga 1961.
Profil Singkat Zainal Abidin Syah
Mengutip Wikipedia, Zainal Abidin Syah Sangaji lahir pada 5 Agustus 1912 dan wafat pada 4 Juli 1967. Ia menjabat sebagai Sultan Tidore dari 1947 hingga 1967 dan dikenal memiliki peranan sentral dalam sejarah perebutan kembali Papua Barat.
Pengangkatannya sebagai Gubernur Irian Barat pertama dilatarbelakangi memanasnya hubungan Indonesia-Belanda soal status Irian Barat. Pada Sidang Umum PBB Desember 1954, persoalan ini tak juga terselesaikan karena Belanda menarik dukungan dari negara-negara Barat. Sebagai respons, Pemerintah Indonesia menghapus misi militer Belanda yang masih bertugas di Indonesia.
Ketika berbagai upaya damai menemui jalan buntu, Indonesia mengambil langkah konfrontasi di berbagai bidang. Pada 1956, di era Kabinet Ali II, seluruh keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) dibatalkan secara sepihak—baik yang menyangkut politik, finansial, ekonomi, maupun lainnya. KMB dianggap tidak pernah ada sehingga Indonesia sepenuhnya kembali pada prinsip Proklamasi 1945.
Sebagai bentuk perlawanan atas tindakan Belanda yang memasukkan Irian Jaya ke dalam Kerajaan Belanda, Pemerintah RI membentuk Provinsi Perjuangan Irian Barat pada 17 Agustus 1956, dengan ibu kota sementara di Soasiu, Tidore. Wilayah tersebut meliputi Irian Barat yang masih diduduki Belanda, Tidore, Oba, Weda Patani, dan Wasifa.
Presiden Soekarno kemudian menetapkan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Gubernur sementara Provinsi Perjuangan Irian Barat melalui SK Presiden RI Nomor 142 Tahun 1956, tertanggal 23 September 1956 di Soasiu, Tidore. Penetapan itu didasarkan pada fakta historis bahwa hingga akhir abad ke-19, wilayah Irian merupakan bagian dari Kesultanan Tidore, sehingga Indonesia menegaskan tidak ada alasan bagi Belanda untuk menolaknya sebagai bagian dari NKRI.
Selanjutnya, lewat SK Presiden RI Nomor 220 Tahun 1961 tanggal 4 Mei 1961, Sultan Zainal Abidin Syah ditetapkan sebagai Gubernur tetap Provinsi Irian Barat.
Sikap Tegas di Tengah Tekanan Belanda
Zainal Abidin Syah dihormati masyarakat Papua sebagai tokoh yang memiliki nasionalisme dan patriotisme kuat. Pada Februari 1949, ia diundang Pemerintah Belanda untuk berkunjung ke Manokwari, Irian Barat. Dalam pertemuan itu, Belanda mengajak Sultan Zainal Abidin bekerja sama dan bergabung dengan mereka.
Ia bahkan dibujuk untuk menandatangani satu pernyataan yang telah disiapkan Belanda, yang pada intinya menyerahkan Irian Barat kepada Pemerintah Belanda. Sebagai imbalan, Belanda menjanjikan kehidupan yang terjamin bagi seluruh anggota kesultanan.
Namun, Sultan Zainal Abidin Syah dengan tegas menolak tawaran tersebut.
Usai masa jabatannya berakhir pada 1961, ia tinggal di Ambon hingga wafat pada 4 Juli 1967. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon.
Pada 11 Maret 1986, pihak Kesultanan Tidore memindahkan kerangka Sultan Zainal Abidin Syah ke Soa Sio Tidore dan disemayamkan di Sonyine Salaka (Pelataran Emas) Kedaton Kie Soa-Sio sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan dan jasa-jasanya.
Artikel ini tayang di Serambinews.com dengan judul Profil Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore Pahlawan Nasional Baru, Gubernur Pertama Papua
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.