Nyali Besar Sultan Aji Muhammad Idris, Pahlawan Nasional Pertama dari Kalimantan Timur
Presiden Prabowo Subianto menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh yang berjasa bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan pada Senin, 10 November 2025.
Dari sekian banyak, baru satu tokoh asal Kalimantan Timur (Kaltim) yang mendapat title terhormat. Namanya Sultan Aji Muhammad Idris. Perjuangan untuk mendapatkan pengakuan ini memakan waktu lebih dari dua dekade.
Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 109/TK/2021 yang ditetapkan pada 10 November 2021, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Sultan Aji Muhammad Idris dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dikutip dari buku berjudul Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris karya Suriadi dkk., Sultan Aji Muhammad Idris adalah Sultan ke-14 dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang memerintah sejak 1735 hingga 1778, sultan pertama yang menggunakan nama Islam semenjak masuknya agama Islam di Kesultanan Kutai Kartanegara pada abad ke-17.
Meski begitu, Sultan Aji Muhammad Idris tidak puas hanya memerintah dari istana. Ia menyadari bahwa ancaman terbesar saat itu bukan datang dari dalam, melainkan dari kekuatan asing yang makin mencengkeram, yaitu VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Dirinya juga menjalin hubungan politik dan militer dengan La Maddukelleng, bangsawan Wajo dari Sulawesi Selatan, yang pada akhirnya menikahi cucu La Maddukelleng pada 1732, yang kemudian menjadi titik awal aliansi penting dalam menghadapi penjajahan.
Ketika melihat kekejaman dan keserakahan VOC di wilayah Sulawesi Selatan, Sultan Aji Muhammad Idris memilih untuk turun langsung membantu mertuanya, La Maddukelleng dalam perjuangan bersenjata. Ia mengorbankan kenyamanan singgasananya dan memimpin langsung ekspedisi militer melawan Belanda.
Di bawah komandonya, pasukan Kutai, Pasir, Sambaliung, dan Pangatan dipersiapkan untuk bertempur. Ia juga aktif mengoordinasikan pengadaan senjata dan mesiu dari berbagai wilayah seperti Brunei (Darussalam) dan Mindanao (Filipina selatan).
Bahkan, pada 1736 dan 1737, Sultan Aji Muhammad Idris memimpin serangan langsung ke benteng VOC di Makassar, termasuk Fort Rotterdam.
Peristiwa ini merupakan bentuk tindakan yang sangat berani darinya mengingat kekuatan VOC saat itu sangat dominan di kawasan maritim.
Namun sayang, pada 1739, ia dilaporkan gugur di tanah Wajo, wilayah kerajaan mertuanya, dalam sebuah pertempuran atau kemungkinan besar saat memimpin gerakan terakhir melawan VOC bersama rakyat Bugis.
Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur (Kaltim) meletakkan kekuasaan dan kenyamanan demi prinsip kemerdekaan rakyat dan martabat negeri. Beberapa nilai luhur yang melekat dalam perjuangannya antara lain:
- Keberanian melawan penjajah, meski harus kehilangan tahta dan nyawa.
- Diplomasi dan persatuan, ditunjukkan lewat aliansi antarkerajaan.
- Semangat pengorbanan, menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau dinasti.